Kisah Suami Diperkosa Istrinya Selama 10 Tahun: ‘Dicakar Sampai Berdarah dan Ditonjok’

by -33,257 views

Mayoritas kekerasan rumah tangga dilaporkan oleh perempuan. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sepertiga perempuan dan anak perempuan di dunia mengalami kekerasan seksual atau fisik di masa hidupnya.

Kekerasan terhadap pasangan atau anggota keluarga laki-laki tidak banyak terjadi dan juga jarang dibicarakan.

Kekerasan domestik terhadap pria dipandang tabu di banyak negara, dan korbannya sering kali harus menghadapinya sendiri.

Seorang pria dari Ukraina, yang tak mau menyebutkan namanya, berbagi ceritanya kepada BBC. Ini adalah kisahnya, dan saran dari ahli tentang bagaimana mengenali tanda-tanda dan bagaimana menghadapi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Cinta Pertama Saya
Saya tidak tahu apakah teman-teman saya curiga. Semuanya terlihat baik-baik saja dari luar: kami sering tersenyum, punya banyak teman, banyak uang, bahagia, dan kami percaya diri. Kami bepergian bersama ke setengah bagian dunia.

Saya tidak takut dengannya ketika kami bepergian, dia tidak akan menyakiti saya di hadapan orang lain. Yang paling saya hindari adalah ketika saya bersamanya sendiri.

Baru belakangan ini saya sadar bahwa mantan istri saya telah memperkosa saya selama 10 tahun.

Ira adalah cinta pertama saya. Kami bertemu ketika kami masih berusia awal 20-an tahun. Dia yang pertama kali mengajak saya kencan. Orang tua saya mengatakan saya harus keluar rumah secepatnya jika saya mulai pacaran. Dengan kata lain, berpasangan dengan orang lain berarti saya harus melepas keluarga dan rumah yang menaungi saya.

Dalam satu hari saya kehilangan semuanya. Momen itu menakutkan bagi saya. Jadi saya baru bisa pacaran ketika saya punya cukup tabungan untuk berpisah dengan keluarga.

Kepercayaan Diri yang Rendah
Di samping itu, ibu saya malu dengan penampilan saya. Saya dulu punya kepercayaan diri yang rendah.

Pengalaman seksual pertama saya adalah dengan Ira, dan saat itu, saya memang ingin melakukannya. Namun itu tidaklah normal: rasanya sakit dan agresif. Hubungan seksual pertama kami berlangsung sekitar lima jam, dan saya merasa sakit setelahnya.

Dia sepertinya punya tujuan tersendiri, bahwa setiap hubungan seksual harus berakhir dengan sperma. Ia akan terus membantu saya sampai saya selesai, biasanya berlangsung satu sampai dua jam.

Seks harusnya menyenangkan, tapi tidak untuk saya. Saya tidak berpengalaman dan saya dulu menganggap bahwa seks adalah seperti itu, jadi saya selalu mengiyakan.

Namun dalam waktu singkat saya bilang “tidak.” Itu tidak menghentikannya, dan saat itulah hubungan seks kami berubah menjadi perkosaan.

Saya Terjebak
Saya harus pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnis dalam waktu lama. Saya takut kehilangan Ira, jadi saya mengajaknya. Saya bahkan mengajaknya menikah. Ia menolak, tapi ia tetap ikut saya. Itulah awalnya.

Saya capek setelah bekerja dan ingin istirahat, tapi ia mulai menuntut untuk berhubungan seks. Saya menyetujuinya satu kali, dua kali… Ia lalu berkata, “Saya ingin, saya butuh, jadi kamu harus, ayolah, saya sudah menunggu lama.” Saya menjawabnya, “Tidak, saya tidak ingin melakukannya, saya ingin istirahat, saya capek.”

Ia lalu memukul saya dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mencakar saya sampai saya berdarah, ia juga menonjok saya. Ia tidak akan menonjok muka saya, hanya bagian yang tertutup seperti dada, punggung, dan tangan saya.

