Hukumnya Menerima Lamaran Lelaki yang Belum Resmi Bercerai

by -1,377 views

Pertanyaan:
Saya pacaran sama lelaki yang cerai secara agama selama 1 tahun dan belum diurus cerai ke pengadilan. Dia ingin melamar saya. Yang saya ingin tanyakan apakah saya boleh menerima lamarannya dan hukumnya bagaimana? Terima kasih.

Jawaban:
Terima kasih atas pertanyaan Anda.

Intisari
Secara agama, perceraian lelaki dengan mantan istrinya itu memang sah. Akan tetapi, lelaki tersebut belum sah bercerai secara hukum negara karena belum ada putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap yang menyatakan bahwa perceraian telah resmi terjadi.

Anda sebaiknya saat ini tidak menerima lamaran atau pinangannya sebelum perkawinan lelaki dengan istrinya itu putus di pengadilan. Anda harus pikirkan konsekuensinya jika Anda akhirnya menikah dengan lelaki tersebut di kemudian hari.

Hal ini tentu menimbulkan risiko hukum bagi Anda dan lelaki tersebut. Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

Ulasan

Poligami
Secara agama, perceraian lelaki dengan mantan istrinya itu memang sah. Akan tetapi, lelaki tersebut belum sah bercerai secara hukum negara karena belum ada putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap yang menyatakan bahwa perceraian telah resmi terjadi.

UU Perkawinan Menganut Asas Monogami
Jika perceraian belum terjadi sementara lelaki itu ingin melamar kemudian menikahi Anda, itu berarti lelaki tersebut harus mengurus perceraiannya terlebih dahulu di pengadilan. Jika lelaki itu tidak juga mengurus perceraiannya, akan tetapi kemudian menikahi Anda, ini berarti lelaki tersebut melakukan poligami.

Pada dasarnya, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU Perkawinan”) menganut asas monogami dimana suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri dan seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. Namun, UU Perkawinan memberikan izin bagi suami untuk memiliki lebih dari satu istri dengan persyaratan:

  • Adanya persetujuan dari istri/istri-istri
  • Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup istri-istri dan anak-anak mereka
  • Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka.

Pengadilan hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila:

  • Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri
  • Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan
  • Istri tidak dapat melahirkan keturunan

Sehubungan dengan pertanyaan Anda, Pasal 9 UU Perkawinan berbunyi:

Seorang yang masih terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi, kecuali dalam hal yang tersebut pada Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 Undang-undang ini.

Jadi, pada dasarnya lelaki tersebut masih berstatus sebagai suami orang lain dan tidak boleh menikah lagi jika perkawinannya belum putus. Dengan kata lain, lelaki tersebut tidak dapat menikahi Anda tanpa persetujuan dari istrinya yang belum diceraikannya secara resmi di pengadilan dan/atau tanpa memenuhi persyaratan-persyaratan di atas.

Sahnya Perceraian
Putusan mengenai gugatan perceraian itu diucapkan dalam sidang terbuka dan suatu perceraian dianggap terjadi beserta segala akibat-akibatnya terhitung sejak saat pendaftarannya pada daftar pencatatan kantor pencatatan oleh Pegawai Pencatat.

Bagi mereka yang beragama Islam, suatu perceraian dianggap terjadi beserta segala akibat-akibatnya terhitung sejak terhitung sejak jatuhnya putusan Pengadilan Agama yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

Di samping itu, talak/cerai yang diakui secara hukum negara adalah yang dilakukan atau diucapkan oleh suami di pengadilan agama.

Ketentuan di atas semakin memperjelas bahwa perceraian yang baru putus secara agama belum sah secara hukum negara jika tidak dilakukan melalui pengadilan.

Risiko Hukum Menerima Lamaran
Menerima lamaran seseorang yang belum resmi bercerai sebenarnya tidak ada dampak hukumnya. Namun, Anda sebaiknya tidak menerima lamarannya karena Anda harus memikirkan konsekuensinya jika Anda kemudian menikah dengan lelaki tersebut. Hal ini tentu menimbulkan risiko hukum bagi Anda dan lelaki tersebut.

Kemungkinan risiko hukum yang akan Anda dan lelaki itu terima adalah pembatalan perkawinan jika lelaki tersebut pada akhirnya menikah Anda tanpa persetujuan istri sebelumnya. Perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.

Sebagaimana informasi yang kami dapat dari laman Pengadilan Agama Pemalang, Pembatalan Nikah adalah permohonan yang diajukan oleh pihak istri, suami, keluarga dalam garis lurus ke atas suami atau istri, dan pejabat yang berwenang/pejabat tertentu untuk membatalkan suatu pernikahan yang telah tercatat dengan resmi. Alasan pembatalan nikah antara lain pihak suami telah menikah lagi (poligami) tanpa izin pengadilan.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Sumber: hukumonline.com

Loading...
loading...
loading...