Kisah Pilu Para Korban Brenton Tarrant, Sebelum Ditembak Malah Ucapkan ‘Halo Saudaraku’

by -3,697 views

Tragedi penembakan brutal di dua masjid di Selandia Baru, Jumat (15/3/2019), masih menyisakan duka bagi publik dunia.

Brenton Tarrant (28), seorang pria kulit putih asal Australia, secara biadab menembaki jamaah Salat Jumat di masjid.

Sebanyak 49 orang meninggal dunia, dan puluhan lainnya luka serius. Tragedi penembakan itu pun menyisakan kisah-kisah pilu.

Disarikan dari sejumlah sumber, Tribunnews.com mengumpulkan kisah-kisah tersebut:

1. Hello Brother
Tagar #HelloBrother sempat menjadi trending di Twitter.

Tagar ini ternyata berasal dari kisah pilu korban pertama Brenton Tarrant, seorang pria 71 tahun bernama Daoud Nabi.

Haji Daoud Nabi adalah orang pertama yang ditemui oleh Brenton Tarrant di pintu masjid An Noor, Christchurch, Selandia Baru.

H Daoud Nabi

Yang memilukan, saat melihat Brenton Tarrant membawa senjata laras panjang, Daoud malah menyapa Brenton dengan kalimat: “Hello, brother (Halo, saudaraku),”

Kalimat itu pun menjadi kalimat terakhir Daoud, karena setelah itu Brenton langsung menembak mati Daoud.

2. Keberanian Naeem Rashid
Tak ada yang menyangka bila Jumat (15/3/2019) itu akan menjadi Jumat terkelam di sejarah Selandia Baru.

Maka itulah, Naeem Rashid dan anaknya, Talha (21), seperti muslim lainnya, pergi ke masjid di Kota Christchurch, untuk menunaikan Salat Jumat.

Naeem Rashid

Hingga akhirnya terjadilah serangan berdarah Brenton Tarrant.

Saat terjadi serangan, banyak orang melarikan diri dengan segala cara.

Tapi Naeem memberanikan diri menerjang Brenton, meski dia tak punya satu senjata pun.

Naeem melawan guna melindungi putranya dari petaka di hari Jumat itu.

Naeem terluka kena tembakan, dan akhirnya meninggal di rumah sakit.

Yang menyedihkan, sang putra, Talha, yang dia lindungi, juga meninggal akibat serangan tersebut.

3. Jill Menangis di Depan Wartawan
Sebuah rekaman wawancara dari BBC di dekat lokasi penembakan, sempat menjadi viral di media sosial.

Saat itu, reporter BBC mewawancarai seorang warga setempat, seorang wanita kulit putih bernama Jill Keats (66).

Jill, tak kuasa menanhan tangis saat diwawancara.

Dia mengaku sangat bersedih, karena satu korban yang hendak diselamatkannya, pada akhirnya meninggal.

Saat terjadinya penembakan, Jill tengah mengendarai mobil di sekitar lokasi. Dia saat itu sebenarnya hendak menuju pusat perbelanjaan.

Saat melintas masjid An Noor, Jill melihat seorang pria berlari menyeberang jalan.

Dia juga mendengar suara tembakan, yang awalnya dia pikir suara petasan. Saat itu juga, Jill menghentikan mobilnya.

Satu pria, dengan luka tembak di punggung, kemudian bersandar mencari perlindungan di balik mobilnya.

Jill mencari kotak obat-obatan darurat di mobilnya, hingga dia menemukan perban.

Dia kemudian menekan luka tembak korban penembakan dengan perban itu.

“Aku begitu syok dan sempat tak tahu harus berbuat apa. Tapi seorang pria muslim datang, dengan sabar memintaku tenang, dan mengajariku cara menekan luka korban,” kata Jill.

Korban penembakan, saat itu juga minta agar Jill menelepon istrinya.

Jill pun mengambil telepon, dan meminta agar istri korban, menunggu di rumah sakit.

Saat menceritakan hal ini, Jill tiba-tiba menangis di hadapan kamera BBC.

Dia ingat, saat dia menolong satu korban, dia melihat pria lain meninggal dunia karena tak ada yang menolong.

“Aku tak bisa menolong karena desingan peluru di mana-mana,” ujar Jill.

Wartawan BBC coba menenangkan Jill, dan menyebut bahwa dia sudah bertindak heroik.

“Oh Jill, sangat mengerikan. Anda adalah seorang pahlawan,” kata reporter.

Tapi Jill memotong ucapan sang reporter.

“Tidak. Aku bukan (pahlawan). Saat itu aku mestinya bisa bertindak lebih baik lagi,” ujar Jill sambil menangis.

Sumber: tribunnews.com

loading...
loading...