Kisah Heroik Kades di Blitar Bantu Melahirkan di Pinggir Jalan

by -7,366 views

Aksi heroik diperlihatkan oleh Chusana, seorang Kepala Desa Pasirharjo, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar yang mendadak menjadi bidan.

Pria tiga anak tersebut dengan sigap membantu proses persalinan Siti Aminah, yang saat itu terjadi dipinggir jalan dekat rumahnya.

Chusuna menceritakan kejadian itu terjadi pada Selasa (23/6) kemarin sore. Ketika itu dirinya baru saja pulang dari kantor desa dan mulai ganti baju.

Belum selesai melepas seragamnya, ia mendengar teriakan Siti Aminah yang sedang berkontraksi.

“Saat itu saya dengar bu Siti sudah berteriak ngga kuat. Ketika saya datang kemudian langsung bayinya sudah terlihat kepalanya. Lalu saya pegang kepalanya sambil memberi motivasi ke ibu Siti Aminah,” kata Chusuna kepada suaraJatim.id, Rabu (24/6/2020).

Chusuna spontan langsung keluar dan mencari sumber teriakan. Ketika di luar rumah, ia melihat Siti sudah terbaring di tepi jalan depan rumah bidan desa.

Ia lalu lari dan mengecek kondisi Siti yang ternyata kepala Sang Bayi sudah keluar.

Proses persalinan darurat terjadi. Siti Aminah melahirkan bayinya hanya beralaskan rok daster miliknya.

“Kalau ngga segera saya raih kepalanya nanti akan luka soalnya kalau bayi lahir kan kepala di bawah. Di bawah kan ada trotoar kasihan bayinya nanti. Nah kebetulan pada sore itu, bu Bidan sedang ada kegiatan di luar rumah sehingga tidak ada di tempat,” ujarnya.

Selain Chusuna, ada seorang pekerja toko yang ikut membantu proses persalinan darurat tersebut.

Pekerja toko yang namanya tak mau disebutkan ini menggunakan pahanya sebagai bantal Siti Aminah.

Istri Chusuna yang saat itu ikut mendekat lalu membentangkan selimut untuk menutupi proses persalinan darurat ini.

Peristiwa ini juga sempat diabadikan oleh warga. Beberapa pengguna jalan, kata Chusuna juga sempat penasaran dengan persalinan darurat itu.

Tak lama setelah Sang Bayi lahir, datang seorang paramedis yang waktu itu langsung membantu memotong tali pusarnya.

“Suami Bu Siti ini malah panik, anaknya juga ikut panik. Saya sendiri juga ketularan panik. Tapi alhamdulilah semuanya (proses kelahiran) berjalan lancar,” bebernya.

Setelah proses persalinan darurat selesai, Siti Aminah kemudian dibawa ke Puskemas Talun. Pada Rabu sore, dia dan bayinya diperbolehkan pulang ke rumahnya di Desa Kendalrejo, Kecamatan Talun.

Dalam pengakuannya kepada Suara.com, Chusuna sudah dua kali menjadi bidan dadakan.

Kejadian itu terjadi selama dirinya menjabat sebagai Kepala Desa Pasirharjo. Peristiwa yang pertama terjadi di tahun 2018 silam.

Saat itu dirinya menjabat sebagai Kades periode pertama. Kejadiannya nyaris sama. Namun saat itu posisinya tidak di trotoar namun di tangga masuk toko dengan rumah bidan desa.

“Kalau hari ini kan disini (trotoar) kalau dulu itu situ (tangga toko). Posisinya ya duduk begitu. Kontraksi terus melahirkan,” kata Chusuna.

Ia mengaku tak punya keahlian membantu proses persalinan ibu hamil. Ia juga tak pernah mengikuti seminar tentang tata cara proses persalinan.

Chusuna mengaku tahu cara membantu proses kelahiran ketika dirinya dengan setia mendampingi sang istri melahirkan.

“Proses kelahiran tiga anak saya itu saya selalu melihatnya. Saya selalu mendampingi istri saya. Lha dari situ saya jadi sedikit paham bagaimana proses kelahiran itu terjadi,” jelasnya.

Ketika membantu proses persalinan darurat ini, Chusuna hanya spontan. Itulah sebabnya ia hanya menggunakan kaos oblong serta masih menggunakan celana keki, seragam khas seorang abdi negara.

Saat itu tak terpikirkan olehnya bagaimana kondisi kesehatan Siti Aminah apalagi kondisinya terjadi di tengah pandemi corona. Ia hanya berfikir bagaimana agar ibu dan anaknya selamat.

“Saya sudah ndak mikir itu (COVID-19) mas. Saya begitu tahu itu pikiran saya bagaimana agar ibu sama anaknya selamat,” bebernya.

Pada aksi heroik itu, Chusuna juga langsung mengecek kondisi Siti Aminah saat diperbolehkan pulang dari Puskesmas Talun.

Ketika tiba di rumah Siti Aminah, bayi berjenis kelamin pria itu sedang dimandikan.

Siti Aminah mengaku kejadian itu berlangsung cepat. Hanya berlangsung lima menit setelah kontraksi, bayi yang dikandungnya lahir.

“Saya kan awalnya mau kontrol karena kaya ada kontraksi. Saya pikir cuma capek biasa. Begitu kesana terus bidan sedang tidak ada di rumah saya turun dari mobil. Setelah itu kontraksi lagi. Halah, paling cuma lima menit. Saya ndak kuat habis itu lahir,” kata Aminah mengulang kejadian itu.

Siti Aminah mengaku punya empat orang anak. Anak pertamanya telah meninggal dunia.

Bayi laki-laki itu menjadi anak keempat. Proses kelahiran keempat anaknya normal, tak ada yang operasi caesar.

“Tapi rata-rata begitu mas, lima menit kontraksi langsung melahirkan. Kalau kemarin itu ya bagaimana ya,” cerita Siti sambil menahan tawa.

Sementara itu Nyoto, suami Siti Aminah mengaku belum menyiapkan nama untuk bayi lelakinya. Namun ia mengaku sudah tak ingin punya anak lagi.

“Halah sudah mas. Sudah cukup (jumlah anaknya). Kalau namanya belum. Kan nunggu sepasar (lima hari dalam adat Jawa) dulu baru dikasih nama,” imbuhnya.

“Dikasih nama Alan saja pak. Kata orang-orang bagus,” sahut Istri Kades Chusuna sambil menutup mulut menahan tawanya.

Sumber: suara.com

loading...
loading...