India Dilanda Konflik: 31 Muslim Kashmir Tewas, 1.000 Lebih Luka-luka

by

Jumlah korban dalam unjuk rasa massal di Kashmir yang dimulai setelah gugur (syahidnya) komandan mujahidin muda Kashmir, Burhan Wani, dalam baku tembak dengan pasukan India pada hari Jumat lalu meningkat, sedikitnya 31 warga sipil telah tewas dan lebih dari 1.000 lainnya terluka sementara sekitar 300 petugas polisi India juga terluka, Anadolu Agency melaporkan Selasa (12/07/2016).

Di bangsal delapan rumah sakit SMHS di Srinagar, setiap pasien tergeletak dengan sapu tangan atau perban menutupi mata mereka.

Seorang gadis berusia 12 tahun adalah pengecualian di bangsal oftalmologi yang berisi pemuda dan anak laki-laki yang seluruhnya tiba beberapa hari terakhir, dengan peluru bersarang di mata mereka.

Menurut pemerintah negara bagian Jammu & Kashmir, di antara lebih dari 1.000 pemrotes sipil yang terluka oleh pasukan India yang menembaki pengunjuk rasa sejak Jumat malam secara brutal, 104 menderita cedera mata yang disebabkan oleh penggunaan senjata peluru yang tidak mematikan.

Peluru Pellets
Menurut dokter mata di rumah sakit, terdapat 94 pasien yang membutuhkan operasi mata; beberapa telah dilakukan sementara yang lain cemas menunggu giliran mereka.

Di satu tempat tidur, yang ditempati dua orang karena kekurangan ruang, Yasin, 16 tahun, memiliki peluru di mata kirinya.

Dia meninggalkan rumahnya di desa kecil di selatan Kashmir Jumat larut malam untuk menghadiri pemakaman Burhan Muzaffar Wani, komandan mujahidin Kashmir berusia 22 tahun yang kematiannya dalam bentrokan senjata dengan pasukan India memicu bentrokan massa dengan pasukan India hingga mengguncang lembah Himalaya yang disengketakan.

“Pada Sabtu pagi setelah kami melakukan pemakaman lalu terjadi bentrokan setelah saya melemparkan batu pada polisi dan tentara paramiliter seketika sesuatu tiba-tiba mengenai mata saya. Rasanya seperti pasir; sangat panas. Dan saya tidak bisa melihat,” Yasin mengatakan kepada Anadolu Agency.

Dia mengangkat sapu tangan yang menutupi matanya untuk memperlihatkan matanya yang merah terbakar dan sakit. Dia mengatakan penglihatannya kabur dan digerogoti rasa takut jika penglihatannya tidak akan pernah kembali.

“Sayangnya, 90 persen pasien ini akan memiliki gangguan penglihatan di kehidupan mereka. Sangat buruk bagi kita sebagai dokter melihat anak-anak muda yang dibutakan ini, “Dr. Sajad Khanday, seorang dokter mata senior, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Penggunaan senjata peluru pellets (curah) oleh polisi dimulai sebagai metode tidak-mematikan untuk membendung protes sipil massal di Kashmir pada tahun 2010, ketika lebih dari 100 tewas.

“Tapi itu bukan senjata non-mematikan. Membunuh setiap kesempatan bagi mereka di dunia, itu sama saja melumpuhkan mereka,” kata Khanday. “Kami telah melihat banyak pasien dengan cedera peluru sebelumnya, tetapi jumlah paling besar adalah 10 kasus per satu hari, kali ini dalam dua hari, kami melihat 100 kasus cedera peluru di mata.”

Khanday mengatakan bahwa meskipun posisinya sebagai dokter pemerintah melarangnya berbicara kepada media dia merasa memliki kewajiban moral untuk berbicara menentang penggunaan senjata peluru.

Polisi mengatakan satu cartridge berisi 400-500 peluru menyerupai bantalan bola. Ketika ditembakkan, cartridge melesat dan segera menyebarkan ratusan peluru dari satu titik, menyerang beberapa titik di keramaian secara bersamaan.

Khanday mengatakan semua pasien memiliki luka di tubuh bagian atas dengan peluru di dada, bahu, mata dan kepala mereka.

Baik pasien maupun dokter di rumah sakit mengatakan ada polisi berpakaian preman yang menunggu di rumah sakit mencatat rincian pasien untuk laporan polisi padahal banyak yang belum mampu datang ke dokter.

“Itulah sebabnya banyak orang tidak datang untuk berobat dan banyak yang datang ketika mereka tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan mata mereka sudah jauh lebih rusak,” kata Khanday.

Kashmir, wilayah Himalaya yang mayoritas Muslim, dipegang oleh India dan Pakistan di beberapa bagian dan diklaim oleh kedua negara secara penuh.

Kedua negara terlibat tiga kali perang – pada tahun 1948, 1965 dan 1971 – karena mereka dipecah pada tahun 1947, dua diantara perang tersebut memperebutkan Kashmir.

Sejak tahun 1989, kelompok-kelompok perlawanan muslim Kashmir di IHK telah berjuang melawan kekuasaan India atau memperjuangkan penyatuan dengan negara tetangga Pakistan.

Lebih dari 70.000 warga muslim Kashmir telah gugur sejauh ini dalam kekerasan, sebagian besar dari mereka oleh pasukan India. India mempertahankan lebih dari setengah juta prajurit di IHK.

Sedikit bagian dari Kashmir juga dipegang oleh China.

Sumber: jurnalmuslim.com

Loading...
loading...
loading...