Benarkah Bisnis Migas China Jadi Salah Satu Dalang Pembantaian Muslim Rohingya?

by

Kurang lebih 5 tahun terakhir, warga minoritas Rohingya mendapatkan perlakuan diskriminatif yang berujung pada kekerasan dan pembantaian dari pemerintah, militer Myanmar sampai warga lokal.

Dalam operasi militer Myanmar dalam kurun waktu satu pekan terakhir ini saja, PBB melaporkan jika setidaknya ada 400 warga Rohingya yang tewas dan 60 ribu lainnya terpaksa melarikan diri ke Bangladesh.

Operasi militer yang menghilangkan banyak nyawa itu dipicu oleh serangan gerilyawan Rohingya terhadap puluhan pos polisi dan pangkalan militer di negara bagian Rakhine yang memicu adanya bentrokan dan serangan balik dari militer.

Tentara menyebutkan melancarkan pembersihan terhadap teroris garis keras dan pasukan keamanan diberi pengarahan untuk melindungi warga sipil.

Tetapi, pengakuan berbeda dari warga Rohingya  yang melarikan diri ke Bangladesh. Mereka menyebutkan jika pembunuhan dan pembakaran itu bertujuan untuk memaksa mereka keluar.

Penanganan terhadap 1,1 juta muslim Rohingya menjadi sebuah tantangan besar bagi Aung San Suu Kyi yang telah mengutuk serangan itu dan memuji pasukankeamanan.

Selain pertarungan antar etnis dan agama, berdasarkan pada Guardian, hal tersebut juga dipicu oleh konflik geopolitik.

Myanmar seperti yang diwartakan oleh Forbes diperkirakan memiliki cadangan minyak dan gas sebesar 11 triliun dan 23 triliun kaki kubik, hal tersebut membuat perusahaan multinasional asing berebut kesepakatan untuk mengeksploitasinya.

Selain itu Myanmar juga berada dalam posisi geo-politik yang menguntungkan, terutama untuk China lantaran merupakan akses pada laut India dan Laut Andaman.

Sejak Myanmar membuka diri pada 2011 yang lalu, ekspansi China sudah tak bisa ditahankan lagi.

Myanmar juga dalam posisi geo-politik yang penting dan strategis bagi kepentingan Cina seiring pembangunan Shwe Pipeline (Jalur Pipa Shwe) di Negara Bagian Rakhine yang menghubungkan distribusi Afrika dan Timur Tengah ke Negara China.

Pipa gas itu sudah mulai beroperasi sejak 1 Juli 2013 yang lalu, sementara pipa minyak mulai bisa digunakan pada 1 Desember 2013 yang lalu.

China memiliki kepentingan yang sangat besar dari jalur pipa tersebut dan harus memastikan wilayah jalur pipa tetap aman.

Tetapi proyek gas dan Jalur Pipa itu mendapatkan perlawanan di negara bagian Rakhine, Shan, dan Burma tengah yang telah menghancurkan nelayan, merampas ribuan hektar tanah dan membat puluhan warga lokal Budha menganggur.

Meskipun belum terbukti, Guardian menyiratkan jika dugaan persekusi Rohingnya itu dinilai sebagai operasi terselubung. Dan isu agama itu digunakan untuk mengalihkan dunia dengan konflik yang sebenarnya terjadi.

Sumber: suratkabar.id

Loading...
loading...
loading...