Hal Paling Menyeramkan Dalam Pernikahan, Bukan Perselingkuhan Tapi Buta-Tuli-Bisu

by -8,766 views

Dalam kehidupan pernikahan, komunikasi adalah hal paling penting. Kalau kebutuhan hatimu terpenuhi, baru merupakan standar pernikahan yang sehat. Kalau hatimu terpuaskan, hari-harimu pasti akan lebih berarti.

Aku suka melihat sebuah acara TV yang isinya adalah suami istri yang ingin bercerai. Setelah menikah puluhan tahun, mereka muncul di TV dan menceritakan akan pernikahan mereka yang sudah di ujung tanduk.

Sang istri menitikkan air mata, sambil mengatakan hal yang selalu disimpan dalam hatinya: “Bahkan saat aku terjatuh dan kakiku terkilirpun, aku tetep harus beresin rumah dan jaga anak, sedangkan dia, sama sekali tidak peduli akan apa yang ada di rumah.”

Suaminya hanya tahu bekerja, pulang ke rumah menunggu makanan tersedia, selesai makan ia akan pergi bermain dengan ponsel dan komputernya. Kalau dia ada kebutuhan seksual, ia akan mencari sang istri. Namun keesokan harinya, semua kembali seperti biasa, selain kehidupan sehari-hari yang memang harus dilakukan, sisanya. Komunikasi mereka nol.

Suaminya hanya menjawab, “Suami istri, ada apa lagi yang bisa diomongin?”

Sang istri hanya memandangnya, tanpa berkata sepatah katapun. Kemudian di layar kaca muncul seorang penengah bagi mereka berdua yang mencari jalan keluar.

Namun siapa sangka penengah ini ternyata memihak pada sang suami, “Cuman karena ini aja kamu mau bercerai? Alasan macam apa ini? Aku kasih tahu ya, suami kamu itu udah termasuk baik, cari uang lebih pinter dari kamu, jujur lagi, sepulang kerja langsung pulang ke rumah. Zaman ini, ada berapa lelaki yang langsung pulang setelah kerja?”

Sang istri hanya menerima dengan kesedihan, kemudian menjawab, “Tapi, aku rasa pernikahan itu gak kayak gini”

Namun penengah itu memotong kalimatnya, “Ah kamu terlalu mengada-ngada”

Istri menjawab, “Tapi aku tidak puas, aku menjalani hari dengan tekanan”

Penengah itu menjawab, “Berarti kamu masalahnya!”

Melihat sampai titik ini, aku benar-benar tidak bisa terima. Sebenarnya aku sangat memuji wanita itu, dia bahkan berani untuk berkata, “Aku tidak puas”. Kalimat ini, mungkin memang tersimpan dalam hati, tapi hanya sedikit orang yang benar-benar bisa mengucapkannya. Karena akibat dari kata-katanya, biasanya hanyalah kata-kata menyakitkan dari orang lain yang menghakimi dirinya.

Jadi, biasanya mereka hanya bisa berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja, padahal yang sebenarnya, hanya merekalah yang tahu.

Temanku pernah berkata, dia punya teman kantor yang sangat licik, sampai akhirnya dia cuman bisa keluar dari kerjaan itu, hatinya sangat sedih. Sepulang ke rumah, dia menceritakannya pada suaminya, siapa sangka sang suami memandangnya sinis sambil berkata, “Ini bukannya kamu sendiri yang bodoh?” Dia hanya bisa meneruskan masak makan malam sambil menitikkan air mata.

Gagal dalam pekerjaan itu memang sudah tidak bisa apa-apa lagi, tapi bahkan orang yang paling dekat sekalipun juga menanggapinya seperti itu, tentu sangat menyakitkan bukan?

Aku juga ingat, suatu kali kami semua pergi bermain bersama, kemudian di tengah jalan, kita harus melewati sebuah batu yang cukup tinggi, aku melihat semua suami lain langsung mengulurkan tangan menarik istri mereka.

Sedangkan suami temanku ini, dia melompat sendiri dan langsung jalan begitu saja. Temanku mengenakan rok dan high heels, kemudian dia berteriak dari belakang supaya suaminya membantunya, namun suaminya tidak mendengar, dia berjelan semakin jauh.

Temanku hanya berteriak “Ihh budek!” sambil tangannya ditarik oleh suami orang lain. Menurutku, bukan telinganya yang tuli, tapi hatinya. Hatinya tidak mampu mendengar, tidak bisa merespon sinyal dari sang istri dan sama sekali tidak tahu kebutuhannya.

Jelas saja dia tidak bisa memberikan jawaban apa-apa, waktu istrinya membutuhkan, dia tidak bisa membantu, waktu istrinya sedih, dia tidak bisa menghibur, bahkan malah menambahkan bumbu yang membuatnya lebih tidak sedap. Namun dia sama sekali tidak merasa ada yang salah, dia merasa, suami istri itu ya seperti ini.

Dia sudah mencari uang dengan susah, itu kewajibannya, sedangkan semua harapan dan keinginan istrinya, itu hanyalah mengada-ngada.

Temanku berkata, dia bahkan sudah menyerah untuk mencoba berkomunikasi dengan suaminya. Karena setiak kali ingin bicara, dia selalu ingat akan jawaban dari sang suami yang sangat dingin dan menyakitkan, akhirnya di selalu menyimpannya dalam hati.

