Jadi Mualaf, Bule Belgia Ini 2 Hari Belajar Melafalkan Akad Nikah

by

Humoris dan banyak tertawa. Itulah kesan pertama saat bertemu dengan Olivier Van Merris, bule asal Belgia yang baru saja mempersunting gadis Palangka Raya bernama Septian Mugi Rahayu, Jumat (28/12) lalu.

Akad nikah dilakukan di kafe Jalan Kariraman. Momen bahagia itu tak akan pernah dilupakan oleh kedua pasangan. Juga tak pernah disangka-sangka sebelumnya oleh Oliver.

Pernikahan dilangsungkan sesuai syariat Islam. Oliver yang menjadi mualaf harus menyesuaikan diri. Mulai dari pelafalan akad nikah yang agak sulit hingga ke budaya dan ajaran Islam.

Beruntung, jauh sebelumnya dia sudah memiliki banyak teman muslim dan juga membaca beberapa buku Islam.

“Tapi tetap stres saat membacakan akad nikah. Untung saja penghulunya humoris,” ucap bule kelahiran 3 November 1982 itu.

Ia mengaku butuh waktu dua hari untuk belajar melafalkan ucapan akad. Namun semuanya berbuah manis. Akad pernikahan yang dipimpin Kepala KUA Jekan Raya Supiani, berjalan sukses.

Walaupun tidak mengerti seratus persen bacaan dan doa bersama, Oliver mengaku merasakan emosi spiritual saat itu.

“Saya senang menikah dengan Ayu dan bisa kenal keluarganya. Banyak perjuangannya untuk bisa menikah,” ucap pencinta gado-gado ini. “Itu perjuangan sekali,” imbuhnya.

Olivier pun menceritakan singkat petualangannya ke Indonesia. Dia menginjakkan kaki pertama kali di Bangka Belitung.

Saat itu masih belum ada ketertarikan sama sekali dengan orang Indonesia. Kemudian dia bertemu dengan Willy, seorang pengajar bahasa Inggris.

“Sudah tiga tahun ini saya ke Asia, karena pusing dan lelah bekerja di Barat. Saya ingin jalan-jalan. Saya ketemu Pak Willy, bapak angkat saya di Bangka Belitung. Saya belajar bahasa Indonesia di sana. Saya juga mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak yang malu berbahasa Inggris,” ucapnya.

Setelah satu minggu, dia memutuskan kembali ke Belgia untuk bekerja. Namun setelah enam bulan di sana, dia kangen Indonesia.

Ingin bertemu lagi dengan teman-temannya di Bangka Belitung, sekaligus ingin jalan-jalan ke Papua dan daerah lainnya di Indonesia yang memiliki destinasi wisata alam.

“Indonesia memang panas, tapi saya cinta. Satu tahun yang lalu saya kembali ke Indonesia. Jalan kaki ke Papua dan bertemu teman-teman lama. Lalu saya pasang aplikasi chatting internet, namanya Badoo. Meskipun sebenarnya tidak suka, tapi saya coba-coba,” katanya saat dibincangi di Wisma Cendrawasih.

Melalui aplikasi inilah, akhirnya dia mengenal Septian Mugi Rahayu. Sebenarnya saat itu wanita dengan panggilan akrab Ayu menggunakan aplikasi chattingbernama Tinder. Namun kedua aplikasi ini saling terkoneksi.

“Eh saya Tinder ya, bukan Badoo. Kami cuma sehari pakai aplikasi itu, habis itu sayang (oliver, red) pengin hapus aplikasinya dan chatting lewat WhatsApp,” sahut Ayu.

Berkenalan melalui aplikasi jodoh, tidak lantas membuat laki-laki 36 tahun itu langsung ingin menikah. Dia tahu jika bertemu di internet harus berhati-hati.

Tetapi setelah bercerita ke ayah angkatnya sepulangnya dari Papua, dia diberi saran untuk mendatangi kekasih hatinya ke Palangka Raya.

“Saat itu Willy menyuruh saya untuk datang langsung bertemu Ayu dan melihat seperti apa keluarganya. Akhirnya saya ke sini dan tinggal sekitar tiga hari,” bebernya kepada Kalteng Pos (Jawa Pos Group).

Januari 2018 pacaran. Meski menjalani long distance relationship (LDR), namun setiap libur bekerja, pria berkulit cerah ini datang ke Kota Palangka Raya menemui pujaan hatinya.

Pasalnya, ia bekerja sebagai insinyur dan diberikan libur sebulan setelah dua bulan bekerja.

Juni 2018, ia memutuskan untuk menikah karena memang merasa sudah satu pandangan, sejalan, dan satu komitmen.

Kenapa bisa jatuh cinta dengan Ayu? Pria kelahiran Kota Brussels ini mengaku sangat simpel. Alasannya, karena terpesona dengan kejujuran perempuan 33 tahun ini.

Walaupun banyak perempuan Indonesia yang suka dengan dia, tapi Ayu lebih jujur kepadanya. Mulai dari status dirinya sebagai janda yang memiliki satu anak hingga pekerjaan dan kepribadiannya.

“Ayu jujur, dia sudah punya anak. Saya lihat dari awal sudah jujur, pasti akan lebih nyaman ke depannya,” katanya.

Sementara itu, Kepala KUA Jekan Raya Supiani mengaku, memang diperlukan persiapan khusus saat menikahkan dua orang berbeda kewarganegaraan. Mulai dari kelengkapan berkas sampai tata cara akad nikah.

“Saya sampai belajar sedikit bahasa Belgia, tapi alhamdulillah lancar. Akad juga tanpa kendala. Sekali pelafalan langsung sah,” ucap dia.

Pernikahan berbeda negara juga memerlukan berbagai penyesuaian. Mulai dari kultur budaya sampai kebiasaan yang sangat jauh berbeda.

Juga perlu komitmen bersama yang kuat agar tidak mudah bercerai di tengah perjalanan bahtera pernikahan.

“Tapi mereka bagus. Mempelai laki-laki juga komitmen dengan agama Islamnya dan akan selalu menjaga mempelai perempuan,” tutupnya.

Sumber: jawapos.com

Loading...
loading...
loading...