Lulusan Kebidanan di Kupang Jadi Tukang Ojek Online, Antar Makanan yang Pesan Ternyata Teman Kuliah

by -8,858 views

Tidak pernah terlintas di benak Elsa Sine, ia akan menjadi tukang ojek online (grab). Sejak remaja gadis kelahiran Oesapa 11 April 1996 ini bercita-cita menjadi seorang bidan.

Setelah lulus dari STIKes Citra Hussada Mandiri Kupang (sekarang Universitas Citra Bangsa Kupang) jurusan Kebidanan pada tahun 2017, Elsa mondar-mondir di Kota Kupang cari pekerjaan.

Warga Jl. Soeratim Kelurahan Oesapa, Kota Kupang ini sudah keluar masuk di berbagai Puskesmas dan Rumah Sakit untuk melamar.

Tahun 2018 Ia pernah hijrah ke Kabupaten Rote Ndao untuk ikut CPNSD namun gagal. CPNSD berikutnya di Kota Kupang, lagi-lagi Elsa gagal.

Elsa kian gundah. Namun ia ingin mandiri, tidak mau membebani kedua orangtuanya, apalagi saat ini orangtuanya harus membiayai empat adiknya yang masih kuliah dan sekolah.

“Kami enam orang, kakak sudah kerja adik masih kuliah dan sekolah. Saya sudah mencari pekerjaan ke sana kemari tapi tak kunjung dapat. Saya sedih, saya belum bisa membahagiakan orangtua,” ungkap Elsa kepada POS-KUPANG.COM, Minggu (8/3/2020).

Tapi Elsa bukan pribadi yang mudah putus asa. Awal tahun 2019, Elsa mendaftar menjadi driver ojek online. “Saya tau ini berat untuk saya tapi saya harus bekerja,” ungkapnya.

Sebelum mendaftar Elsa sempat berdiskusi dengan ayah dan ibunya. Ia takut jangan-jangan orangtuanya malu lalu tidak mengizinkan, sebab ayah Elsa merupakan PNS di Dinas PU Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Bapa bilang kenapa harus grab, saya jawab daripada saya nganggur. Saya malu harus bergantung pada orangtua terus. Saya tahu bapak PNS, tapi saya mau mandiri, cari uang sendiri. Eh akhirnya bapak setuju,” ungkap Elsa.

Menjadi driver ojek online, Elsa mengaku pernah punya pengalaman yang membuatnya malu, trenyuh dan nyaris memutuskan berhenti jadi driver ojek online.

Kisahnya, Elsa pernah mendapat order mengantar makanan ke Rumah Sakit Dedari Kota Kupang, ternyata yang pesan adalah teman-teman kuliahnya yang sudah bekerja sebagai bidan.

“Mereka ada kerja, pakai pakaian putih lambang Bhakti Hussada sementara saya dengan jaket grab. Itu memang bikin hati trenyuh,” kata Elsa.

Bertemu dengan teman-temanmya Elsa berusaha menutupi rasa sedih dan malu. Dalam hatinya Elsa berkata, ‘Kapan Tuhan mau jawab doa saya untuk bisa bekerja sebagai bidan’.

“Teman kaget, dia tanya eh kamu su grab? Saya jawab iya sambil tertawa. Saya sedih dan malu tapi berusaha tegas dengan diri saya sendiri, saya tidak boleh baper,” kata Elsa.

“Tapi Tuhan itu penyayang di saat saya merasa malu dan sedih seperti itu, ada orang-orang yang selalu mendukung dan memberi apresiasi untuk saya. Orang-orang itu adalah penumpang saya,” tambahnya.

Dukungan dari para penumpang membuat Elsa kian tegar. Ketika ada yang bertanya apakah tidak malu jadi tukang ojek online, Elsa berani menjawab dengan enteng, ‘Saya tidak malu, selagi apa yang saya kerjakan ini halal,’.

Elsa mengatakan ia bangga, sejak menjadi driver ojek online ia bisa memenuhi kebutuhannya, memiliki motor dan sedikit membantu memenuhi kebutuhan dalam keluarga.

Pendapatan Elsa setiap hari berkisar 200 hingga 250 ribu rupiah. Elsa biasanya mangkal di samping KFC Jl. Frans Seda Kota Kupang. Sebelum berangkat kerja Elsa membantu ibunya memasak dan membereskan rumah. “Biasanya saya ngojek dari jam 9 pagi sampe jam 7 malam,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, Elsa merasa nyaman menjadi driver ojek online. Ia juga mendapat dukungan dari teman-teman grabnya.

“Di sini saya mengerti arti sebuah perjuangan, mendapatkan uang seribu rupiah saja bukan perkara mudah,” kata Elsa.

Sumber: tribunnews.com

loading...
loading...