Dzikir Dengan Jaminan Masuk Surga yang Diajarkan Nabi Muhammad

by

Berzikir merupakan amalan yang paling mudah untuk dilakukan, meski terkadang rasa malas membuat kita berat melakukannya. Padahal zikir bisa dipanjatkan dimanapun, dan tidak pula disyaratkan harus suci dari hadas.

Di antara zikir tersebut ada yang dapat menjamin seseorang masuk surga, jika zikir tersebut ia panjatkan dengan hati yang tulus.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id al-Khudri Ra, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda

من قال رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم رسولا وجبت له الجنة

“Barang siapa yang mengucapkan ‘Radhiitu billahi rabbaa wa bil islaami diinaa wa bi muhammadin shallaa allahu ‘alaihi sa sallama rasuulaa’ (Aku rela Allah Swt sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Saw sebagai Rasul) Maka surga merupakan suatu kepastian baginya.” (HR. Abu Dawud)

Ibnu Qayyim dalam kitab Madar al-Salikin, menjelaskan bahwa hadis ini mengandung inti dari pada rukun iman.

Ridha Allah sebagai Rabb mengandung makna bahwa ia rela hanya akan menyembah-Nya semata, sadar bahwa hanya Dia tempat bergantung dan meminta pertolongan.

Ridha dengan Nabi Muhammad sebagai rasulnya berarti ia rela dan tulus mengikuti ajarannya. Ridha dengan Islam sebagai agamanya berarti ia rela dan ikhlas menjadikan islam sebagai jalan hidupnya.

Setelah hadis di atas, Imam Nawawi mengaitkan sabda Rasul tersebut dengan hadis lainnya. Beliau menyebut riwayat yang terdapat Di dalam kitab Imam Tirmidzi, yang berasal dari sahabat Abdullah Ibnu Busr Ra, berkata,

أن رسلا قال: يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت عليه فأخبرني بشيئ أتشبث به، فقال: لا يزال  لسانك رطبا من ذكر الله تعالى

Seorang lelaki mengatakan, “Wahai Rasulullah sesungguhnya syariat-syariat Islam telah banyak atas diriku, maka beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang akan kupegang erat-erat.” Nabi Saw menjawab, “Hendaknya lisanmu selalu basah karena berzikir menyebut Allah Swt.” (HR. Tirmidzi)

Imam Tirmidzi mengatakan, kualitas hadis ini hasan. Lafaz atasyabbatsu mengandung makna atamassakuyakni (zikir) yang bisa aku jadikan sebagai pegangan dan amalan andalanku.

Yaitu zikir yang mudah dipanjatkan kapanpun agar bisa menambal kekurangan ibadah-ibadah wajib yang hilang yang karenanya pahala amalan wajib menjadi tidak sempurna.

Dalam hadis terakhir, Rasul tidak menyebutkan apa zikir yang bisa dijadikan pegangan oleh sahabat tersebut.

Beliau hanya menekankan agar ia selalu berzikir hingga bibirnya selalu basah karena menyebut nama Allah dan itu bisa dengan melafalkan zikir apapun.

Jika berharap zikir yang menjamin masuk surga, maka bisa mengamalkan zikir yang diajarkan Rasulullah dalam hadis pertama.

Sumber: bincangsyariah.com

Loading...
loading...
loading...