Cerita Pasien yang Tertukar di Blitar, Dinyatakan Meninggal Dunia Ternyata Masih Hidup

by -1,146 views

Kabar kematian Harnanik (53) tersiar cepat di kampungnya Desa Bendiwulung, Kecamatan Sanan Kulon, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Terlebih kabar duka tersebut diumumkan dari sebuah musholla dengan menggunakan pengeras suara.

Harnanik dikabarkan meninggal, Senin (23/8/2020) akibat serangan jantung.

Keluarga mendapat kabar tersebut dari pihak RSUD Mardi Waluyo Blitar tempat Harnanik dirawat selama 10 hari terakhir.

Mendengar kabar tersebut keluarga mengumumkan kematian Harnanik melalui mushala desa.

Warga pun berbondong-bondong datang ke rumah duka dan sebagian warga lain pergi ke tempat pemakaman umum untuk menggali liang lahad.

Tak lama kemudian, keluarga mendapatkan kabar jika Harnanik masih hidup.

Pasien yang meninggal ternyata S yang sempat dirawat satu ruangan dengan Harnanik.

Anak Harnanik, Nanung Hermawan bercerita keluarga mengetahui ibunya masih hidup saat ayah Nanung ke rumah sakit untuk menjemput jenazah.

Setelah menandatangani semua berkas, sang ayah melakukan doa di depan jenazah Harnanik.

Karena penasaran, sang ayah membuka kain penutup jenazah dan terkejut saat melihat jenazah itu bukan istrinya, Harnanik.

Ia pun segera ke ruang isolasi dan melihat istrinya masih dirawat.

“Terus lihat ke ruang isolasi, ternyata ibu saya masih ada di situ,” kata Nanung.

Nanung mengatakan, ibunya telah pindah ruangan setelah dinyatakan negatif Covid-19.

Meski begitu, Nanung menjelaskan pihak keluarga belum menerima surat keterangan negatif Covid-19. Padahal surat tersebut sangat penting saat kondisi pandemi seperti saat ini.

“Nanti sewaktu-waktu (ibu) saya bawa pulang, ada yang nanya bagaimana. Zaman sekarang masalah begini, kan rawan,” kata Nanung.

Sementara itu Wakil Direktur Pelayanan RSUD Mardi Waluyo dr Herya Putra menjelaskan kronologi kejadian tersebut.

Menurut Herya, Harnanik dirawat di rumah sakit karena menderita stroke ringan. Saat dirawat ia mengeluh sesak napas.

Sesuai dengan prosedur, ia kemudian dirawat di ruang isolasi bersama dengan dua pasien lainnya.

Di ruangan tersebut, Harnanik dan S sama-sama berstatus suspek Covid-19. Mereka kemudian melakukan test swab pada 17 Agustus 2020 lalu.

Namun hingga saat ini hasil test belum diterima. Pada Minggu (23/8/2030) kondisi pasien S terus menurun.

Perawat yang bertugas kemudian berinisiatif menukar posisi ranjang S dengan pasien Harnanik.

Pemindahan posisi ranjang dilakukan karena sudut pandang kamera pengawas lebih jelas. Namun pemindahan posisi ranjang tersebut tak dicatat dalam rekam medis pasien.

Imbasnya saat pergeseran petugas jaga, perawat tak menyadari pemindahan tersebut.

Penggunaan kamera pengawas dilakukan untuk membantu pemantauan perkembangan pasien. Ini karena kondisi dan keterbatasan akses pada ruang isolasi.

“Akses ruang isolasi kan terbatas. Perawat juga harus pakai APD level tiga,” kata dia. Saat kondisi pasien S memburuk dan meninggal di hari Senin, perawat mengira pasien tersebut adalah Harnanik.

Apalagi gelang identitas pasien S terlepas dan tak berada di tempatnya. Sehingga perawat mengidentifikasi identitas pasien berdasarkan susunan ranjang.

“Saat itu juga tidak sempat cek ke bed (tempat tidur) sebelahnya karena keterbatasan akses ruang isolasi,” lanjut Herya.

“Berseberangan utara dan selatan,” ujar Herya.

Ia mengatakan saat ini Harnanik masih dirawat di ruang isolasi. Terkait kejadian tersebut, Herya mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi dan pembinaan internal telah dilakukan agar kejadian serupa tak terulang.

“Kepada keluarga kita sudah sampaikan permohonan maaf,” ujar Herya.

Sumber: tribunnews.com

loading...
loading...

No More Posts Available.

No more pages to load.