Hukum Menertawakan Orang Kentut

by

Kentut merupakan fenomena alamiah yang semua orang pasti mengalaminya.

Namun dalam kondisi tertentu, kentut kadang keluar tanpa bisa dikontrol sehingga suaranya terdengar atau baunya tercium orang sekitar.

Hal tersebut biasanya mengundang timbulnya ejekan atau gelak tawa dari orang sekitar tersebut.

Lantas bagaimana hukum menertawakan kentut dalam Islam?

Jika gelak tawa ketika keluarnya kentut dimaksudkan untuk mengejek dan merendahkan orang yang kentut, maka hukumnya maksiat dan dosa.

Hal tersebut karena menyakiti perasaan orang yang kentut.

Sementara menyakiti perasaan orang lain dalam Islam tidak diperbolehkan, meskipun hal itu dipicu oleh keluarnya kentut.

Ini sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Is-‘adur Rafiq berikut;

و منها الضحك لخروج ريح من شخص أو على مسلم من المسلمين أو ذمي إذا كان استحقارا به لما فيه من الإيذاء الغير المحتمل و إيذاء المسلم وكذا الذمي حرام بل كبيرة

“Termasuk bagian dari maksiat adalah tertawa karena keluarnya kentut dari seseorang atau atas orang Muslim atau non-muslim, jika hal itu dimaksudkan untuk mengejeknya karana itu termasuk bagian dari menyakiti orang lain yang bersangkutan. Sementara menyakiti orang Muslim, begitu juga non-muslim, adalah haram bahkan dosa besar.”

Disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, dari Abdullah bin Zam’ah, dia berkata;

أن النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَظَهُمْ فِي ضَحِكِهِمْ مِنْ الضَّرْطَةِ وَقَالَ : لِمَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَفْعَلُ

“Sesungguhnya Nabi Saw memperingati para sahabat ketika mereka tertawa dari kentut (yang berbunyi). Nabi berkata; ‘Mengapa kali mentertawakan sesuatu yang kalian juga melakukannya?’.”

Oleh karena itu, jika kebetulan mendengar keluarnya kentut dari seseorang, maka sebaiknya kita mengacuhkan saja dan pura-pura tidak tahu.

Jangan sampai kita menertawainya, apalagi meledeknya.

Sumber: bincangsyariah.com

Loading...
loading...
loading...