Gaya Hidup Hedonis di Kalangan Umat Islam

by

Kondisi dunia yang semakin mengglobal. Perembesan budaya antar bangsa di dunia tidak terelakkan lagi. Termasuk di dalamnya ideologi dan gaya hidup manusia yang sudah tidak dapat dibedakan lagi antara suatu bangsa dengan bangsa lain dan pemeluk suatu agama dengan pemeluk agama lain. Hal ini merupakan bukti bahwa telah terjadi pergeseran gaya hidup umat manusia yang semula berorientasi pada masalah diniyyah, ideologis menjadi madiyyah, bendawi, hedonis dan sekuler.

Standar kesuksesan seseorang di zaman ini, kebanyakan diukur dengan seberapa banyak seseorang menguasai harta kekayaan dengan tanpa melihat asal-muasal harta tersebut didapat. Standar halal atau haram seolah bukan merupakan masalah utama. Sebuah ungkapan yang sering terdengar adalah, “mencari yang haram saja susah apalagi yang halal”, walaupun disampaikan dengan nada bercanda, akan tetapi paling tidak hal tersebut merupakan cermin perilaku hedonistik dan materialistik sebagai gaya hidup yang sedang menjadi tren di zaman ini. Padahal paham hedonisme sendiri sebenarnya merupakan paham yang sudah usang, yakni berasal dari Yunani Kuno yang salah satu tokohnya adalah Epikurus yang hidup antara tahun 341 sampai dengan 271 M.

Pengertian hedonisme semula berasal dari Bahasa Yunani “hedone” yang berarti “kepuasan”. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary, “Hedonism” diartikan sebagai “the belief that pleasure should be the main aim in life.“

Hedonisme adalah sebuah kepercayaan bahwa kesenangan harus merupakan tujuan utama dalam hidup. Sedangkan dalam bahasa Arab “hedonisme” disebut dengan istilah “Madzhab Al Mut’ah” atau “Madzhab Al Ladzzdzah.“ Dalam kamus Al-Munawwir disebutkan sebagai berikut: “Hedonisme adalah sebuah aliran yang mengatakan bahwa sesungguhnya kelezatan dan kebahagiaan adalah tujuan utama dalam hidup.” Kemudian dalam Ensiklopedia Bahasa Indonesia disebutkan bahwa hedonisme adalah paham yang berpendapat bahwa kepuasan merupakan satu-satunya alasan dalam tindak susila.

Di dalam Al-Qur’an, kalimat yang semakna dengan hedonisme adalah At Takatsur yang dalam terjemahan versi Depag RI diterjemahkan sebagai “bermegah-megahan” dengan membubuhkan catatan kaki, “bermegah-megahan dalam perihal anak, harta, pengikut, kemuliaan dan seumpamanya.”

Al-Qur’an telah memperingatkan umat manusia agar senantiasa waspada terhadap penyakit ini dengan sangat keras dengan ancaman siksaan yang amat pedih, baik ketika berada di alam barzakh maupun di alam akhirat kelak. Hal ini terlihat jelas bahwa maksud dari firman Allah, “Alhaakumuttakatsur” adalah wa’id atau ancaman terhadap orang-orang yang selama hidupnya hanya sibuk mengurusi urusan-urusan duniawi sampai mereka masuk ke liang lahat sedang mereka tidak sempat bertaubat. Mereka pasti akan mengetahui akibat perbuatan mereka itu dengan “ainul yaqin.”

Menurut paham Madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah tidak ada keraguan lagi bahwa di alam barzakh manusia dihidupkan lagi sebagaimana mereka hidup di dunia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Munkar dan Nakir, menjalani apa-apa yang telah dipersiapkan Allah baik berupa kemuliaam maupun siksa akibat perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

Bagi seorang Muslim, meyakini dan mengimani tentang adanya siksa di alam barzakh hukumnya wajib, sebab dalam Al-Qur’an surat At-Takatsur kalimat “kallaa” diulang sebanyak 3 kali. Dalam ilmu tafsir, pengulangan tersebut dinamakan “wa’ad ba’da wa’id” (ancaman sesudah ancaman). Menurut Mujahid, pengulangan tersebut mengandung arti, “tak-kiddan taghlid” (penguatan dan penebalan). Hal ini disebutkan pada pendapat Al-Farro’ yang mendasarkan pada kata-kata Ibnu Abbas yang berkata: Firman Allah, “Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui” apa yang turun pada kalian tentang siksa di alam kubur. “kemudian janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui” di saat hari kebangkitan tentang apa yang Allah janjikan kepada kalian dengan siksa tersebut adalah benar”.

Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu pernah ragu-ragu tentang adanya siksa kubur ini sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Zarr bin Hubaisy sebagai berikut, “Zarr bin Hubaisy telah meriwayatkan dari ‘Ali Radliyallahu ‘Anhu, beliau berkata: Adalah kami ragu-ragu di dalam masalah siksa kubur sehingga turunlah surat ini, maka beliau mengisyaratkan pada firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui) yakni siksa di alam kubur.”

Pernyataan di atas telah mematahkan anggapan yang mengingkari tentang adanya siksa qubur yang hanya berdasarkan logika. Mereka mengetahui bahwa ketika manusia berada di alam barzakh belum dihisab. Oleh karena itu di dalam alam barzakh belum ada siksa atau kebahagiaan, yang ada hanyalah pantulan siksa bagi calon penghuni neraka serta pantulan dari kenikmatan syurga bagi calon penghuni syurga. Pendapat yang demikian ini hanya berdasarkan logika, tidak ada nash yang mendukung pendapat tersebut. Wallahu a’lam.

Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang tidak memberikan toleransi terhadap orang kafir yang senantiasa menentang syariat Allah yang diturunkan melalui Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Jika diperhatikan bentuk ancaman Al-Qur’an tersebut sering menggunakan bacaan id-dhar.

Menurut Quraisy Shihab, bacaan id-dhar dalam tradisi Arab tidak sekedar hukum bacaan dalam Al-Qur’an, akan tetapi menunjukkan suatu yang dahsyat, yang agung, yang sangat mengerikan dan sebagainya. Hal ini dapat disimak firman Allah dan bagi mereka siksa yang amat pedih (Al-Baqarah:7). Kemudian firman Allah, “sesungguhnya telah Kami persiapkan bagi orang-orang yang dhalim, api yang gejolaknya mengepung mereka.“ (Al Kahfi:29 ). Bentuk ayat tersebut menunjukkan, bahwa Allah tidak main-main dengan janji-Nya.

Di dalam Al-Quran juga telah dijelaskan bahwa orang-orang kafir telah diberikan sedikit kenikmatan duniawi, seolah mereka mengalahkan kaum Muslimin, sehingga kaum Muslimin yang mendapat ujian dari Allah berupa kemiskinan dan keterbelakangan berkata, “orang-orang kafir itu telah menguasai harta dan perniagaan dan mereka membuat kekacauan di muka bumi ini dengan seenak perutnya, sedangkan kelaparan telah menghancurkan kami.”

Untuk itu Allah mengingatkan kaum muslimin. Firman Allah,

jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (Ali Imran 196-197)

Maksudnya, kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahaan mereka jangan sampai memperdayakan kamu sebab mereka itu hanya sedikit mendapat keni’matan duniawi. Oleh karena itu, Allah mengancam kepada orang-orang kafir dengan firman-Nya sebagai berikut:

sesungguhnya orang-orang kafir baik harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak adzab Allah dari mereka sedikitpun, dan mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.“ (Ali Imran : 116).

Dari penjelasan tersebut di atas hendaknya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi segenap kaum Muslimin agar tidak terjebak dalam gaya hidup hedonistik yang dewasa ini telah membudaya di kalangan umat Islam sendiri. Kecintaan terhadap sesuatu yang bersifat bendawi, hendaknya jangan sampai melupakan ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, apalagi sampai mengorbankan aqidah Islamiyyah yang dengan susah payah dibangun sejak kecil sampai dewasa.

Allah telah berpesan kepada kita agar jangan sampai mati kecuali dalam memeluk agama Islam. Karena hanya kaum Muslimin yang memiliki masa depan. Kehidupan dunia bukanlah masa depan, sebab kehidupan dunia adalah “maata’un qolil” yang serba semu dan penuh dengan tipu daya. Dengan demikian agama Islam adalah harga mati yang tidak dapat digantikan dengan apapun di dunia ini kecuali keridha’an Allah.

Oleh Abdul Manan, S. Ag
(Ketua MUI Kecamatan dan Guru SMA di Kabupaten Banyuasin)

Sumber: anakmuslimtaat.blogspot.co.id

Loading...
loading...
loading...