Ibu di Sikka NTT: Saya Punya Anak Tiga Banci Ini, Tuhan yang Buat

by -3,165 views

Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kelompok waria atau transpuan berorganisasi untuk mengubah pandangan negatif sebagian masyarakat tentang keberadaan mereka.

Melalui organisasi Fajar Sikka, mereka yang memiliki kenangan getir menjadi transpuan, saling menguatkan, berbaur bersama masyarakat untuk berkegiatan sosial.

Di antara anggotanya adalah tiga bersaudara dari satu keluarga yang menjadi transpuan.

Florensia Nona, 73 tahun, bersenda gurau bersama teman-teman sebaya di bawah teduh pohon kersen, di pelataran rumah.

Mulutnya tak berhenti mengunyah kapur sirih yang dicampur dengan buah pinang. Barisan giginya hitam pekat, tapi masih terlihat kokoh.

“Saya tiap hari masih berkebun, menanam kacang,” katanya saat ditemui BBC News Indonesia di Desa Ipir, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (14/07).

Florensia Nona memiliki delapan anak. Tiga perempuan. Lima terlahir sebagai laki-laki, tapi tiga di antaranya, berubah menjadi perempuan seiring waktu.

“Mereka sampai besar, rambutnya panjang. Mereka datang ke dunia ini sebagai laki-laki. Tapi mereka duduk-duduk, dan lama-lama berjalan dengan gemulai,” katanya.

Sejak kecil, ketiganya memang tak pandai bekerja seperti lazimnya laki-laki: berkebun. Tapi untuk pekerjaan rumah seperti memasak, mereka jagonya, kata Florensia.

“Saya punya anak tiga banci ini, Tuhan yang buat,” kata Florensia sambil tersenyum.

Putra pertama Florensia yang menjadi transpuan adalah Ardianus yang kemudian akrab disapa Linda Ardian. Linda jarang pulang ke rumah saat remaja, karena selalu bertengkar dengan bapaknya.

Bapaknya tak suka Linda belajar mengikat tenun, karena dia mempercayai mitos yang berkembang di kampungnya bahwa lelaki yang menenun kain kelak akan jadi sasaran serangan babi hutan.

“Bapak marah, jangan ikat tenun, nanti babi hutan gigit. Makanya si Linda ini pergi. Tapi mama tidak marah,” kata Florensia.

Bukan hanya itu, bapak juga marah dengan Linda, karena membantu memasak di rumah.

“Bapak marah ini, sampai pukul. Sebab kamu ini laki, kenapa seperti perempuan. Si Linda ini bilang, bapak jangan marah. Kami masak ini kan untuk bapak,” kenang Florensia.

Tapi, sejak bapak meninggal sembilan tahun lalu, segala urusan adat istiadat keluarga kini diwakili oleh Linda. Mulai dari urusan tanah, pernikahan hingga rapat pengambilan keputusan.

“Hanya yang Linda, bisa omong soal urusan rumah adat. Sementara mereka yang dua (anak laki-laki) itu, belum bisa untuk urusan adat di rumah,” kata Florensia.

Florensia juga bercerita, suaminya kerap membedakan perlakuan dua anak laki-laki lainnya dari tiga anak yang menjadi transpuan.

“Mereka tiga orang ini sudah jadi perempuan. Kamu dua orang ini harus isap rokok, minum arak,” kata menirukan ucapan mendiang suaminya saat masih hidup.

Tapi bagaimana pun, Florensia mengatakan, “Mama sayang, karena mereka anak kandung saya.”

Anak kesayangan itu, Linda, saat ini bekerja sebagai penjaga kos-kosan di Kota Maumere.

Kenangan pahit masa kecil diperlakukan berbeda dari dua adik laki-laki yang kini sudah menikah, masih membekas dalam ingatannya.

“Jadi waktu itu, adik (laki-laki) saya dua orang tak pernah temanan (dengan) kita. Selalu dengan bapak, makan dengan bapak, isap rokok dengan bapak. Sedangkan kami tiga orang itu selalu dengan mama,” kata Linda.

