Kapan Waktu Mengangkat Jari Telunjuk Ketika Tasyahud?

by

Jika kita perhatikan sebagian orang yang shalat, baik di masjid atau di tempat lainnya,

ada perbedaan mengenai permulaan waktu mengangkat jari telunjuk ketika tasyahud.

Ada yang mulai sejak awal duduk tasyahud dan ada pula yang mulai saat pertengahan tasyahud.

Sebenarnya, kapan waktu dimulai mengangkat jari telunjuk ketika tasyahud?

Pada saat kita melakukan tasyahud ketika shalat, baik tasyahud awal maupun tasyahud akhir, kita dianjurkan untuk memberi isyarah dengan mengangkat jari telunjuk.

Menurut ulama Syafiiyah, hukum memberi isyarah dengan mengangkat jari telunjuk ini hukumnya sunnah.

Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim, dari Abdullah bin Umar, dia berkata;

كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ، وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ، وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى

Nabi Saw jika duduk dalam shalat, beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanan dan menggenggam semua jarinya dan memberi isyarah dengan jari yang dekat dengan jari jempol. Kemudian meletakkan telapak tangan kiri di atas paha kiri.

Adapun waktu memberi isyarah dengan mengangkat jari telunjuk dimulai sejak kita membaca huruf alif dari lafadz ‘Illallah (إلَّا اللَّهُ)’ dalam kalimat tasyahud ‘اشهد ان لا اله الا الله’.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Bujairim ala Al-Khatib berikut;

وَيُدِيمُ رَفْعَهَا وَيَقْصِدُ مِنْ ابْتِدَائِهِ بِهَمْزَةِ إلَّا اللَّهُ أَنَّ الْمَعْبُودَ وَاحِدٌ ، فَيَجْمَعُ فِي تَوْحِيدِهِ بَيْنَ اعْتِقَادِهِ وَقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ

Dan hendaknya orang yang shalat melanggengkan mengangkat jari dan hendaknya mengangkatnya dimulai sejak permulaan huruf hamzah dari lafadz ‘Illallah (إلَّا اللَّهُ)’, bahwa Dzat Yang Disembah adalah Esa. Dengan demikian, terkumpullah tauhid dalam dirinya baik antara keyakinan, ucapan dan perbuatan.

Dengan demikian, memberi isyarah dengan mengangkat jari telunjuk bukan dimulai dari permulaan tasyahud, namun ketika kita sudah mulai membaca lafadz ‘Illallah.

Sumber: bincangsyariah.com

Loading...
loading...
loading...