Kisah Dokter yang Masuk Islam Karena Melihat Kemujaraban Wudhu’

by

Alkisah, dunia terasa gelap meskipun matahari sedang bersinar. Cahayanya terhalang bukan oleh awan yang menggumpal.

Bukan pula karena langit akan mencucurkan hujan. Sementara masyarakat Muslim di Nihawand, Persia cemas.

Sebab, bertebaran kabar ulama junjungan sedang mengidap sakit. Imam Junaid nama ulama junjungan itu.

Benar saja, rupanya Imam Junaid tengah mengidap sakit mata sampai tak bisa membedakan antara ada dan tidaknya sinar matahari.

Pantas semua terasa gelap. Selain itu, Imam Junaid menanggung perih yang sangat. Kecemasan penduduk Nihawand makin menjadi ketika sakit yang diderita Imam Junaid digadang-gadang berpotensi mencacatkan mata.

Mungkin pikir mereka, kenapa sakit ini harus menimpa ulama junjungan? Andai sakit itu bisa dialihkan, sebagin besar penduduk Muslim Nihawand bersedia untuk menanggungnya.

Tapi apalah daya, itu sudah suratan takdir. Manusia tak punya kuasa untuk menolaknya. Di antara mereka saling tanya, kepada siapa hendak belajar agama dan meminta fatwa? Sebab selama ini, Imam Junaid adalah rujukan segala tindak-tanduk mereka.

Satu-satunya cara adalah mencari jalan agar Imam Junaid sembuh layaknya sedia kala. Mereka berbagi tugas, untuk mencari berbagai tumbuhan, dipilihlah dedaunan berkualitas.

Ditubruk dan diracik. Ada yang harus diminum dan ada juga yang ditempel pada kedua belah mata ulama junjungan. Hasilnya sia-sia. Akhirnya, dipanggil tabib (dokter) Muslim yang tangguh-tangguh. Masih serupa, nihil hasilnya.

Kehilangan Imam Junaid benar-benar menjadi beban bagi mereka sehingga jangan sampai terjadi. Dibuatlah sayembara dengan hadiah yang menggiurkan.

Tumpukan materi bisa didapat asal ada dokter yang bisa mengobati sakit mata Imam Junaid. Datanglah seorang dokter tersohor penganut kepercayaan Nasrani.

Bertandanglah dokter itu pada kediaman Imam Junaid. Diperhatikan kedua mata Imam Junaid, tanpa memberi obat, dokter Nasrani itu menyatakan ketidak-siapan untuk mengobati seketika itu seraya berkata,

“Besok saya akan kembali lagi kesini.” Sebelum pergi dokter Nasrani bepersan, “ini sangat parah. Jangan sampai ini terkena percikan air. Itupun jaga kau mau sakitmu sembuh,” tambahnya.

Dengan segala ketinggian dedikasinya, sejumlah murid Imam Junaid hendak mencari dokter lain tanpa harus menunggu dokter Nasrani itu. Apalagi, dia datang hanya melihat-lihat tanpa mempraktikkan ilmu kedokteran.

Kedatangan dokter Nasrani pun dianggap oleh sebagian murid Imam Junaid sebagai beban. Alih-alih mengobati, justru dia tidak sanggup dengan beralasan besok baru dapat mengobati.

Namun, putusan murid untuk mencari dokter lain tak diizinkan oleh ulama junjungannya. Sebenarnya mereka ingin memaksa namun patuhnya murid pada titah ulama junjungan tak bisa ditukar dengan apapun.

Meskipun murid beriktikad baik agar Imam Junid lekas sembuh tetapi mereka tak beranjak mencari dokter lain.

Setelah dokter Nasrani pergi, Imam Junaid berwudu dilanjut dengan melakukan salat dan kemudian Imam Junaid tidur.

Tiada yang menduga, usai terbangun dari tidur justru sakitnya sembuh sehingga matanya kembali melihat seperti sedia kala. Kepada murid-muridnya Imam Junaid berkata,

“Seandainya semua ahli neraka menyarankan seperti yang dikatakan dokter Nasrani itu -kalau ingin sembuh  jangan sampai mata Imam Junaid terkena percikan air sehingga Imam Junaid tak bisa berwudu- saya tidak akan menghiraukan.”

Seperti janji dokter Nasrani, keesokannya ia betul-betul datang dengan ramuan-ramuan berkhasiat tingkat tinggi.

Sesampainya di kediaman Imam Junaid, dokter tidak percaya karena mata pasiennya itu benar-benar sehat. Ia mengira bahwa yang mengobati bukan dokter biasa karena begitu cepat kesembuhannya.

Dengan penuh ketidak-percayaan dan keheranan yang luar biasa, dokter Nasrani bertanya, “Bagaimana kau mengobatinya?”

Imam Junaid menjelaskan apa yang telah ia lakukan, “Aku mengobatinya dengan berwudu dan melaksanakan salat.”

Mendengar jawaban ini, seketika itu pula dokter Nasrani meninggalkan ke-Nasraniannya lalu pilih memeluk Islam mengikuti Imam Junaid.

Kisah ini dinukil  dari kitab Irsyadul ‘Ibad, h.9 karya Syaikh Zainuddin al-Malibari.

Sumber: bincangsyariah.com

Loading...
loading...
loading...