Selain itu, Linda juga dididik dengan keras untuk menjadi laki-laki.

“Kadang saya dipukul, saya disiksa, kadang dikasih telanjang, kadang dikasih botak rambut, tapi saya terima saja, saya tetap lawan sama orangtua saya. Kalau mereka enggak mau, ya saya lawan, saya lari sembunyi,” kata Linda dengan suara bergetar.

Sikap bapaknya sempat melunak, saat Linda mulai bekerja sebagai penjaga toko, dan membantu kehidupan keluarga.

“Jadi waktu itu bapak bilang, biar kamu jadi banci, tapi kamu tetap kasih saya uang untuk kita hidup di rumah. Jadi waktu saya kerja itu uang gaji saya itu selalu saya kasih ke bapak,” kata Linda.

Hingga napas terakhir bapak, Linda tetap dengan pendirian menjadi seorang transpuan.

“Saya sudah memaafkan (bapak) waktu putus napas. Cuma bapak pesan, tak boleh mencuri, tidak boleh berbuat sembarang, berbuatlah baik kepada orang,” kata Linda.

Linda merasakan menjadi seorang perempuan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia menaruh hati dengan laki-laki, teman sekelasnya.

“Jadi waktu itu, setelah berteman dengan dia. Saya sudah merasa, saya ini benar-benar perempuan,” kata Linda.

Tapi saat SD, Linda masih malu-malu untuk mendeklarasikan diri sebagai seorang transpuan.

Tidak seperti adiknya, Lempianus Nong Pitoi yang sekarang akrab disapa Lola Pitaloka.

Lola tak pernah merasakan bangku sekolah. Menurut Linda, adiknya lebih leluasa untuk menjadi transpuan karena tak terbelenggu rasa malu dari lingkungan sekolah.

“Saya yang duluan (jadi transpuan di keluarga), sejak kecil itu sudah lenggak-lenggok. Sudah bermain (peran) perempuan. Boneka-boneka. Masak-masak,” ujar Lola.

Saat pertama kali melihat Linda bersolek dan menggunakan pakaian perempuan, Lola mengaku sempat terkejut.

“Bukan karena saya yang ada, atau saya yang suruh seperti saya. Harus berdandan seperti saya, harus bergaya seperti perempuan. (Datang) dengan sendirinya,” kata Lola.

Mereka berdua jarang berbagi bercerita tentang perubahan diri menjadi transpuan. Tapi ada kalanya, mereka bertengkar karena masalah kosmetik dan pakaian.

“Pernah bertengkar, karena baku rampas bedaknya. Pensil alisnya. Ini saya punya. Ini saya punya, tak boleh pinjam. Beli, kau punya sendiri,” kata Lola sambil tersenyum, mengenang masa remaja bersama kakaknya.

Dulu, keduanya juga kompak saling memberi peringatan ketika bapak sedang marah di rumah, termasuk berbagi tempat persembunyian untuk bersolek dan berpakaian perempuan.

Anak lelaki yang menjadi transpuan berikutnya adalah Serpinus Nong Essy, sekarang disapa Essy Moff. Tapi ia sudah lama merantau ke Kalimantan, dan belum kembali ke kampung halaman.

Florensia Nona bukan hanya memiliki tiga anak, tapi juga punya tiga keponakan yang menjadi transpuan—sepupu dari Linda, Lola dan Essy.

Salah satunya, Petrus Peter Song atau akrab dipanggil Chintya Datores. Ia mengaku sudah merasa menjadi perempuan saat duduk di bangku sekolah dasar.

Sampai akhirnya, beranjak remaja, Lola mengajak Chintya bekerja di sebuah salon di Kota Maumere. Dari sinilah, ia mulai terbiasa berdandan dan menggunakan pakaian perempuan.

“Kebiasaan Kakak Lola ajarin seperti itu, saya bangun, mandi, saya berdandan, saya berpakaian perempuan, sudah saya duduk manis di depan (salon),” kata Chintya

Dari titik ini pula, Chintya mulai bergaul dengan komunitas transpuan di Kabupaten Sikka dan memulai usaha salon sendiri, termasuk memproduksi tenun ikat.