Aku sangat mengerti perasaannya, pasangan yang “buta tuli bisu” seperti ini tentu sangat menyedihkan. Ada banyak pria yang dalam pekerjaannya merupakan pria yang hebat, dia mampu menyelesaikan banyak persoalan dan berkomunikasi dengan banyak orang.

Namun sesampainya di rumah, melihat sang istri di depannya, dia langsung mematikan semua kemampuan berkomunikasinya yang begitu baik. Kemudian menjadi seorang suami yang bisu, tuli bahkan buta. Apa yang istrinya katakan, ia tidak dengar, apa yang istrinya lakukan, ia juga tidak lihat, apa yang istrinya ingin dia mengerti, dia tidak mau mengatakan apa-apa.

Dalam sebuah pernikahan, wanita memang membutuhkan dorongan dan semangat lebih dari pada pria. Waktu wanita mengatakan, “Bungaku udah mekar nih…”

Sebenarnya dia hanya ingin sedikit penghargaan atau pujian dari sang suami, dia berharap lelakinya akan menjawab, “Wah bagus ya!”

Bukan jawaban dingin,“Yang kayak gitu harusnya dibuang aja”

Tentu saja, tanpa cinta, tanpa hubungan, hidup akan terus berjalan, namun kehidupan yang “mati” seperti itu, juga akan mematikan hatimu.

Hal seperti ini bukanlah mengada-ngada, ini adalah perasaan. Kalau kalimat “Aku tak puas” itu terus berputar di dalam hatimu, namun tak diucapkan, perlahan akan menjadi amarah yang terpendam.

Pria tidak mengerti maksud dari kalimat-kalimat yang diucapkan wanita, mereka memendam banyak tekanan, kesedihan dan kepahitan. Pria merasa wanita seperti ini sangat menyebalkan, karena itu biasanya pria akan memilih untuk menjadi batu, tidak melihat, tidak mendengar dan tidak berkata apa-apa. Namun ini adalah permulaan dari pernikahan yang berantakan.

Banyak wanita yang berkata waktu bertengkar, “Aku capek”, tapi suaminya hanya menjawab, “Siapa yang gak capek?” karena itulah wanita kemudian hanya bisa mengomel. Pria sebal kenapa wanita begitu menyebalkan, namun sebenarnya, itu semua karena kamu tidak pernah mau mendengarkan isi hatinya.

Waktu dia berkata capek, dia hanya perlu satu perhatian dari kamu saja, kalau kamu berkata, “Jangan terlalu capek ya, makasih udah melakukan semuanya buat aku.” pastinya wanitamu akan menjadi baik dalam sekejap. Namun pria tidak mau mengatakan hal ini.

Kalau kamu capek, kamu juga bisa berkata pada istrimu. Dia pasti akan berusaha untuk menyemangatimu. Kehidupan berdua, itu harus saling menjaga, saling memperhatikan, saling memberi kehangatan, bukankah itu artinya sebuah pernikahan?

Sebenarnya, dua orang bisa menjadi suami istri, awalnya pasti karena perasaan dan kecocokan kan? Kamu setuju, dia juga setuju, baru kalian bisa mulai mengikat perjanjian seumur hidup, memulai kehidupan berdua.

Namun mengapa begitu banyak suami istri yang justru akan merasa semakin lelah dan semakin hancur seiring berjalannya pernikahan? Masalahnya, bukan waktu menghapus rasa cinta, namun di dalam perjalanan cinta ini, kamu tidak membangun perasaan lainnya.

Biasanya, semua terjadi karena salah satu orang menutup pintu hatinya. Dia berkata apa, aku tidak dengar, dia mau apa, aku takkan berikan.

Pernikahan, itu seperti bermain “kaki tiga”, kaki kirimu diikat dengan kaki kananku, mulai berjalan berdua dalam perjalanan yang sangat panjang. Di perjalanan, pasti memiliki perbedaan pendapat dan kebutuhan, aku lelah dan butuh istirahat, kita harus beristirahat bersama, kakimu sakit, aku bisa mengoleskan obat.

Waktu aku ingin berhenti sejenak melihat pemandangan, kamu mungkin ingin berjalan cepat supaya menyusul orang lain, dalam kehidupan seperti ini, komunikasi jadi alat yang sangat penting.

Kalau salah satunya ada yang buta, tuli dan bisu, tidak tahu pasangannya lelah, terluka atau pergi seenaknya saja, maka keduanya pasti tidak bisa berjalan beriringan. Semua perjalanan yang panjang tentu memiliki syarat yang sama, kamu harus peduli akan kebutuhan orang lain.

Walaupun melakukan perjalannan yang panjang, namun kamu tetap menikmatinya. Kalau tidak, maka keindahan pernikahan itu akan berkurang setengahnya. Walaupun orang luar melihat keluargamu tidak ada apa-apa, namun sebenarnya, semuanya itu ternyata hanya ada kekosongan belaka.

Sebuah pernikahan, tidak cukup hanya punya rumah dan punya anak saja. Namun perlu kepuasan hati dan salling mendukung. Kebahagiaanmu itu bermula dari hal ini! Apa sobat sudah mendapatkannya sekarang?

Sumber: cerpen.co.id

loading...
loading...