Hukum Gugat Cerai Karena Masalah Ekonomi Atau Terlilit Hutang

by

Jika anda sekarang dalam masalah yang sulit mungkin difikiran anda ingin cerai karena masalah ekonomi yang ada pada keluarga anda, banyak sekali orang yang mengalami masalah ini dan berujung pada perceraian.

Sekarang ini memang barang apapun bisa di kredit sampai dengan handphone yang murah saja sekarang bisa dikredit sehingga menyebabkan banyak orang yang terjerat riba.

Namun mereka itu tidak pernah menyadari hal tersebut bahkan efek dari RIBA ini memang sangatlah berbahaya untuk kehidupan anda di dunia dan juga di akherat dan tentang hal riba kami sudah membahasnya di artikel Bahaya Riba  yang sudah kami berikan sebelumnya untuk anda

Namun untuk sekarang ini kami ingin membahas mengenai perceraian yang sangatlah tidak disukai oleh Allah SWT , menurut pandangan kami di masyarakat dan kami sudah mengunjungi beberapa LBH (lembaga bantuan hukum) diwilayah kami Purwokerto kami mendapati kalau banyak sekali orang yang bercerai karena masalah ekonomi.

Banyak istri yang menggugat cerai suaminya karena masalah hutang, ataupun karena suami seorang pengangguran sehingga tidak bisa memberikan nafkah kepadanya, dan juga ada orang yang ingin menggugat cerai suaminya karena masalah hutang.

Suami sudah terjerat hutang riba yang begitu banyak sampai pendapatan tiap bulannya hanya untuk menutup hutang saja tidak bisa menafkahi keluarga bahkan untuk makan saja masih bingung.

Kali ini kami akan membahasnya secara lengkap dan juga jelas mengenai perkara ini agar anda tidak salah paham dan tidak salah kaprah mengenai hal ini.

Gugat Cerai Karena Ekonomi
Hal pertama yang akan kita bahas adalah memang diperbolehkan adanya perceraian antara suami dan juga istri apabila memang ada kebutuhan dan juga sebab-sebab tertentu.

Dan salah satu dari sebab perceraian adalah ketika suami sudah tidak lagi bisa untuk menafkahi istri sebagaimana mestinya karena terlilit hutang ataupun tidak memiliki pekerjaan dan juga lainnya.

Pendapat ini sudah di utarakan oleh Imam Ahmad dan juga Imam Syafi’i kalau suami dan istri itu memang bisa dipisahkan dan diputuskan oleh hakim kantor urusan agama karena suami sudah tidak memberi nafkah kepada suami (fiqh sunah, 2:281), QS. Al-Baqarah: 229

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَن يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 229)

Dan kita juga telah menyadari dengan baik kalau nafkah kepada istri itu memiliki hukum wajib dan apabila istri tidak dinafkahi istri juga berhak untuk menggugat cerai karena suami tidak memperlakukan istri dengan baik dan lepas dari tanggung jawabnya untuk menafkahi QS. Al-Baqarah: 231

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ ۚ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِّتَعْتَدُوا ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ ۚ وَلَا تَتَّخِذُوا آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai (akhir) idahnya, maka tahanlah mereka dengan cara yang baik, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik (pula). Dan janganlah kamu tahan mereka dengan maksud jahat untuk menzhalimi mereka. Barangsiapa melakukan demikian, maka dia telah menzhalimi dirinya sendiri. Dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan. Ingatlah nikmat Allah kepada kamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kamu yaitu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), untuk memberi pengajaran kepadamu. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 231)

Pada Al-Baqarah ayat 229 memang seorang suami itu dilarang untuk memberikan kemudharatan, hal ini terkait dengan hal yang memberatkan dan juga membahayakan sedangkan memberikan nafkah kepada istri juga hal yang wajib dan termasuk dalam hal tersebut.

Sayid Sabiq pernah mengatakan kalau wajib hukumnya untuk hakim {kantor urusan agama} untuk menghilangkan sesuatu yang membahayakan dan juga memberatkan {fiqh sunnah, 2:288}

Dan ada pendapat yang disepakati para ulama kalau Hakim{kantor urusan agama} itu memiliki hak untuk bisa memisahkan (menceraikan) karena kepergian suami meninggalkan istrinya, ketidak mampuan suami untuk bisa memberi nafkah, dan istri bisa menuntut cerai karena masalah ekonomi yang dialaminya ini, dan hal ini jauh lebih menyakitkan dan memang keadaaanya begitu parah sehingga hakim memang memiliki hak untuk memisahkannya (Fiqh Sunnah, Sayid Sabiq, 2:288)

Dan seperti yang sudah ditulis pada QS. Al-Baqarah: 229 yang ada diatas tadi kalau semisalkan istri menuntut cerai karena masalah ekonomi atau ketidakmampuan untuk memberikan nafkah maka suami itu harus membiarkan istri untuk bisa menyelesaikan masa iddahnya secara baik.

Meskipun istri tidak menginginkan hal tersebut dan suami tidak akan berdosa, namun apabila istri memang menuntut perceraian karena suami memang sudah tidak bisa memberikan nafkahnya maka suami itu sangatlah WAJIB untuk mengabulkan permintaannya, namun kalau istri bisa ridha dalam menerima keadaan suami dan tidak mengharapkan nafkah dari suami sekarang ini maka sebaiknya istri itu tidak meminta perceraian.

Sumber: rukun-islam.com

Loading...
loading...
loading...