Dikenal Penentang Islam Garis Keras, Politisi Belanda Ini Umumkan Dirinya Masuk Islam

by

Joram van Klaveren dikenal sebagai politisi Belanda yang selama tujuh tahun menyuarakan penentangannya atas Islam.

Joram van Klaveren pernah bergabung dengan Partij voor de Vrijheid/PVV (Partai Kebebasan) yang dipimpin oleh anggota Parlemen Belanda, Geert Wilders yang juga dikenal sebagai penentang Islam garis keras.

Setelah empat tahun dari 2010 hingga 2014 bergabung dengan PVV, Joram mendirikan partainya sendiri tetapi gagal memenangkan kursi parlemen dalam pemilihan nasional 2017 dan memutuskan keluar dari dunia politik.

Siapa menyangka, Joram yang lantang menyuarakan kebencian atas Islamjustru menjadi mualaf.

Ceritanya tentang ke-Islamannya diulas dalam artikel ncr.nl yang dipublikaskan pada Senin (4/2/2019).

Dalam laporan itu, disebutkabn Joram secara resmi telah masuk Islam pada 26 Oktober 2018.

Joram yang kini berusia 39 tahun mengucapkan dua kalimat syahadat bahkan diluar kepala, tetapi pada malam di Bulan Oktober itu, ia dibimbing oleh Imam Mhamed Aarab.

Keputusannya menjadi mualaf tentu menjadi keanehan bagi orang-orang yang mengenal mantan orang kepercayaan Geert Wilders ini.

Ia pernah mengatakan “Islam adalah pendusta”,”Muhammad adalah penjahat”, dan “Al-Quran adalah racun.”

Joram juga tak henti mengatakan Islam adalah ideologi teror, identik dengan kematian dan kehancuran.

Pertobatan yang tak terduga dari Joram van Klaveren tampaknya menjadi akhir dari pencarian panjangnya tentang makna keagamann.

Hal tersebit berawal ketika ia berniat menulis buku tentang Anti-Islam.

Bukan sekedar buku anti-Islam biasa, tetapi buku yang benar-benar menunjukkan semua kesengsaraan yang disebabkan oleh Islam: pemenggalan Yahudi, kekerasan terhadap perempuan, dan homofobia.

Ia berharap, dengan bukunya itu umat Islam akan mengalami keterpurukan.

Namun, di tengah-tengah penelitiannya, ia justru menjadi mualaf dan mendalami agama itu.

Hasil pencariannya justru menunjukkan tidak ada kebenaran tentang hal negatif yang disangkakan pada Islam.

Joram juga menggambarkan apa yang ia rasakan usai mengucapkan dua kalimat syahadat, “Saya merasakan kebahagiaan dan kedamaian,” ujarnya.

Ia juga berbagi cerita dimana ia lebih merasa sebagai seorang muslim daripada seorang protestan.

“Saya melihat Alkitab saya di lemari, di atas meja di depan saya ada buku-buku tentang Nabi Muhammad. Pada tahun-tahun sebelumnya, saya sangat tidak menyukai Islam. Tetapi sebagai pencari Tuhan saya selalu merasakan keresahan tertentu. Dan itu berangsur-angsur menghilang. Rasanya seperti pulang ke rumah, dalam arti keagamaan,” ujar Joram.

Sementara Joram juga mengungkapkan reaksi keluarganya saat tahu ia menjadi mualaf.

Sang istri tidak mempermasalahkan pilihannya karena saat Joram bergabung dengan PVV, istrinya juga tidak terlalu mendukungnya.

Sedangkan keluarganya yang lain memberikan rekasi beragam dari positif ke acuh tak acuh, termasuk sang ibu yang belum menerima keputusannya.

“Ibu saya tidak terlalu senang dengan itu. Saya mengerti itu. Perputaran seperti itu bukan apa-apa,” katanya.

Sumber: suar.grid.id

Loading...
loading...
loading...