Bingung Menghadapi Orang Tua Kita yang Sudah Lansia dan Keras Kepala? Coba Cara Ini

by

Senang rasanya mendengar ibu-ibu curhat tentang orang tua mereka, karena saya sendiri sudah tidak lagi memiliki kedua-duanya,  baik  kedua orang tua saya sendiri maupun kedua orang tua suami saya telah lama berpulang. Ada rasa iri kalau melihat teman-teman yang masih mempunyai orang tua.

Teman-teman saya yang rata-rata sangat sayang kepada orang tuanya tersebut, suka bingung bagaimana cara menghadapi orang tua mereka yang kadang suka cerewet, keras kepala dan susah sekali di beritahu padahal untuk kepentingan dan keselamatan mereka sendiri.

Seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabila sudah memasuki usia 60 tahun ke atas dan merupakan salah satu fase yang nantinya akan kita lalui.

Dr. Petrin Redayani LS, SpKJ menuturkan lansia merupakan salah satu fase yang krisis, karena pada saat itu terjadi perubahan fisik  (otot melemah dan lambat berpikir), perubahan emosional yang terkadang menjadi lebih sensitif, serta menjadi kurang aktif ( yang tadinya bekerja sekarang sudah pensiun).

Merawat mereka yang lanjut usia, memang berbeda dengan merawat yang muda karena sifat semasa dia masih muda akan menjadi sifatnya di waktu tua nanti. Dan yang paling pantas merawat orang lanjut usia adalah anaknya sendiri bukan orang yang di gaji. Karena anak lebih banyak mengerti tentang sifat orang tuanya di banding orang lain.

Serba salah,” di kasi tahu salah, nggak di kasi tahu makin salah”.  Begitu kata Risa teman saya. Risa pun bercerita bahwa, bapaknya yang berusia mendekati usia tujuh puluh tahun, kita sebut saja namanya pak Karto,  sangat susah di beritahu dan merasa kalau fisik dan ingatannya masih seperti  masih muda saja.  Setiap kali bepergian selalu ingin sendiri tanpa mau di temani.

Pernah suatu hari pak Karto yang tinggal di  kompleks perumahan nan asri ini,  berenang di kolam renang yang  letaknya tidak terlalu jauh dari kediamannya. Tapi kalau dengan berjalan kaki lumayan pegel. Kolam renang tersebut pun di tempuh pak Karto dengan berjalan kaki, begitu sampai,  diapun langsung berenang.

Selesai berenang pak Karto masih berjalan menuju ke rumahnya, di tengah perjalanan tiba-tiba  ia merasa pusing dan jatuh tak sadarkan diri.

Beruntung  ada  satpam komplek yang menolong dan langsung membawanya ke rumah sakit, ternyata pak Karto yang mengidap diabet ini belum sarapan dari pagi. Perginya juga nyolong-nyolong karena takut dilarang, yaitu pada saat si istri membuat sarapan, pak Karto langsung kabur.

Lain lagi cerita Titi, “bapak gue juga keras kepala ampuuun”. Bapaknya yang berusia diatas tujuh puluhan dan sudah pernah kena stroke ini malah pernah hilang entah kemana.

Seharian hilang, sehingga membuat sekeluarga panik dan hampir saja melaporkan kejadian tersebut ke polisi, untungnya menjelang maghrib papanya Titi kembali ke rumah. Ketika di tanya, ia mengatakan ingin jalan-jalan sendiri saja pakai bis, tapi ternyata pulangnya lupa bin bingung di mana rumahnya. Walaaahh bapak.

Saya sendiri yang sudah tidak mempunyai orangtua, tapi saudara-saudara saya banyak yang masuk kategori Lansia, juga suka bingung menghadapi mereka. Terutama saudara perempuan, mereka lebih sensitif.

Berbicara dengan mereka juga harus hati-hati,  sedikit saja salah mereka tersinggung, keras sedikit mereka tersinggung. Lucunya lagi kalau mereka suka lupa apa yang telah di omongin dan kalau di tanya selalu mengelak tidak pernah ngomong seperti itu.

Akhirnya kita yang belum mamasuki usia lansia harus mengalah, karena percuma juga di lawan, mereka tetap pada pendiriannya. Toh suatu hari nanti kita juga akan memasuki usia lansia.

Memang rata-rata menghadapi seseorang yang berusia lanjut yang sudah memasuki usia 60 tahun, bukan  orang tua kita saja, mungkin juga saudara atau teman-teman agak berbeda cara kita menyikapinya. Rata-rata mereka lebih sensitif. Jadi kita harus membedakan cara berbicara dengan mereka di banding berbicara dengan seumuran ataupun yang lebih muda.

Mungkin bagi lansia yang masih sehat fisiknya, sebaiknya di beri kegiatan ataupun pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Agar mereka masih punya rasa “percaya diri”, sehingga bisa mengurangi rasa sensitifnya, juga agar tidak bingung di rumah seharian tanpa ada kegiatan, sehingga membuat mereka seperti orang yang tidak produktif.

Sewaktu saya liburan ke Jepang beberapa tahun yang lalu, banyak sekali saya melihat lansia-lansia yang masih bekerja. Ada yang berkerja sebagai kasir, mencabut rumput di depan kuil-kuil, malah kamar hotel di tempat saya menginap juga di bersihkan oleh lansia yang badannya sudah mulai membungkuk. Tentunya ini bagi lansia yang masih kuat fisik dan ingatannya.

Di negara kita sendiri sangat jarang kita melihat lansia yang masih berkerja. Apa karena kita  beranggapan bahwa penduduk lansia lebih di pandang sebagai beban dari pada sebagai sumber daya dan kehidupan masa tua tidak lagi memberikan banyak manfaat. Atau masalah budaya kita yang mengatakan, sebaiknya orang tua di rumah saja nemenin cucu.

Bagi kita-kita yang nantinya juga akan memasuki usia lansia, lebih baik  mempersiapkan diri .  Baik siap dalam segi fisik maupun fsikisnya, yaitu dengan banyak menambah pengetahuan, mencari kegiatan yang menyenangkan serta menjaga kesehatan.

Agar nantinya tidak menjadi beban keluarga,  serta bisa  mengurangi sifat-sifat lansia seperti yang saya uraikan di atas sehingga tidak membikin bingung keluarga terutama anak-anaknya.

Sumber: kompasiana.com

Loading...
loading...
loading...