Fakta-fakta Ilmiah Penyebab Dahsyatnya Tsunami Banten

by

Tsunami Selat Sunda dengan arus cukup kuat menyapu wilayah pesisir di sekitar laut Pandeglang, Serang dan Lampung Selatan, Sabtu (23/12).

Imbas tsunami Banten itu puluhan bangunan serta banyak nyawa melayang. Banyak juga korban luka-luka.

Terjadinya tsunami Banten bukan karena guncangan gempa bumi yang dahsyat. Namun ada faktor lain.

Berikut ini penjelasan ilmiah mengapa tsunami Banten bisa terjadi sangat dahsyat:

1. Adanya Erupsi Gunung Anak Krakatau
Tsunami yang terjadi di Selat Sunda adalah imbas dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Bagaimana bisa terjadi?

Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, hal ini masih didalami.

Karena getaran tremor Gunung Anak Krakatau tertinggi yang selama ini terjadi sejak bulan Juni 2018 tidak menimbulkan gelombang terhadap air laut bahkan hingga tsunami.

2. Material Gunung Anak Krakatau
Selain itu, sebagian material yang keluar dari Gunung Anak Krakatau jatuh di sekitar tubuh gunung api.

Material ini bersifat lepas dan sudah turun saat letusan terjadi. Material yang keluar berupa lava, bebatuan dan asap panas langsung menuju laut.

Material-material dalam jumlah besar ini kemungkinan besar menyebabkan terjadinya gelombang laut.

3. Material yang Jatuh ke Laut Berbentuk Besar
Erupsi Gunung Anak Krakatau sebenarnya sudah terjadi sejak Oktober 2018. Namun kali ini erupsi tersebut bisa menyebabkan tsunami di Banten dan Lampung Selatan.

Sebab, erupsi kali ini Gunung Anak Krakatau memuntahkan material yang sangat besar. Kemudian, material itu masuk ke dalam laut.

4. Rontokan Bagian Tubuh Gunung Mendorong Air Laut
Informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBMG), saat Gunung Anak Krakatau erupsi, material yang dimuntahkan besar dan mengalami longsor hingga mendorong air laut.

Dorongan air laut imbas longsoran material ini menggunakan energi yang cukup besar.

Untuk merontokkan bagian tubuh yang longsor ke bagian laut diperlukan energi cukup besar.

Karena kejadian inilah, tsunami tidak terdeksi oleh seismograph di pos pengamatan gunung api.

Sumber: merdeka.com

Loading...
loading...
loading...