Makan Sehari Sekali, Dedi Keliling Jual Sepatu dari Jakarta hingga Manokwari: Demi Anak Sekolah

by -475 views

Demi menafkahi keluarga, Dedi (35) menjual sepatu hingga keliling Kalimantan dan Manokwari.

Menjamurnya toko online membuat keberadaan penjual sepatu keliling seperti Dedi semakin tersisihkan.

Harga jual yang masih terbilang lebih mahal ketimbang online menjadi kendala tersendiri untuk memikat pembeli.

Meski senyum dan ucapan yang ramah kerap dilontarkan oleh Dedi, tetap saja tak membuat pembeli tertarik.

Beberapa dari mereka justru menolak halus dengan mengatakan, “maaf atau enggak ya bang.”

Kata-kata itu sering sekali didengar Dedi yang menjajakan dagangannya dari satu rumah ke rumah lain.

Melihat kondisi yang terus seperti ini, para penjual sepatu keliling tak lantas berdiam diri, Dedi misalnya.

Ketika mencari nafkah di ibu kota terasa sulit, Dedi merantau ke Kalimantan dan Manokwari selama beberapa bulan.

“Dari tahun 2000 saya sudah merantau ke Jakarta dari Sukabumi,” ucap Dedi saat ditemui di Jakarta Timur, Rabu (25/12/2019).

“Tapi karena penjualan semakin sepi akhirnya saya putuskan untuk merantau ke luar daerah lagi,” imbuh dia.

Menggunakan tas besar, Dedi membawa puluhan pasang sepatu dan sendal dengan berat sekitar 15 kilogram.

Membawa beban yang begitu berat membuat tubuhnya sedikit miring dan tak dapat berdiri tegap.

Kendati demikian, Dedi mengatakan sepatu yang dibawanya itu bukanlah miliknya melainkan milik bos.

Ia mengambil puluhan pasang sepatu tersebut di kawasan Ciracas.

Selanjutnya ia jajakan keliling Jakarta.

Penghasilan yang didapat dari keuntungan per sepatu, akhirnya membuat Dedi semakin semangat bekerja.

Hal ini terbukti dari dirinya yang merantau ke Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Manokwari.

Dengan modal pinjam dari bos, akhirnya Dedi berangkat ke Kalimantan di tahun 2000-an dan ke Manokwari di tahun 2018 lalu.

“Saya dipinjamkan modal gitu sama bos tapi diganti. Alhamdulillahnya di Kalimantan sama Manokwari selalu ramai.”

“Sehari bisa dapat Rp 200 ribu lebih. Jadi bisa ketutup buat ganti uang ke bos,” sambungnya.

Penghasilan ini tentunya berbanding terbalik dengan dirinya ketika berada di Jakarta.

“Saya di sana bisa setahun atau 6 bulan lah minimal. Soalnya kalau di Jakarta penghasilan saya miris.”

“Kadang cuma dapat Rp 30 ribu aja setelah keliling jauh,” jelasnya.

Berbekal komunikasi melalui handphone jadul, Dedi akan segera berangkat ke Kaliamantan atau Manokwari.

Namum ia harus menunggu rekannya di daerah tersebut menghubunginya.

“Selepas dari Manokwari saya cari uang di Jakarta aja. Karena belum ada arahan ke Kalimantan atau Manokwari lagi dari teman saya.”

“Mereka justru telepon bilangnya jangan ke sini dulu, lagi sepi. Kan mereka kenalan saya ketika di sana,” ungkapnya.

Makan Sehari Sekali
Kembali lagi menyambung hidup di Jakarta, membuat hari-hari Dedi terasa sulit.

Saingan online yang begitu pesat, membuatnya harus menghemat uang untuk kehidupannya.

Ia pun harus menyiapkan uang ketika sewaktu-waktu jualannya tak laku terjual sama sekali.

Sehingga untuk makan, Dedi tak pernah makan lebih dari satu kali setiap harinya.

“Cuma makan sekali. Makan sekali aja alhamdulillah. Sebab saya punya 5 anak di kampung.”

“Tapi sisa 3, sebab yang 1 sudah menikah dan 1 nya lagi sudah kerja di Depok.”

“Jadi uangnya harus diputer terus,” katanya.

Kegagalan di anak pertama dan kedua yang putus sekolah akibat biaya, tak ingin lagi dirasakan Dedi.

Sehingga ia rela hanya makan sekali bahkan tak makan sama sekali ketika tak ada uang demi membiayai anaknya sekolah.

“Anak-anak penyemangat hidup saya. Jadi saya rela cari informasi ke daerah mana aja yang jualan ramai demi biayai anak sekolah.”

“Anak ke-3 sudah SMA dan pesantren sisanya masih SD. Harapan saya semoga bisa sekolahkan mereka sampai lulus SMA,” tandasnya.

Sumber: tribunnews.com

loading...
loading...