Lala Pingsan Saat Dengar Dua Anak Kandungnya Diduga Dibunuh Suaminya Sendiri

by -6,284 views

Lala (35) tak bisa mengucap sepatah kata saat dijumpai Warta Kota di kediamannya, Balaraja, Kabupaten Tangerang, Jumat (12/6/2020).

Ia hanya berdiam diri di dalam kamar orangtuanya. Tubuh Lala gemetar.

Ibu beranak dua itu tampak lemas. Raut wajahnya pucat. Matanya terlihat sembab.

Dirinya sudah tak kuasa menahan sedih. Setelah suaminya bernama Robi (37) secara sadis membunuh kedua anak kandungnya sendiri.

Setelah melancarkan aksi bengisnya itu, Robi pun mengakhiri hidupnya. Lelaki berusia 37 tahun ini tewas dengan cara gantung diri.

“Dia (Lala) masih belum bisa ngomong, trauma,” ujar satu dari anggota keluarganya saat ditemui Warta Kota di kediamannya, Balaraja, Kabupaten Tangerang, Jumat (12/6/2020).

Menurutnya Lala tengah dalam kondisi shock berat. Bahkan ia sempat tak sadarkan diri.

“Pingsan terus menerus,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan oleh Kapolresta Tangerang, Kombes Ade Ary Syam. Ade menjelaskan istri pelaku saat ini memang bisa dimintai keterangan.

“Istrinya pingsan terus. Masih trauma berat. Kami akan lakukan trauma healing untuk menyembuhkan psikisnya agar pulih kembali,” kata Ade.

Tanggapan Psikolog
Peristiwa tragis terjadi saat seorang ayah diduga nekat gantung diri setelah menghabisi dua anak kandungnya yang berusia 14 tahun dan 3 tahun di Balaraja, Tangerang.

Kejadian ini diketahui, Kamis (11/6/2020) dinihari.

Dari hasil penyelidikan polisi, diketahui sebelum kejadian, sang ayah yang merupakan pengepul barang bekas, ribut dengan istrinya, atau ibu kandung dari dua anak yang dibunuhnya.

Pemicu keributan diduga karena masalah ekonomi.

Melihat fenomena ini, pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan Investigasi perlu disandarkan pada three level analysis.

“Pertama, pemicunya apakah keributan terakhir antara pelaku dan istri; perilaku anak-anak selaku korban, sesaat sebelum mereka dihabisi; serta ada tidaknya konsumsi obat-obatan yang menghilangkan kesadaran sesaat sebelum aksi pembunuhan dilakukan,” kata Reza kepada Warta Kota, Kamis (11/6/2020).

Kedua katanya adalah pembiasaan, yakni misalnya kemelaratan secara ekonomi atau konflik berkepanjangan.

Dan yang mendasar ujar Reza, gangguan pengendalian emosi seperti kecerdasan yang kurang atau masalah kejiwaan serius.

“Cek juga kemungkinan guncangan emosional yang ekstrim. Pembelaan diri semacam itu terpenuhi jika aksi didahului provokasi eksternal. Bisa dari anak-anak, maupun dari istri atau pihak lainnya,” kata Reza.

Jika provokasi datang dari anak-anak, menurut Reza, maka anak-anak merupakan sasaran aktual. “Jika provokasi dari istri, maka anak-anak adalah sasaran pengganti atau displacement,” kata Reza.

“Selain itu, tidak ada atau sangat dekat jarak waktu antara provokasi eksternal tersebut dan aksi pembunuhan atau no cooling-off period, juga perlu diamati,” kata Reza.

Dari semua analisa atas kejadian itu kata Reza diharapkan, semua pihak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini.

Seperti diketahui, peristiwa tragis terjadi saat seorang ayah diduga nekat gantung diri setelah menghabisi dua anak kandungnya di Balaraja, Tangerang.

Sumber: tribunnews.com

loading...
loading...