Jangan Lalai Ibadah Saat Nikmat Dunia Menumpuk, Ini Akibatnya

by

Bentuk syukur seorang muslim saat mendapatkan nikmat dunia bermacam-macam.

Ada yang merasa cukup dengan mengucapkan hamdalah, ada juga yang langsung tergerak hatinya untuk berbagi kepada lainnya, dan ada juga yang berkomitmen untuk menambah jam ibadah kepada Allah.

Namun nyatanya tidak semua orang bisa bertindah tepak saat nikmat dunia itu bertambah, sebagian orang juga ada yang dengan mudah menjadi lalai sebab nikmat tersebut.

Jika nikmat yang menumpuk bisa membuat kita lalai akan beribadah kepada-Nya, Buya Hamka menyebutnya sebagai gejala jiwa yang kosong dari iman.

Dalam Tafsir Al Azhar beliau mengungkan bahwa apabila ia ditimpa kesusahan dan malapetaka, ia memohon berdoa kepada Allah seraya kembali berserah kepada-Nya.

Akan tetapi, jika kelapangan telah datang, ia melupakan Allah sebagaimana dulu ia tekun berdoa kepada Allah saat keadaan susah.

Bahkan lebih parah lagi, ia menyekutukan Allah dengan menganggap bahwa pertolongan itu datang sebab lainnya. pernyataan seperti itulah yang digambarkan Allah dalam QS al-Zumar ayat 8:

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”

Untuk tetap istiqamah dengan keimanan yang nyata, atau tidak lalai saat nikmat Allah datang, kita harus bisa mengontrol  pikiran alam bawah sadar.

Menyadari akan semua nikmat tersebut datangnya hanya dari Allah, dan Allah bisa menariknya kapan saja.

Dengan melihat kekuasan Allah yang seperti itu, kita yang lalai atau malas untuk beribadah kepada Allah akan bangkit dan tumbuh ingatan akan tugas kita di dunia ini.

Imam Abdullah Al Haddad dalam Al Nafais Al Alawiyyah berpesan:

ضعف الإيمان، وتقويته بالنظر في ملكوت السموات والأرض وملازمة الأعمال الصالحة

“Cara menguatkan iman yang lemah  adalah dengan melihat kekuasaan Allah di langit dan bumi serta membiasakan melakukan amal saleh.”

Pesan tersebut seakan-akan mengajak kita untuk mengisi jiwa-jiwa yang kosong untuk bertafakur akan kekuasan Allah.

Begitupun dengan berbagai nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita, alangkah lebih baiknya jika kehadiran nikmat tersebut bisa membuat kita semakin dekat dengan Allah dan keimanan kita semakin kokoh.

Bukan justru sibuk dan lalai untuk beribadah kepada-Nya. Jika kelalaian tersebut tidak sengaja hadir secara tiba-tiba, seyogyanya kita bisa menepis gejala tersebut dengan melihat kekuasaan Allah dan bersegera untuk beramal saleh.

Sumber: bincangsyariah.com

Loading...
loading...
loading...