Mahasiswa Asal Medan Ini Tak Malu Kumpulkan Minyak Kotor, Demi Biaya Kuliah dan Uang Sekolah Adik

by

Daniel Horas Panjaitan, Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, Universitas Negeri Medan mampu membiayai biaya kuliahnya dan biaya sekolah adek-adeknya dengan mengeluti bisnis pengumpulan minyak kotor atau yang sering disebut minyak jelantah.

Daniel Horas Panjaitan berasal dari keluarga yang sederhana, dimana ayahnya hanyalah seorang montir di bengkel, dan hal inilah yang memacunya untuk mengeluti bisnis tersebut, dan sudah meraih banyak hal yang tidak bisa dilakukan teman-temanya.

Dilansir Tribun Medan dari Kompasiana, Daniel mulai menggeluti bisnis ini ketika dia bertemu dengan Thomson Cyrus.

Thomson Cyrus ini adalah penulis di Kompasiana tersebut.

“Awalnya berdiskusi antar sesama keluarga, lalu saya tawarkan dia untuk mengumpulkan minyak jelantah di sekitar kota Medan. Saat pertama kali mendengar, dia ragu, termenung, lalu seperti terpaksa menyetujui usaha sampingan itu,” tulis Thomson.

Setelah pertemuan tersebut dan beberapa pembelajaran mendapatkan apa yang harus dilakukan untuk menjalankan bisnis tersebut diterima Daniel dari Thomson, usaha ini pun dijalankan Daniel dengan selalu berkomunikasi dengan Thomson dari telepon maupun tatap muka.

“Mentalitas yang baru beranjak dewasa dari remaja, saat pertama kali mengerjakan pengumpulan jelantah ini, tentulah sangat berat,” tulis Thomson.

Menurut Thomson diawal usaha, Daniel merasa sangat berat dan sangat susah, apalagi keduanya dibedakan oleh jarak, yang mempengaruhi kualitas komunikasi.

“Hampir setahun berlalu, jumlah pelanggan yang dia tangani tidak berkembang seperti yang diharapkan. Usut punya usut, tekanan psikologis terlalu berat menekan gerak dan langkahnya,” tulisnya.

Cerita Thomson, beragam motivasi pun diberikannya kepada Daniel yang sempat nyaris menyerah atas usahanya tersebut.

“Tiga tahun yang lalu, dia datang ke Jakarta, jalan-jalan sekaligus belajar berbagai hal. Bagaimana memenangkan customer di lapangan.”

“Dari banyak hal yang kami diskusikan, satu yang saya ambil masalah yang paling utama ialah bahwa Daniel tidak bangga melakukan pekerjaan itu.”

“Dia merasa malu dan masih merasa terpaksa melakukannya. Sekitar satu jam kami diskusi dari hati ke hati, dia tertunduk.”

“Saat itu saya katakan, apa yang mesti kamu malukan? Mana lebih malu kamu, putus sekolah karena biaya tidak ada.”

“Daripada kamu mengangkat jelantah tetapi kamu bisa mendapatkan uang. Sekolahmu bisa lulus, uang sekolahmu bisa kamu bayar dengan baik.”

“Bahkan di saat teman temanmu masih minta jatah tiap bulan dari orangtuanya kamu sudah bisa membayar teman mu makan bakso di kampus dari hasil jelantah.”

“Bukankah itu suatu kebanggan bagi kamu, apa yang perlu kamu malukan dari hasil kerja keras? Bukankah kamu bangga punya penghasilan sendiri saat kuliah.”

“Jangan malu kawan, justru kamu harus bangga. Justru kamu bisa jadi inspirasi bagi anak muda Indonesia.”

“Di zaman now ini, kamu bisa jadi inspirasi bagi generasimu. Kamu bukanlah anak muda yang cengeng, kamu bukanlah anak muda yang gampang menyerah….bla…bla…. dan ratusan kata kata motivasi yang saya lakukan saat itu.”

Setelah seminggu berada di Jakarta dan mendapat motivasi saat berdiskusi dengan Thomson, Daniel kembali ke Medan dengan motivasi yang berbeda.

“Setelah itu, Daniel Horas bekerja dengan semangat baru, cara pandang baru dan dengan metode yang baru. Yang terutama dia memiliki mentalitas baru.Mentalitas juara, mentalitas bangga berusaha sembari kuliah,” kata Thomson.

Saat ini, Daniel Horas Panjaitan sedang menyusun skripsi untuk menyelasaikan kuliahnya. Tiga tahun terakhir, volume transaksi yang dia kumpulkan setiap bulan di atas 10 ton per bulan di kota Medan.

Thomson menuliskan banyak hal dalam masa muda Daniel yang berkurang, namun diganjar dengan keberhasilan di masa depan.

“Usaha tersebut dia lakukan sambil kuliah. Mungkin banyak hal yang hilang dalam dirinya. Waktunya nongkrong akan berkurang dengan teman temannya.”

“Waktunya untuk memperhatikan wanita juga pasti akan berkurang. Capek iya, tapi dia punya masa depan yang bagus.”

“Tiga tahun terakhir, Daniel Horas Panjaitan telah memiliki penghasilan kotor diatas 10 juta setiap bulan sambil kuliah.”

Thomson mengutarakan bahwa dia menuliskan kisah Daniel karena ingin berbagai inspirasi bagi anak muda yang mungkin terbatas secara ekonomi, tetapi punya cita cita yang lebih tinggi.

“Cerita sukses Daniel Horas Panjaitan, mungkin tidak se-wow cerita sukses orang lain. Tapi ini, pasti berguna bagi mereka mereka yang butuh peluang usaha dan motivasi diri,” ujar Daniel.

Menurut Thomson, saat ini dari hasil usaha jelantah (minyak goreng bekas), Daniel Horas Panjaitan telah memiliki beberapa aset dan pencapaian untuk ukuran seorang mahasiswa yang tanpa modal, diantaranya:

Pertama, Dia telah memiliki sebuah mobil angkutan barang berjenis pick up box yang dia beli dari hasil mencicil setiap bulan dan telah lunas.

Kedua, Dia telah mampu membeli motor sendiri untuk aktifitasnya ke kampus dan bekerja dengan hasil keringatnya mengumpulkan jelantah.

Ketiga, Dia telah mampu mempekerjakan orang lain membantunya mengangkat minyak setiap hari.

Keempat, Dia telah mampu membayar uang kuliahnya sendiri dan kebutuhannya selama kuliah bahkan membantu membayar uang sekolah adek adeknya dari hasil usaha jelantahnya.

Kelima, Dia telah mampu membayar keluarganya makan di resto resto yang familiar tanpa merasa takut dan malu lagi.

Keenam, Dia juga telah mampu membayar sesekali teman temannya makan bakso bersama, atau ngopi bersama tanpa takut kehilangan uang bulanan.

Ketujuh, Dan masih banyak lagi cerita sukses yang tentunya tidak akan bisa dia lakukan selama 3 tahun terakhir ini tanpa bekerja keras mengumpulkan jelantah.

Dari semua pencapaian kata Thomson, Daniel tidak malu lagi sekarang sebagai entrepreneur muda, yang jika terus dikembangkan dapat menjadi salah satu pengusaha sukses di masa depan.

“Menciptakan Daniel Daniel Horas sebanyak mungkinlah yang harus dilakukan Negara dan bangsa ini agar kita mampu bersaing dengan Negara lain di dunia,” tulisnya.

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...