“Saat itu sudah bisa bekerja mencari uang untuk biaya kehidupan papa dan mama,” katanya.

Dari keluarga besar transpuan ini, Lola yang paling aktif berorganisasi di Fajar Sikka. Chintya mendapat bantuan pemasaran produksi tenun ikatnya dari Fajar Sikka, dan Linda sesekali ikut berkumpul untuk arisan atau kegiatan berdoa bersama.

Fajar Sikka
Pagi menjelang siang. Teras sekretariat Fajar Sikka yang berada di Kota Maumere hampir tertutup kiriman barang kebutuhan sehari-hari: beras, minyak, gula, bumbu dapur, mie instan, sampai sabun.

Lola ikut mengemas barang-barang tersebut menjadi bungkusan-bungkusan kecil.

Bungkusan ini akan dibagikan kepada puluhan keluarga terdampak Covid-19 di daerah pelosok, bagian Timur Kota Maumere.

Setelah selesai mengepak, Lola menyapu keringat di dahi dengan tisu. Sesekali bercermin, memastikan make up di wajahnya tidak luntur.

Mobil jemputan pun tiba. Ia bersama pengurus Fajar Sikka pun duduk manis di atas mobil bak yang dimodifikasi tempat duduknya dengan kayu.

Warga penerima bantuan sembako sudah berkumpul di salah satu rumah.

Senyum dan tawa terkembang menghiasi wajah mereka, saat Lola mulai membuka pertemuan dengan menyanyikan sebuah lagu daerah…

“Tambah lagi, Kak!” teriak beberapa warga, menandakan mereka tak cukup dihibur satu lagu.

‘Artis’ dari Fajar Sikka pun hanya bisa menghela napas, tapi juga senyum-senyum malu mendapat perhatian dari warga. “Okeh, satu lagu lagi ya,” kata Lola diiringi tawa dan tepuk tangan dari warga.

Selama masa pandemi covid-19, Fajar Sikka lebih banyak beraksi mengelola bantuan sembako dari dan untuk masyarakat, termasuk berkampanye tentang protokol Covid-19 dengan berkeliling kampung, sambil membagikan masker gratis.

Dengan bergabung di Fajar Sikka, Lola ingin mengubah stigma masyarakat terhadap transpuan. Ini juga berangkat dari pengalaman pahit menjadi transpuan ‘pangkalan’, yang kerap mendapat kekerasan. “Pernah disiram oli kotor, bahkan sampai air kencing, disiram,” katanya.

“Saya bergabung di Fajar Sikka, saya kepingin berubah, tidak seperti dulunya lagi, tidak nyebong (mangkal) di jalan. Dengan bergabung di Fajar Sikka ini, jadi kita tuh mau menunjukkan kelakuan yang baik, ya kita dihargai begitu oleh masyarakat,” kata lola.

Salah satu penerima bantuan, Fransiska Kondeja Solapung mengaku komunitas transpuan ini yang pertama memberinya sembako selama pandemi. “Dengan keadaan kami ini, rasa terharu. Kami rasa senang, ada perhatian dari waria ini,” katanya.

Penduduk Desa Talibura belum lama ini diterjang banjir, termasuk menjadi wilayah dengan tingkat kasus demam berdarah yang tinggi.

Pendiri sekaligus Ketua Fajar Sikka, Hendrika ‘Bunda Mayora’ mengatakan sasaran penerima bantuan sembako sudah disurvei terlebih dahulu. “Orang-orang betul-betul yang terdampak, sudah kami observasi, sudah kami ansos (analisa sosial), pergi lihat, dan survei, kami bantu,” katanya.

Penyaluran sembako ini bukan yang pertama. Penyaluran sembako ini sudah dilakukan beberapa kali selama masa pandemi.

Bantuan sembako ini berasal dari para donatur, yang mempercayai Fajar Sikka dalam mengelola dan mendistribusikan untuk mereka yang terdampak Covid-19.

