Hukum Istri Antar Jenazah Suami ke Makam

by -7,047 views

Dalam kajian fikih, seorang istri yang ditinggal suaminya karena meninggal atau cerai harus menjalani iddah.

Yang dimaksud iddah adalah masa berdiam diri bagi seorang istri di dalam rumahnya.

Masa atau jangka waktu iddah bagi wanita terbagi dalam tiga kategori. Pertama, Jika wanita itu hamil, maka masa iddahnya adalah sampai dia melahirkan, sesuai dengan firman Allah SWT:

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَن يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“… sedangkan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya …” (QS. ath-Thalaq: 4)

Kedua, jika wanita tidak hamil, masa iddahnya adalah 4 bulan 10 hari. Hal itu juga telah ditetapkan Allah:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“… dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari …” (QS. al-Baqarah: 234)

Ketiga, wanita diceraikan suaminya saat haid, maka masa iddahnya adalah tiga kali menstruasi berturut-turut. Ketentuan ini diatur dalam firman Allah:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

” Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu, dengan menahan diri mereka (dari menikah) selama tiga kali suci (dari haid) …” (QS. al-Baqarah: 228)

Selama menjalani masa iddah, beberapa hal yang harus perhatikan wanita adalah:

  1. Tidak boleh dipinang atau bertunangan
  2. Tidak boleh dinikahkan atau menikah. Hal ini untuk menghindari bercampurnya benih mantan suami dengan suami baru. Selain itu, untuk memastikan rahim wanita tersebut benar-benar bersih dari benih mantan suami.
  3. Tidak dibenarkan memakai hiasan atau pakaian yang indah-indah.
  4. Tidak dibenarkan untuk keluar rumah atau tidur di rumah yang bukan kebiasaannya. Tetapi tidak mengapa jika wanita itu tinggal di rumah orangtuanya.
  5. Tidak boleh keluar rumah tanpa tujuan atau keperluan kecuali mendesak. Hal ini untuk mencegah terjadinya fitnah orang-orang di sekitarnya. Berbeda dengan wanita dalam masa iddah yang tidak memiliki keluarga dan terpaksa keluar mencari nafkah, membeli keperluan dapur, dan sebagainya.

Lantas, bagaimana dengan hukum wanita ikut mengantarkan jenazah suaminya ke kubur?

Pendapat Ulama Soal Wanita Antar ke Kubur
Nik Mohd Kamal di halaman Facebooknya membagikan pendapat ulama Habib Ali Zaenal Abidin Bin Abu Bakar Al Hamid dari Malaysia terkait hal ini.

Menurut Habib Ali Zaenal, wanita tidak boleh mengantarkan jenazah suaminya ke kubur karena masa iddah-nya telah dimulai. Sebenarnya, mengiringi jenazah dengan doa itu lebih penting daripada harus hadir secara fisik di kuburan.

Memang, setabah apa pun seorang wanita, hatinya pasti tersayat melihat keadaan terakhir suaminya. Tapi Allah telah menetapkan hukum bahwa wanita dalam masa iddah tidak boleh meninggalkan rumah suaminya kecuali darurat.

Darurat yang dimaksud bukan menurut akal pikiran manusia, tapi mengikuti ketentuan syariah. Di antara yang membenarkan wanita dalam masa iddah keluar rumah adalah jika keselamatannya terancam.

Tetapi jika alasannya karena ingin ziarah kubur atau mengantar jenazah suami, maka itu bukan sebab yang darurat.

Ibadah itu harus sesuai dengan peraturan Allah, bukan hawa nafsu. Jadi jika ingin suami yang telah meninggal mendapatkan ridha Allah Ta’ala, istri sebaiknya tidak keluar dari rumah suaminya selama 4 bulan 10 hari.

Yang memberi wanita seorang suami dan yang tidak mengizinkan keluar adalah Allah SWT, jadi kita harus mematuhi perintah Allah. Bukan mengikuti apa yang orang katakan.

Ambil pelajaran dari kisah Ummu Salamah yang semula ingin menunjukkan bagaimana ratapannya yang luar biasa saat suaminya meninggal. Tapi setelah dilarang oleh Nabi, dia menurut dan menjalankan apa yang Nabi ajarkan.

Dia pada akhirnya diberi hadiah oleh Allah dengan menikahi pria terbaik di dunia, yaitu Rasulullah sendiri.

Pelajaran moralnya, jika memprioritaskan Allah, pasti ada pahala nantinya. Terlepas dari apakah akan diberikan di dunia atau disimpan untuk di akhirat.

Sumber: dream.co.id

Loading...
loading...
loading...