Dosa Sosial yang Sering Diabaikan Oleh Kebanyakan Orang

by

Penciptaan manusia bukan hanya untuk mencari kebahagiaan semata, namun bagaimana seorang manusia juga mampu hidup bersosialisasi saling berdampingan dengan berbagai perbedaan yang mutlak keberadaannya diantara manusia lainnya.

Ketika manusia dilahirkan membawa kesucian tanpa dosa yang mengotori ruh dan jiwanya, setelah kelahirannya dari rahim seorang ibu maka kehidupan baru akan dimulai. Manusia lahir tanpa membawa agama dalam dirinya, agama yang ada dalam diri manusia bisa didapat dari pencarian ketika dia mulai dewasa atau bahkan didapat dari garis keturunan ibu/bapaknya seperti saya misalnya.

Pernahkah kita membayangkan bagaimana jika kita dilahirkan dari rahim seorang ibu yang beragama selain Islam, misalnya Kristen, Budha, Hindu dan Agama lainnya. Sebuah kesyukuran yang sangat luar biasa kita dapat dilahirkan dari rahim seorang Muslimah.

Apakah kemudian kita seenaknya menghakimi manusia lain karena alasan perbedaan Agama saja? Mungkin kalo mereka diberi kesempatan untuk memilih sebelum dilahirkan ke Dunia, bisa saja mereka lebih memilih dilahirkan dari rahim seorang Muslimah.

Pada hakikatnya semua ajaran agama itu mengajarkan pada kebaikan, namun manusianya sendiri yang mempunyai penafsiran yang berbeda-beda terhadap ajaran tersebut sehingga menimbulkan berbagai macam tindakan yang menyimpang dari kebenaran ajaran agamanya.

Kemudian muncullah berbagai macam golongan dari satu agama, contoh sederhana yang ada dalam tubuh Islam. Ada Islam Radikal, Islam Liberal, Islam Moderat dan masih banyak golongan Islam lainnya, pada hakikatnya Islam itu hanya satu namun manusia sendiri yang memberi label Radikal, Liberal dan lain lain itu.

Saya mencoba untuk sedikit mempelajari ajaran Agama lain dari salah satu umatnya yang taat, saya mengambil salah satu tokoh pergerakan di India yaitu Mahatma Gandhi.

Sebagai seorang penganut agama Hindu, Gandhi menerapkan ajaran agamanya untuk menginspirasi dunia untuk meninggalkan kekerasan, menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kemerdekaan.

Hal-hal yang disampaikan oleh Gandhi telah didapat melalui pengalaman, pengamatan dan perenungan yang mendalam, sehingga Gandhi bisa menyimpulkannya dengan kata-kata yang singkat dan jelas. Terdapat sedikitnya Tujuh dosa sosial menurut Mahatma Gandhi. Ketujuh dosa sosial tersebut adalah:

Politik Tanpa Prinsip
Jika kita amati bersama keadaan politik di Negara ini sepertinya sedang mengalami politik tanpa prinsip. Bangsa Indnesia mulai kehilangan identitas Negara karena para pejabat Negara yang tidak mempunyai prinsip kebangsaan yang kuat dan mandiri.

Ideologi kebangsaan mulai luntur terbawa arus keegoisan pemimpin Negara yang tidak mempunyai tujuan jelas dalam kebijakannya. Makin dipertajam dengan permasalahan Agama yang dicampuradukkan dengan kepemimpinan menunjukkan bahwa Indonesia sedang dilanda krisis pemimpin yang profesional.

Sebagai pemimpin idealnya harus bia memposisikan diri dengan baik dalam betindak dan berucap sehingga tidak menimbulkan provokasi dalam masyarakat luas. Jika seorang politikus tidak punya prinsip maka dia akan mudah untuk dikendalikan oleh orang lain, inilah yang sedang dialami oleh Bangsa kita sehingga rakyatlah yang menjadi korban atas politik buta yang dijalankan oleh para pemimpin dzalim diatas sana.

Kekayaan Tanpa Kerja
Sangat manusiawi apabila kita hidup di dunia ingin hidup sejahtera dengan kekayaan yang melimpah, namun bukan hal yang manusiawi jika ingin kaya tanpa bekerja.

Jika dulu masyarakat Indonesia masih kental dengan hal-hal mistis dimana ada yang namanya tuyul dan babi ngepet jika ingin mendapat kekayaan tanpa bekerja. Namun zaman sekarang para tuyul dan babi ngepet itu sudah berubah menjadi manusia yang menggunakan jas mahal dan berdasi rapi sambil duduk mengangkat kaki di dalam kantor yang ber-AC.

Padahal diluar sana rakyatnya bekerja keras memeras keringat demi sesuap nasi untuk menafkahi keluarganya dirumah reot yang tak layak lagi untuk ditempati untuk keluarganya.

Para tikus-tikus yang lapar akan jabatan dan uang seenaknya menghabiskan jatah rakyat tanpa takut akan balasan Tuhan di akhirat kelak terhadap perbuatannya yang rakus selama di dunia.

Ilmu Pengetahuan Tanpa Kemanusiaan
Tidak semua orang yang berilmu menggunakan ilmunya dengan baik. Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan sama halnya dengan pisau yang digunakan untuk membunuh musuh secara perlahan.

Coba kita lihat pendidikan di Indonesia yang dari hari ke hari semakin memburuk, mulai dari sistem kurikulumnya yang berubah-ubah sampai pada perangkat pendidiknya yang kemudian berpengaruh pada anak didiknya.

