Kesaktian Pendekar Cimande, Minyak Ajaib dan Dr Budi yang Bisa Sembuhkan 1.000 Pengungsi Gempa Lombok

by

Tim Relawan Radar Bogor Peduli Korban Gempa Lombok mengirim sejumlah tim medis, dokter, perawat.

Selain itu, juga ahli penyembuhan patah tulang serta sejumlah pendekar Cimande untuk membantu para korban gempa.

Tim relawan berjumlah 11 orang itu bertahan di lokasi gempa dan pengungsian selama lima hari.

Di hari terakhir, tim medis yang tergabung dalam Tim Relawan Radar Bogor itu telah menyambangi beberapa posko pengungsi gempa Lombok.

Mulai dari Lombok Barat sampai Lombok Utara. Setidaknya lebih dari 1.000 korban gempa di Lombok dari berbagai penyakit telah mendapatkan manfaat kesehatan.

Diantara 1.000 pasien tersebut, penyakit yang banyak diderita korban gempa Lombak adalah patah tulang.

Sebagian besar pada bagian tumit, patah tulang bagian telapak kaki, patah tulang bagian tangan, dan seluruh badan terasa ngilu.

Selain itu, korban gempa banyak juga menderit diare, pusing kepala, luka-luka, dan trauma psikis.

Beruntung, ada lima pendekar Cimande ahli penyembuhan patah tulang yaitu Iwan, Suheli, Aung, Asep, dan Ikhwan.

Salah satu pendekar Cimande, Ikhwan menuturkan, rata-rata korban mengeluhkan ngilu, patah tulang di bagian tumit, bahu, dan kaki.

“Di hari pertama sampai sekarang, sekitar 300an lah yang mengalami patah tulang bagian tumit. Belum lagi kaki bengkak akibat tertindih bangunan. 400an kira-kira,” ungkap Ikhwan di lokasi.

Kedatangan pendekar dan ahli penyembuhan patah tulamg itu sangat dirasakan mafaatnya oleh Warga.

Terlebih, tak sedikit korban yang mengalami patah tulang dan masalah tulang lainnya. Mereka harus menunggu berhari-hari lebih sebelum mendapat penanganan medis.

Hal itu lantaran cukup banyaknya korban gempa Lombok yang merasakan keluhan sama. Sebut saja Mahrib (58), warga Kampung Lembah Sari, Kecamatan Batu Layar.

Bapak empat itu menceritakan, saat gempa 7,0 SR itu terjadi, ia dan anak istrinya langsung berhamburan ke luar.

“Rumah saya kan di bukit langsung roboh,” ungkapnya.

Sangking paniknya, ia keluar rumah sudah tidak lagi melihat samping, kiri, belakang. Hanya fokus ke depan agar cepat sampai ke awah bukit.

“Karena takut ada longsor, kita panik. Pas ada belokan langsung keseleo kaki. Sudah langsung gak bisa berdiri,” tuturnya.

Akibat keseleo itu, Mahrib tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa merebahkan badannya di posko pengungsian tanpa bisa menggrakkan kaki bagian kirinya itu.

Dengan kondisi tersebut, ia tak bisa berbuat banyak. Bahkan untuk buang air kecil pun ia harus memakai alat bantu.

“Ini udah seminggu, buang air kecil harus pake botol minral, shalat harus tiduran,” ungkapnya.

Mahrib mengaku, sakit tumit yang ia derita itu sempat dibawa ke dokter. Namun, dokter malah menyarankan minum obat penyambung tulang.

“Kita mengira obatnya gratis, eh taunya suruh beli 300 ribu. Kita udah kena musibah dapat dari mana kita duit sebanyak itu,” keluhnya.

Trik Pendekar Cimande Obati Patah Tulang
Setelah salah satu pendekar Cimande, Ikhwan menyambangi posko pengungsian.

Diketahui sakit tumit yang diderita Mahrib itu dikarenakan tulangnya hampir tidak menyatu lagi alias sudah patah.

“Ya Allah, ini kan tulangnya sudah patah. Tenang pak. InsyaAllah bisa sembuh,” kata Ikhwan.

