Ini Alasan Sadiq Khan (Wali Kota Muslim Pertama London) Mendukung LGBT

by -1,868 views

Politik Garam Sadiq Khan

Sadiq Khan, walikota Muslim pertama kota London sempat membuat euphoria di Indonesia lengkap dengan kata pekikan Allahu Akbar dan Subhanallah. Namun mereka yang sempat bangga itu kecewa, karena Sadiq Khan ternyata pro LGBT dan melegalkan perkawinan sejenis. Kata Astaghfirullah dan Nauzubillah yang kini banyak muncul. Sebenarnya apa yang melatar belakangi pandangan Sadiq Khan itu yang pastinya tahu benar LGBT adalah terlarang dalam Islam?

Jawabannya yang mungkin pas adalah komentar Pak Boes Roestam, orang Indonesia yang bermukim di Kanada pada postingan saya Sadiq Khan: Muslim yang Pro LGBT.

Menurut Om Boes, demikian panggilan akrab saya kepada beliau, cendikiawan muslim asal Swiss Prof. Tariq Ramadhan dalam satu ceramahnya di RIS (Reviving the Islamic Spirit) di Toronto menegaskan, kelompok Muslim jangan coba coba mengubah tatanan hidup tempat baru mereka datang. Tetapi tunjukkan cara hidup yang Islami kepada lingkungan sehingga orang tahu apa itu Islam, dan Walikota Sadiq Khan sepertinya melakoni seperti ini.

Saya sepakat dengan pandangan ini karena pada dasarnya Sadiq Khan tengah melakukan politik garam ketimbang politik bendera. Politik garam menularkan ajaran Islam lewat perilaku toleransi dan inklusif sebagai implementasi konsep Islam yang Rahmatan lil Alamin. Ini berbeda dengan politik bendera mengibarkan paham-paham Islam menurut pemikiran mereka sendiri yang belum tentu diterima oleh semua kalangan,baik kaum minoritas, non muslim maupun kalangan Islam sendiri.

Jadi Sadiq Khan tengah menabur “garam islam” pada kehidupan masyarakat London, yang menampilkan wajah Islam yang teduh yang bisa membalikkan citra agama ini di Eropa dan dunia Barat yang dikaitkan dengan penggal kepala, ISIS dan terorisme. Sadiq Khan lebih menekankan pada program yang akan dijalankan sebagai walikota mensejahterakan warga London ketimbang mengedepankan ke Islamannya. Keberhasilan dia menjalankan program pemerintahan secara otomatis akan mengangkat citra Islam hingga makin banyak orang disana tertarik kemudian mendalami dan memeluk Islam.

Namjun demikian, dalam menaburkan garam itu, Sadiq Khan nampaknya juga terpaksa harus berhadapan dengan kalangannya sendiri. Di London, Inggris Raya, Eropa atau kalangan muslim di Indonesia. Mereka mengecam Khan, tidak hanya soal LGBT, tetapi juga soal jilbab dan niqab.Sadiq Khan menikah dengan Saadiya Ahmed tahun 1994 dan dikarunai dua anak perempuan Anisah, 17 tahun dan Ammarah, 15 tahun. Mereka semua tidak berjilbab.

Pandangan Sadiq Khan soal Jilbab
Ketika the London Evening Standard mewancarainya 15 April lalu,Sadiq mengatakan harus ada pertanyaan apa yang terjadi dalam keluarga para wanita yang mengenakan jilbab atau niqab di London. Tambahnya, harus diteliti mengapa mereka memilih menutup tubuh dan kepalanya – sebuah trend yang tidak dia lihat di London atau di Pakistan saat dia masih muda.Tegasnya, pada waktu itu , saya tidak pernah melihat wanita berjilbab atau mengenakan niqab, baik di London maupun di Pakistan.

Tapi sekarang di London,kata Sadiq Khan, kok banyak yang pakai. Kita melihat muslimah mengenakan kostum yang sama. Yang anda lihat sekarang, muslimah yang lahir dan tumbuh di London memilih berjilbab atau berniqab. Jadi harus diteliti apa yang terjadi di rumah dan keluarga mereka.

Lanjut Sadiq Khan, apa yang tersembunyi di rumah-rumah itu, terutama ketika orang bertanya apakah mereka (keluarga muslim itu- tambahan penulis) memperlakukan wanita secara berbeda (dengan mewajibkan berjilbab atau berniqab- tambahan penulis) ataukah mereka dipaksa mengenakannya. Yang saya khawatirkan adalah muslimah London dipaksa melaksanakan cara hidup seperti itu. Bagi dia, semua orang mempunyai hak yang hidup, dilindungi dan hak kebebasan untuk mengenakan pakaian yang mereka suka tanpa ada paksaan. Dan London adalah tempat yang nyaman bagi masyarakat Muslim membesarkan anak dan keluarga mereka.

Dalam wawancara tersebut, Sadiq Khan menyinggung soal Niqab. Katanya, muslimah yang bekerja di sektor publik harus nampak wajahnya seraya menegaskan “kontak mata” adalah penting. (lebih lanjut silahkan baca: Sadiq Khan says there is ‘question to be asked’ about use of hijabs in London)

Politik garam Sadiq Khan lengkap dengan pandangannya soal jilbab ini jika sukses mungkin akan menciptakan para pemimpin muslim di Eropa dan dunia Barat namun dengan wajah berbeda . Berjihad menyebarkan Islam dengan cara mereka sendiri. Yang tetap menjalankan Rukun Islam dan menyakini Rukun Iman ketika diundang resepsi perkawinan sejenis atau menari bersama dalam upacara akil balik Yahudi Bat Mitzvah.

Hal mana yang menurut sebagian kalangan Muslim di Indonesia itu adalah perbuatan menjual agama alias muslim tapi kafir.

Sumber:  Budi Setiawan

Loading...
loading...
loading...