Kisah Tuti, Ibu Dari 100 Kucing Telantar di Denpasar: Ambil di Jalan Hingga Tebus ke Orang Lain

by -661 views

Di kediaman Tuti Supriapti (45) di Jalan By Pass Ngurah Rai No 26 A, Denpasar, Bali, tampak puluhan kucing berkeliaran bebas di sekitar rumah.

Kucing-kucing ini nampak sehat dan terawat.

Naik ke lantai dua di sebuah ruangan, rupanya Tuti merawat hampir 100 ekor kucing lebih dari berbagai jenis. Sebagian besar jenis kucing kampung dan persia.

Tuti mengatakan, kucing-kucing ini didapatnya dari memungut di jalan, mengambil di pasar, dan menebus dari orang yang enggan merawat.

Kucing-kucing ini ia ambil dalam keadaan sakit sehingga ditelantarkan dan dibuang pemiliknya.

“Ini kucing liar, kucing sakit yang dibuang. Saya ambil dari pasar, nebus ke orang,” ceritanya kepada Kompas.com, Minggu (22/12/2019).

Tuti menceritakan, beberapa kucing yang diambilnya dalam kondisi sakit parah.

Ada seekor kucing yang ia namai Roni, menderita luka yang cukup parah di lehernya. Bahkan hingga berlubang dan banyak belatungnya.

Kemudian ada yang terkena tumor dan berlubang di bagian lehernya juga. Kucing lainnya ia selamatkan karena kakinya terkena luka tembak senapan angin.

Kaki kucing tersebut harus diamputasi karena sudah membusuk.

Kemudian ada kucing yang ia namai Mario dikurung di kos-kosan selama 3 bulan tanpa diberi makanan.

Saat ia selamatkan, kucing tersebut kurus karena bertahan hidup hanya dengan meminum air di toilet.

“Ada tiga ekor dan dua sudah mati badannya kurus. dia hidup dari minum air di toilet,” ceritanya.

Tuti mulai merawat kucing-kucing itu sejak enam tahun lalu. Saat itu, awalnya ia membuka jasa penitipan kucing dan hanya memelihara dua kucing.

Ia lalu aktif dan beeinteraksi di grup media sosial pecinta kucing. Dari sana, ia tahu ternyata di Denpasar banyak kucing-kucung telantar yang dibuang pemiliknya karena dalam kondisi sakit.

“Akhirnya saya selamatkan dan tak lagi buka penitipan,” tuturnya.

Selama enam tahun tersebut, ada 100 ekor lebih kucing yang ia rawat sekarang. Untuk perawatannya ia harus memandikan semuanya setidaknya tiga bulan sekali.

Sementara untuk biaya makannya, ia harus merogoh kocek hampir Rp 500.000 setiap dua hari.

Uang tersebut untuk membeli makanan kucing seberat 7 kilogram yang hanya habis dalam dua hari.

Dengan jumlah 100 ekor lebih, kini Tuti tak lagi menerima kucing-kucing yang diberikan orang. Kecuali, kucing-kucing yang memang kondisinya sangat parah.

Selain itu, ia juga tak mau memberikan kucing-kucingnya kepada orang yang berniat mengadopsi. Ia kapok karena beberapa kucing yang pernah diadopsi berakhir mati hingga sakit parah.

Sumber: kompas.com

loading...
loading...