Tim pendekar Cimande yang tergabug relawan Radar Bogor itu langsung membuatkan kayu untuk ditempelkan ke bagian bawah tumit korban.

Setelah itu, minyak ajaib pendekar Cimande sembari diusapkan ke bagian tumit korban.

“Bagaimana rasanya pak?”

“Alhamdulillah udah agak mendingan,” tutur Mahrib.

Selang beberapa menit kemudian, terlihat Mahrib sudah mulai bisa menggerkakkan kakinya. Bahkan ia bisa berjalan dengan menggunakan alat tongkat.

Hal yang sama juga terjadi pada korban gempa Lombok lainnya, Pak Sujai, warga Kampung Lembah Sari, Kecamatan Batu Layar.

Pria berumur 40 tahun itu menceritakan, bengkak di bagian kakinya itu ia rasakan sudah sejak seminggu yang lalu.

Luka itu ia dapatkan akibat tertimpa reruntuhan tembok rumahnya saat gempa terjadi. Saat itu, ia hendak menyelamatkan putrinya dari reruntuhan.

Tiba-tiba rumahnya langsung roboh sembari badannya tertindih atap sambil memeluk anaknya.

“Pas gempa saya bawa anak lari lagi kena ruruntuhan tempok. Saya langsung kaki kena reruntuhan tembok. Alhamdulilah anak saya selamat,” bebernya.

Akibat kaki bengkak, rasa ngeri di kakinya terkadang membuat dirinya tidak bisa tidur semaleman.

“Ini sudah seminggu. kemarin-kemarin bengkak banget. Saya gak bisa jalan,” katanya.

Sujai menjelaskan, di kampungnya, tak ada tukang pijit atau tukang urut. Apalagi ahli penyembuhan tulang.

“Tukang urut tidak ada disini. Harus ke Lombok Utara. Kan di sana pusat gempanya,” kata Sujai.

Sujai mengaku, dengan kondisi pasca gempa itu, dirinya sampai pasrah meski harus menahan sakit tiap malam.

“Kemarin saya hanya bisa pasrah, tiap melam sakit banget,” ucapnya.

Selang beberapa menit mendapat penanganan dari tim relawan Radar Bogor, seketika kaki Sujai bisa digerakkan.

“Alhamdulillah…,” ucapnya.

Sujai mengaku, dengan sekedar diurut sebentar dan diolesi minyak, ia merasakan kakinya sudah cukup nyaman dan sakit berkurang.

“Sudah agak nyaman. Mungkin ini perantara dari Allah lewat Bapak-bapak,” ucapnya sembari mencoba berjalan.

Kebanyakan Makan Mie Instan
Tim relawan Radar Bogor lainnya, dr Budi Sualman mengungkapkan, selama lima hari di Lombok, ada sejumlah penyakit yang dikeluhkan.

Yaitu penyakit luar dan dalam seperti diare, pusing kepala, gatal-gatal, dan trauma psikis.

“Kita obati sekitar hampir 600 (korban). Semua yang kena penyakit diare, gatal, sakit kepala dan trauma psikis itu,” tuturnya di lokasi.

Selain itu, kurangnya bantuan fasilitas kesehatan dari pemerintah setempat sehingga kebanyakan warga terkena beberapa penyakit tersebut.

“Seperti tidak ada WC umum dan dapur umum di pengungsian,” ungkap dr Budi di lokasi pengungsi.

Tak hanya itu, keterbatasan ketersediaan makanan sehat di pengungsian juga menjadi salah faktor pemicu lainnya.

“Mereka juga terlalu kebanyakan makan mie. Selain itu kurangnya bantuan air bersih sehingga banyak dari pengungsi terkena gatel dan pusing,” jelasnya.

Karena itu, ia menghimbau kepada pemerintah setempat agar lebih memperhatikan kebutuhan para pengungsi di posko pengungsian masing-masing.

“Semoga pemerintah peka ya dengan keadaan seperti ini. Ini kalau tidak cepat ditangani bisa bahaya terhadap keselamatn warga,” tegas dr Budi.

Sumber: pojoksatu.id

Loading...
loading...
loading...