Indonesia Rawan Bencana, Begini Seharusnya Seorang Mukmin Bersikap

by

Musibah bencana silih berganti terjadi di bumi pertiwi, ribuan jiwa korban meninggal dunia telah menjadi saksi bahwa Indonesia menjadi negara rawan bencana.

Dalam buku yang disusun Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia “Resiko Bencana Indonesia” dari segi ilmu kebumian, Indonesia memang merupakan daerah yang sangat menarik.

Profil Geologi Indonesia, Rawan Bencana
Selain memiliki wilayah paparan benua yang luas (Paparan Sunda dan Paparan Sahul), Indonesia juga memiliki pegunungan lipatan tertinggi di daerah tropika dan bersalju abadi (Pegunungan Tengah Papua).

Selain itu, wilayah Indonesia menjadi satu-satunya di dunia yang terdapat laut antar pulau yang sangat dalam yaitu Laut Banda (lebih dari 5.000 meter), dan laut sangat dalam antara dua busur kepulauan yaitu palung Weber (lebih dari 7.000 meter).

Dua jalur gunung api besar dunia juga bertemu di Nusantara dan beberapa jalur pegunungan lipatan dunia pun saling bertemu di Indonesia.

Kondisi tersebut merupakan bagian dari hasil dari proses pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasifik.

Zona pertemuan antara lempeng Indo Australia dengan lempeng Eurasia di lepas pantai barat Sumatera, selatan Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan lempeng Pasifik di bagian utara pulau Papua dan Halmahera.

Zona ini umumnya juga ditandai dengan keberadaan palung yang cukup dalam. Aktifitas tektonik yang terjadi menyebabkan terbentuknya deretan gunung api (volcanic arc) di sepanjang pulau Sumatera, Jawa-Bali-Nusa Tenggara, utara Sulawesi-Maluku, hingga Papua.

Deret gunung api di Indonesia merupakan bagian dari deret gunung api sepanjang Asia-Pasifik yang sering disebut sebagai Ring of Fire atau deret sirkum pasifik.

Bencana dan Kerugian Sejak 2006-2018
BNPB merilis setidaknya telah terjadi 7 (tujuh) kali bencana besar dalam kurun waktu 13 tahun terakhir. Berikut rentetan bencana, kerugian dan alasan status bencana tidak pernah dinaikkan menjadi bencana nasional.

[1] Gempa bumi Yogyakarta, terjadi (27/5/2006). Sutopo mengatakan bencana tersebut telah menimbulkan korban, meninggal 5.773 jiwa, luka-luka 32.081 jiwa, korban terdampak dan mengungsi 2.165.488 jiwa dan rumah rusak berat 390.077 unit.

“Kerugian diperkirakan mencapai 29,2 Triliun. Status bencana bukan Bencana Nasional,” kata Kepala Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di Gedung BNPB kepada awak media.

[2] Gempabumi Sumatera Barat, terjadi pada (30/9/2009). Tercatat bencana menelan korban meninggal 1.197 jiwa, korban luka-luka 2.902 jiwa, korban mengungsi 1,2 juta jiwa, rumah rusak 271.560 unit dan kerugian dikisaran 21,6 Triliun. Bencana ini juga bukan termasuk Bencana Nasional.

[3] Erupsi Merapi terjadi (26/10/2010) telah memakan korban meninggal 386 jiwa, korban terdampak & mengungsi 448,835 jiwa, rumah rusak 2.919 unit dengan total kerugian mencapai 4,23 Triliun, serta juga bukan Bencana Nasional.

[4]Tsunami Mentawai (25/10/2010) dengan korban meninggal dan hilang 503 jiwa, korban terdampak dan mengungsi 15.353 jiwa, rumah rusak 721 unit dengan kerugian 697,82 Miliar, serta bukan Bencana Nasional.

[5] Bencana Asap dan Karhutla sepanjang tahun 2015. Bencana ini menimbulkan korban meninggal 24 orang, lebih dari 600 ribu jiwa menderita ISPA, lebih dari 60 juta jiwa terpapar asap, 2,61 juta hektar hutan dan lahan terbakar .

“Kerugian ditaksir menjadi kerugian terbesar mencapai 221 triliun. Sebab bencana asap ini efeknya melumpuhkan aktivitas masyarakat dan mematikan perekonomian. Status bencana juga bukan Bencana Nasional,” kata Sutopo.

[6] Gempabumi Lombok (Juli-Agustus 2018). Sutopo mengatakan update terbaru bencana tersebut telah menelan korban meninggal 564 jiwa, luka-luka 1.584 jiwa, mengungsi 445.343 jiwa, mengakibatkan rumah Rusak 149.715 unit.

“Tercatat kerugian mencapai 17,13 Triliun dan sedangkan kebutuhan rehabilitasi dan rekontruksi mencapai 12,22 Triliun. Bukan Bencana Nasional,” ujarnya.

[7] Gempa bumi dan Tsunami Sulawesi Tengah terjadi pada September 2018 s/d 05 Oktober 2018 pukul 17.00 wib. Tercatat korban Meninggal 2.073 jiwa, korban Luka Berat 2.549 orang, korban hilang 680 orang, pengungsi 87,725 orang, rumah Rusak 67.310 unit, sekolah Rusak 2.736 unit.

“Jumlah ini masih terus bertambah, adapun kerugian belum keseluruhan dapat diperkirakan,” katanya.

Sikap Mukmin terhadap Bencana
Seorang mukmin meyakini bahwa setiap bencana yang menimpa umat manusia ada kaitannya dengan dosa.

Sebuah dosa akan mengundang bencana ketika tidak diselesaikan secara aturan agama, dilakukan secara terang-terangan dan tidak ada orang yang mengingkari. Ketika ketiga komponen ini terwujud, menjadi formulasi yang pas untuk mengundang bencana.

Oleh karena itu, orang yang beriman seharusnya meminimalisir dosa dan kemaksiatan, serta berupaya menyelesaikan setiap pelanggaran-pelanggaran syar’i sesuai dengan aturan Allah dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar agar “kapal kita tidak tenggelam”.

Sumber: kiblat.net

Loading...
loading...
loading...