Kebaikan Hanya Akan Datang Bagi yang Paham Agama

by

Mu’awiyyah berkata bahwasannya Nabi saw bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan menfaqihkan (menjadikan dia paham) akan agama.” (Muttafaqun ‘alaih dari Mu’awiyah)

Sudah lumrah bahwa yang dimaksud hadis ini ialah mendapatkan dan memahami al-ilm (ilmu), yakni ilmu agama. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata (Kitabul ‘Ilmi, hal. 13):

“Yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, berupa bayyinah (penjelas) & huda (petunjuk). Maka, ilmu yang mengandung pujian dan keutamaan adalah ilmu wahyu, ilmu yang Allah turunkan.”

Maka ilmu yang dimaksud dalam hadis ini ialah Ilmu yang sesungguhnya, ilmu menurut wahyu bukan ilmu menurut istilah manusia.

Konsep Yufaqqihu, maknanya: menganugerahkan kecerdasan, pengetahuan, dan kefahaman terhadap urusan Islam (hukum-hukum syar’i).

Faham di sini adalah faham yang membuahkan amal shalih agar kefahaman dan ilmunya tersebut tidak menjadi bumerang bagi dirinya.

Karena siapa yang tidak mengamalkan ilmu yang telah dipahaminya, ia termasuk orang yang mendapat murka, sebagaimana yang tersebut dalam hadits shahih, “Al-Qur’an itu menjadi pembelamu atau yang memberatkanmu.”

Sedangkan yang dimaksud Ad-dien dalam kalimah terakhir hadis tersebut adalah ilmu agama Islam, maka siapa saja yang Allah kehendaki untuk menjadi orang yang baik, ia akan dianugerahkannya menjadi haus mendapatkan pemahaman tentang Islam.

Siapa saja yang secara tiba-tiba atau sedikit demi sedikit semakin haus akan ilmu Islam dan haus memahami apa saja yang berkaitan dengannya, maka sesungguhnya orang seperti inilah orang yang telah diberi Allah kebaikan.

Jelas keliru orang-orang yang memahami bahwa ilmu keislaman adalah bentuk keterbelakangan, kekolotan dan tidak modern. Justru ilmu-ilmu lain, selain ilmu agama harus difondasikan dengan ilmu agama, agar tidak tersesat dengan ilmu yang diembannya.

Jika ada orang yang pandai dan mahir ilmu-ilmu terapan, seperti fisika, kimia, biologi, astronomi serta mahir ilmu-ilmu sosial, humaniora dan filsafat namun tidak melandasinya dengan ilmu agama maka ia-lah orang-orang yang diberi anugerah kebaikan oleh Allah.

Maka tidak heran, penemuan teknologi dan sains semakin canggih lagi bermutu, namun umat manusia tetap saja mengalami krisis, baik krisis spiritual, nilai, adab, dan tujuan hidup.

Ilmu sendiri hanya diwarisi para Nabi alaihimussalam kepada para ulama “Dan sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan sungguh para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, hanya saja mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya (ilmu tersebut) berarti dia telah mengambil bagian ilmu yang banyak.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dari Abud Darda’).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata (Syarh Riyadhish Shalihin, 3/434):“Tidaklah mewarisi dari para nabi kecuali para ulama. Maka merekalah pewaris para nabi. Merekalah yang mewarisi ilmu, amal & tugas membimbing umat kepada syariat Allah”

Oleh: Ilham Martasyabana

Sumber: sharia.co.id

Loading...
loading...
loading...