Kecewa Perolehan Suara, Caleg Nasdem di Tidore Tarik Sumbangan Karpet

by

Sejumlah warga Kelurahan Tomalaou dan Gurabati, Kecamatan Tidore Selatan, saling lempar batu. Beruntung, aparat kepolisian dari Polres Tidore yang dibackup Kodim 1525/Tidore, turun di lokasi dan berhasil mengamankan situasi.

Kejadian berawal saat calon anggota DPR RI, dari Partai Nasdem asal Maluku Utara (Malut) Ahmad Hattari diberi kesempatan berbicara memberi himbauan usai shalat Jumat di Masjid Agung Nurul Bahar, Kelurahan Tomalou.

Dalam kesempatan itu, Hatari menyebutkan, dari sekitar 2000 daftar pemilih tetap (DPT) di Tomalou, perolehan suaranya hanya mencapai 700.

Dia terkesan heran, lantaran ada tiga (3) suara ke Irene Hui Roba, politisi dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, yang juga putri dari mantan Bupati Halmahera Barat, Namto Hui Roba. Sementara, warga Tomalou saat ditanya kenal Irene, mereka mengaku tidak tahu.

Atas perolehannya itu, Hatari bilang jika KPU berkenan, maka ia meminta izin ke lurah Tomalau untuk mengembalikan 700 suara tersebut ke KPU.

“Karena suara ini saya tidak butuh sama sekali. Tanpa 700 suara ini, mudah-mudahan saya akan menang. Posisi kursi akan aman,” ujar anggota Komisi XI DPR RI ini di hadapan jamaah masjid.

“Jadi setelah ini, selesai Ashar, saya akan berhubungan dengan KPU, Bawaslu. Jadi tolong, orang Tomalou mencabut mandat 700 suara ini (dan berikan) kepada orang-orang yang tadi saya sebut. Irene, Syaiful Ruray. Saya tidak butuh 700 suara ini. Terima kasih banyak,” bebernya.

Menurut dia, ini hanyalah satu proses pendidikan politik. Dijelaskan Hatari, ada orang yang terpilih. Namun saat pelantikan, yang bersangkutan tidak bisa dilantik lantaran partainya jongkok.

“Seperti Hanura, sampai dengan hari ini elektabilitasnya baru 1 persen. Jadi walaupun partai ini kadernya terpilih, dia tidak akan dilantik. Ada 6 partai, Perindo, termasuk Hanura,” tuturnya.

“Jadi 700 (suara) itu bisa diberikan ke mereka. Lillahi Ta’ala. Terakhir, untuk karpet di atas (sembari menunjuk lantai dua masjid) yang sudah saya berikan, di tempat ini saya beritahu bahwa dengan segala permintaan maaf, saya belum bisa pasang dan bahkan saya tidak akan pasang lagi,” tuturnya.

Hatari bahkan meminta ke masyarakat Tomalou yang memiliki hak pilih, agar berhubungan langsung dengan mereka (caleg lain), untuk ikut memberi perhatian.

“Bukan cuma masyarakat, tapi juga tempat ibadah di kelurahan ini. Ini saya harus bicara. Jangan sampai di kemudian hari, (dibilang) Pak Hatari ini kok cuma janji-janji,” tuturnya.

Dia menuturkan, sajadah di (lantai) bawahnya sudah, jamnya sudah. Sedangkan sajadah di lantai atas belum-belum sampai hari ini.

Jadi dirinya ingin menegaskan, bahwa sajadah yang di atas memang sudah saya berikan, sudah keluar dari pabrik. Tapi dia tidak bisa berikan lagi.

Hatari bilang, masih ada masjid lain yang membutuhkan sajadah. Namun dari semua ini, ditegaskan Hatari bahwa hatinya dengan warga Tomalou tidak akan putus.

“Itu yang saya harus beritahukan, bahwa ini adalah satu kebohongan besar,” tandasnya.

Usai menyampaikan perihal ini, warga Tomalou akhirnya menyeret karpet dan memboyong ke rumah Hatari di Kelurahan Gurabati.

Namun isu yang beredar di kalangan masyarakat Gurabati, warga Tomalou melakukan penyerangan. Akibatnya, bentrokan tak terelakan. Untunglah aparat keamanan bertindak cepat mengamankan situasi.

Sumber: gatra.com

Loading...
loading...
loading...