Cobaan Hidup Tidak Selamanya Berbentuk Kesengsaraan, Nikmat pun Termasuk Cobaan

by

Cobaan hidup yang dialami manusia merupakan sunnatullah, hukum Allah Swt. yang bersifat pasti dan tetap. Cobaan datang pada kita tanpa tahu waktu dan tempat, kapan pun dan dimana pun.

Cobaan hidup untuk manusia  bisa berupa sesuatu yang dirasakan berat dan menyakitkan. Akan tetapi, bisa juga dalam bentuk kebaikan dan kenikmatan yang menggairahkan serta menyenangkan.

Allah Swt. menjelaskan dalam firman-Nya bahwa setiap yang bernyawa itu pasti akan merasakan mati. Allah Swt. akan menguji semua manusia dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya.

Tujuan Allah Swt. Memberikan berbagai macam cobaan pada manusia tidak lain adalah untuk mengatahui secara lahiriah di antara kita yang paling pandai bersyukur ataupun kufur; yang bisa bersabar ataupun cepat putus asa. Rasulullah Saw. bersabda:

Barangsiapa dikehendaki oleh Allah kebaikan untuknya ia akan diuji dengan musibah” (HR. Bukhari)

Berbagai macam cobaan hidup yang berbentuk keburukan dan kesulitan sangat mudah sekali untuk dipahami.

Biasanya, orang yang mengalami cobaan hidup seperti sakit, kehilangan orang yang disayangi, ekonomi kurang mencukupi, dan sebagainya akan berdoa dan berharap mendapat pertolongan dan rahmat dari Allah Swt. secara spontan.

Berbeda dengan cobaan hidup yang berupa kebaikan serta kenikmatan yang yang di beriakan pada manusia. Ujian semacam ini Biasanya membutuhkan berbagai macam penjelasan dan perhatian mendalam.

Hal ini di sebabkan oleh banyaknya manusia yang beranggapan bahwa sebuah harta, kekayaan, kepintaran bukanlah sebuah cobaan hidup.

Ketika kita mengalami berbagai macam kesulitan, kita bisa bersabar dan ingat pada Allah Swt. Namun tekadang ketika kita di berikan nikmat kesehatan, kekayaan, dan kepintaran terkadang kita lupa untuk mensyukuri hal tersebut.

Kebanyakan diri kita lupa akan hal yang pernah kita ucapkan pada saat mengalami cobaan hidup yang menyakitkan, dan Allah Swt. menolongnya.

Ketika cobaan hidup menghilang dari kehidupan kita, dan kita mampu berdiri tanpa bantuan orang lain, yang ada kita malam menampakkan sifat sombong, congkak, senang menzhalimi orang lain, bahkan sampai lupa terhadap keberadaan Tuhan.

Allah Swt. berfirman dalam QS. al-A’rof (7) : 182,

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”

Beberapa sifat  buruk tersebut bisa merusak diri kita. Kita bisa terhanyut dalam kemudahan dan tertipu oleh perasaan seakan-akan kemenangan telah berpihak pada kita.

Kita tidak menyadari telah tertipu oleh hawa nafsu kita sendiri dan hawa nafsu orang orang yang berada di sekeliling kita.

Al-Quran menyatakan bahwa orang mukmin yang benar benar bertakwa adalah orang yang bisa bersabar ketika menghadapi kesulitan dan penderitaan.

Mereka mampu bersyukur ketika memperoleh berbagai macam kenikmatan, sehingga mampu memanfaatkan dengan sebagaimana mestinya. Intinya, kunci hidup di dunia adalah bersabar dan bersyukur.

Sumber: bincangsyariah.com

Loading...
loading...
loading...