Bolehkah Membatalkan Puasa Syawal Saat Bertamu?

by

Sudah menjadi tradisi bagi muslim di Indonesia untuk saling berkunjung atau silaturahim usai Salat Idulfitri hingga hari ke tujuh Syawal.

Mereka biasanya menggunakan kesempatan tersebut untuk saling meminta maaf juga merayakan Hari Raya bersama-sama dengan menikmati berbagai hidangan khas lebaran seperti ketupat, opor, kue kastangel dan lain-lain.

Namun bagi beberapa muslim ada pula yang meneruskan dengan berpuasa 6 hari di bulan syawal usai puasa Ramadhan untuk meraih pahala seperti puasa setahun.

Namun terkadang ada perasaan sungkan jika menolak hidangan lebaran yang telah disiapkan saat kita bertamu. Bolehkah membatalkan puasa?

Ibnu Qudamah menjelaskan dalam al-Mughni bahwa pada dasarnya jika seseorang melakukan puasa sunah maka dia dianjurkan menyempurnakannya hingga selesai.

Namun jika ibadah wajib seperti mengqadha puasa Ramadhan maka wajib diselesaikan kecuali ada udzur syar’i atau sebab yang menghalanginya puasa seperti haid atau sakit. Demikian menurut pendapat mayoritas ulama.

Adapun puasa syawal hukumnya sunah maka boleh saja bagi seseorang untuk membatalkannya atau menyempurnakan hingga selesai demikian pendapat madzhab hanbali dan syafi’i.

Sebagaimana dikatakan dalam hadis berikut ini

قال النبي صلى الله عليه وسلم لأم هانئ – رضي الله عنها – وكانت صائمة فأفطرت:”أكنت تقضين شيئاً ؟ فقالت: لا. قال: فلا يضرك إن كان تطوعا”

Nabi Muhammad Saw. berkata kepada Ummi Hani yang puasa lalu batal, “Apakah kamu sedang puasa qadha?” dia menjawab, “tidak.” Nabi pun berkata, “Maka tidak masalah jika puasa sunah.” (HR. Abu Daud)

Ibnu Rusyd dalam Bidayah al-Mujtahid mengatakan bahwa ulama bersepakat jika membatalkan puasa sunnah tidak perlu mengqadhannya baik karena ada udzur atau karena lupa.

Dan Mereka berbeda pendapat jika membatalkannya tanda ada udzur, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berpendapat harus diqadha sedangkan Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat tidak ada qadha.

Jadi membatalkan puasa sunah syawal untuk menghormati tuan rumah boleh, hal tersebut sebagaimana juga dikatakan dalam hadis riwayat Imam Baihaqi berikut ini

عن أبى سعيد الخدرى – رضى الله عنه – صنعت لرسول الله صلى الله عليه و سلم طعاما, فأتانى هو وأصحابه, فلما وضع الطعام فقال رجل من القوم : إنى صائم. فقا ل رسول الله صلى الله عليه و سلم (دعاكم أخوكم, وتكلف لكم), ثم قال (أفطر و صم يوما إن شأت). رواه البيهقى بإسناد حسن

Dari Abu Said Al-Khudri ra. Berkata, “ketika saya membuatkan makanan untuk Rasulullah SAW, kemudian Beliau dengan para Shahabatnya datang kepadaku, salah satu dari kami ada yang berkata, “saya sedang berpuasa.” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “biarkan teman kalian –untuk berpuasa-, sesungguhnya itu merupakan tanggung jawab dia,” kemudian Beliau melanjutkan sabdanya, “Berbukalah dan ganti puasamu di hari yang lain jika kamu menghendakinya.” (HR. Imam Baihaqi)

Berdasarkan hadis di atas, jelas Sayyid Sabiq dalam Fiqh al-Sunnah, ulama menyumpulkan kebolehan membatalkan puasa bagi orang yang sedang bertamu dan melakukannya di lain hari.

Wallahu’alam.

Sumber: bincangsyariah.com

Loading...
loading...
loading...