“(Para donatur) melihat aksi-aksi kami melalui akun Facebook yang saya unggah, mereka lihat, bukan hanya waria, dari sekian banyak waria yang kami tolong, tetapi juga beberapa teman-teman disabilitas, mama-mama janda, lansia yang kami bantu,” kata Mayora.

Fajar Sikka dirintis 2018 lalu. Berawal dari kelompok doa yang diberi nama ‘Gembala Baik’, organisasi ini kemudian berkembang, ‘berinklusi’ dengan masyarakat.

Kegiatan Fajar Sikka beragam. Mulai berkeliling kampung mengajar anak-anak, membantu pesta perkawinan warga, penyuluhan pertanian, doa bersama sampai arisan. Sebagian kegiatan masih berlangsung di masa pandemi.

Sekarang anggotanya hampir mencapai 45 orang, baik dari kalangan transpuan dan transman di Kabupaten Sikka. Umumnya, anggota Fajar Sikka menjadi tulang punggung keluarga; menyekolahkan adik-adik, belanja bulanan rumah, sampai merawat orangtua yang sudah renta di rumah.

36 Tahun Baru Punya KTP
Pandemi Covid-19 ini juga memukul usaha kelompok transpuan di Kabupaten Sikka. Salon tutup karena sepi pelanggan, pesanan katering makanan mandek, dan penjualan tenun ikat, seret.

Selain aktivitas membantu mengelola dan mendistribusikan sembako, Fajar Sikka juga mengadvokasi anggotanya memperoleh Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Selama ini, transpuan di Kabupaten Sikka kesulitan memiliki KTP. Permasalahannya, karena mereka kabur atau terusir dari rumah, tanpa membawa identitas diri, kehilangan KTP selama di rantau, sampai enggan mengurus karena minder menjadi transpuan.

“Saya resmi jadi warga negara Indonesia setelah umur 36 tahun,” kata anggota Fajar Sikka, Marianus Juni Migo, atau akrab disapa Cece sambil tertawa kecil.

Cece, salah satu anggota Fajar Sikka yang dibantu komunitasnya untuk memperoleh KTP.

Tim advokasi dari Fajar Sikka berkali-kali mendatangi kantor dinas catatan sipil setempat, mendesak agar pejabat setempat mengeluarkan KTP untuk warganya.

Cece yang baru pertama kali punya KTP, selama ini kesulitan memperoleh kartu identitas tersebut setelah merantau ke Kota Maumere dari tanah kelahiran di Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

“Saya anak pertama, adik-adik sudah berkeluarga semua. Jadi adik-adik sudah punya kartu keluarga, saya sendiri yang belum. Orangtua sudah almarhum,” katanya.

Sekretaris Fajar Sikka, Andreas Nong Johan yang akrab disapa Yolanda mengatakan, KTP menjadi persoalan mendasar bagi transpuan. Tanpa KTP, mereka selama ini kesulitan mencari kerja, mendapat pinjaman modal usaha hingga mendapatkan bantuan sosial di masa pandemi.

“Kalau untuk pinjam modal ke bank, ke koperasi ke lembaga keuangan kan butuh identitas yang lengkap,” kata Yolanda.

Dalam masa pandemi, tim advokasi Fajar Sikka juga mengurusi bantuan sosial dari pemerintah untuk anggotanya yang mengalami kesulitan ekonomi.

“Kami ambil data untuk program BST (bantuan sosial tunai) yang langsung kami urus di kantor dinas sosial. BST itu untuk pertama, kami beberapa orang yang kami urus kurang lebih ada 15 orang itu dapat semua,” kata Yolanda.

Fajar Sikka telah menjadi matahari terbit di tengah pandemi. Ketuanya, Mayora mengatakan akan membawa organisasi ini menjadi contoh bahwa transpuan juga punya sisi bersolidaritas di tengah keberagaman Indonesia.

“Fajar Sikka akan menjadi rumah, menjadi tempat yang aman dan damai, tempat kami berbagi, tempat kami berekspresi, tempat kami bisa mencurahkan kemampuan seluruh keberadaan diri kami,” kata Mayora.

Sumber: suara.com

loading...
loading...