Saya tidak melawan karena menurut saya memukul perempuan adalah tindakan yang agresif dan salah. Begitulah saya dididik orang tua. Saya merasa kecil, lemah, dan terjebak. Ia akan mendapat apa yang ia mau dan ia biasanya berada di posisi atas.

Satu waktu, saya mencoba menyewa kamar untuk saya sendiri di hotel. Tapi saya tidak bisa bahasa setempat, jadi resepsionis hotel tidak mengerti saya. Saya pun terjebak bersamanya. Saya takut kembali ke hotel setelah saya kerja, jadi saya biasanya jalan-jalan di mall sampai tutup.

Setelah itu saya jalan-jalan sekeliling kota. Saat itu musim gugur, jadi cuaca dingin dan basah, dan saya tidak membawa baju hangat. Saya pun terkena infeksi saluran kemih, prostatitis, dan demam. Tapi hal itu tidak menghalangi Ira, saya harus melakukan apa yang dia mau.

Akhir pekan adalah saat yang paling parah. Saya diperkosa Sabtu pagi dan Minggu malam. Saya menghitung hari sampai saya bisa kembali ke Ukraina. Saya pikir dengan kembali ke sana kami akan putus–tapi saya salah.

Saya mencoba kabur tapi saya menyerah
Saya lalu kembali ke rumah orang tua saya dan tidak berencana menghubungi Ira, apalagi tinggal dengannya. Tapi upaya saya untuk menghindari Ira berlarut sampai bertahun-tahun.

Kami sering bertengkar, dan saya mematikan telepon dan memblokirnya di platform manapun. Saya biasanya sembunyi tapi ia akan mendatangi saya dan duduk di sisi lain pintu. Ia menelpon saya dan berjanji bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Saya pun selalu kembali ke Ira, setiap saat. Saya sangat takut sendiri.

Pada awalnya, saya sering mencoba untuk putus dengannya, tapi lama-kelamaan saya menyerah. Ia berkeras kita menikah, dan kami pun menikah meskipun saya tidak mau.

Ira cemburu dengan siapa saja: teman-teman saya, keluarga saya. Ke manapun saya pergi saya harus menelponnya.

“Kenapa saya menghadiri konferensi itu?” “Kenapa saya bertemu teman ini?” Saya harus bersamanya, dalam genggamannya. Ia tidak bisa pergi ke mana-mana tanpa saya–saya semacam sumber hiburan baginya.

Ira tidak bekerja. Saya yang bekerja, masak, dan bersih-bersih. Kami menyewa apartemen besar dengan dua kamar mandi. Saya dilarang memakai kamar mandi utama dan harus memakai kamar mandi tamu. Setiap pagi saya harus menunggu sampai ia bangun tidur pukul sembilan atau sepuluh pagi, kalau tidak saya akan mengganggunya.

Ia memutuskan kalau kami harus tidur di kamar yang berbeda, di mana kamar saya tidak ada kuncinya, jadi saya tidak bisa sendiri.

Kalau saya berbuat ‘salah’, ia akan berteriak dan memukul saya. Ini terjadi sekali sehari atau setiap dua hari sekali. Apapun yang terjadi, dia selalu menyalahkan saya. Ia terus berkata pria macam apa yang ia butuhkan dan apa yang seharusnya pria itu lakukan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya melakukan apapun yang dimintanya untuk menghindari kemarahannya–dan ini yang terjadi berikutnya.

Saya ingat turun tangga dan duduk di mobil, menangis. Ia berjalan dan melihat saya. Ketika saya pulang ke rumah, ia mengatakan ia sangat menyesal, tapi ia tidak bisa berhenti. Jadi semuanya akan terulang di hari berikutnya. Apapun yang saya lakukan, dan apapun yang saya rasakan, tidak ada yang berubah.

Saya juga tidak sempurna. Untuk menghindari semua ini, saya biasa bekerja selama 10, 12, 14 jam sehari, pada akhir pekan atau liburan. Pilihannya mudah bagi saya–beberapa orang memilih minum, saya memilih bekerja.

Sumber: bbc.com

loading...
loading...