Pendidikan yang tidak merata merupakan suatu kedzaliman yang dilakukan oleh pemerintah, sehingga rakyatnya tidak semuanya dapat merasakan pendidikan yang layak. Naik level pada tingkat mahasiswa yang katanya sebagai “agent of change”, mereka yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan tinggi malah lupa akan tanggung jawabnya.

Mahasiswa sebagai akademisi idealnya dapat berjuang dan memperjuangkan title “kemahasiswaannya” dengan banyak membaca, menulis dan berdiskusi untu kemajuan Bangsa.

Namun pada realitanya masih banyak mahasiswa yang lupa akan tanggung jawabnya malah asyik menghabiskan uang orang tuanya di perantauan untuk mencari kesenangan sementara.

Jalan sana sini, kulineran dari satu cafe ke cafe lain sambil bergandengan dengan kekasih hatinya tanpa mengingat kerja keras orang tuanya untuk membiayai hidupnya selama di perantauan. Jiwa kemanusiaannya tertutupi oleh kebinatangan yang hanya ingin bersenang-senang demi eksistensi dan label kekinian sehingga lupa akan ilmu pengetahuan.

Kenikmatan tanpa nurani, manusia terlalu egois dalam mengejar duniawi demi kenikmatan pribadi sehingga nuraninya dibutakan oleh harta kekayaan dan kenikmatan yang dimiliki.

Jika saja manusia di dunia ini memiliki nurani yang tinggi mungkin tidak ada lagi manusia yang hidup dibawah garis kemiskinan. Kalo saja seluruh masyarakat Indonesia mempunyai nurani yang tinggi, mereka akan mau saling berbagi kenikmatan yang dimiliki tidak akan dinikmati sendiri.

Buktinya ketika aksi bela Islam banyak sekali yang memberi fasilitas dan sedekah dalam bentuk makanan, minuman maupun sarana pendukung lainnya. Apakah nurani itu muncul kalo di sulut api dulu?

Nurani meupakan tempat bersemayamnya kebenaran dan prinsip-prinsip abadi – monitor internal hukum alam. Belajarlah untuk memberi dan menerima, tidak hidup egois, peka, penuh perhatian. Jika tidak, maka tidak akan ada rasa tanggung jawab sosial dalam kegiatan-kegiatan kenikmatan kita.

Ibadah Tanpa Pengorbanan
Tanpa pengorbanan kita mungkin aktif dalam kelompok agama namun tidak hidup beriman. Kelompok agama hanyalah tirai sosial agama belaka. Tidak ada kerja sama nyata dengan orang-orang atau berusaha lebih keras lagi, atau mencoba memecahkan masalah-masalah sosial kita.

Melayani kebutuhan orang lain memerlukan pengorbanan, setidaknya pengorbanan kesombongan dan prasangka diri kita sendiri. Pengorbanan untuk menghargai perbedaan yang ada dalam kehidupan sosial antar umat Agama bukan berarti kita menjual keimanan, justru puncak dari kegamaan adalah kepedulian sosial.

Pengetahuan tanpa karakter, Manusia yang memiliki pengetahuan tanpa karakter bagai memberikan senjata tajam kepada orang yang sedang mabuk sehingga dapat melukai sesama manusia.

Maka dari itu seorang akademisi maupun ilmuwan harus mempunyai karakter yang baik sebagai “self control” sehingga dia dapat menerapkan keilmuannya sesuai dengan porsinya.

Seperti fakta yang terjadi di Indonesia dalampraktek penegakan hukum dimana para aparat hukum yang mempunyai pengethauna tentang hukum namun mereka tidak menerapkan hukum tanpa karakter sehingga mereka dapat memutar balikkan fakta, yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar.

Maka ketidak adilan dapat dibeli oleh orang-orang yang mempunyai kekayaan harta demi kebebasan hidup dalam belenggu kebohongan dan dosa sosial yang siap dipertanggung jawabkan di depan pengadilan Tuhan.

Perdagangan (Bisnis) Tanpa Moralitas
Berbisnis untuk mencari penghidupan merupakan suatu hal yang sangat manusiawi namun tidak lagi dikatakan manusiawi jika penghidupan itu tanpa diiringi dengan moralitas tinggi dalam menjalankannya.

Misalnya peristiwa pembunuhan yang terjadi di pulomas dengan dugaan pembunuhan karena korban menang tender untuk proyek Sea Games. Bisa jadi ada pihak yang iri atau ingin balas dendam terhadap kemenangan tender tersebut sehingga ada niat jahat untuk balas dendam dengan membunuh.

Moralitas tidak dapat dipisahkan dalam berbisnis karena hal itu merupakan salah satu hubungan sosial yang harus dijalin dengan baik.

Benang merah dari beberapa hal yang telah saya uraikan tersebut, saya ingin menyadarkan diri saya sendiri pada khususnya dan bagi para pembaca untuk mengingat bahwa dosa tidak selalu disebabkan oleh hubungan religiusitas antara Tuhan dan manusia saja.

Juga bukan ketika kita meninggalkan perintah Nya dan melakukan larangan Nya, namun diluar dari itu ternyata hubungan sosial yang kita bangun juga berpengaruh dalam kehidupan akhirat nantinya.

Ternyata masih ada dosa-dosa sosial yang belum kita ketahui, kadang manusia terlalu fokus pada kebaikan dirinya sendiri sehingga melupakan hubungan sosial dalam bermasyarakat. Apalagi hubungan sosial dengan saudara lintas agama, jangan sampai perbedaan agama menjauhkan kita dari Surga-Nya.

Sumber: Luciana Anggraeni

Loading...
loading...
loading...