Beda Nasib Dengan Zohri, Fauzan Juara Dunia Karate Kini Jadi Pegawai Toko dan Gagal Jadi Polisi

by

Deddy Corbuzier merilis vlog terbarunya yang mengomentari soal kemenangan Lalu Muhammad Zohri.

Menurutnya, kemenangan Zohri menjadi juara dunia dalam ajang lari 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Finlandia adalah faktor kebetulan dan hoki belaka.

“Zohri itu menang karena kebetulan, bukan karena yang lain,” ujar Deddy membuka video blognya.

Pernyataan Deddy itu kemudian ia hubungkan dengan kisah dirinya sendiri. Deddy membeberkan beberapa fakta mengenai kehidupan Zohri sebelum dirinya mengikuti kompetisi bergengsi itu.

“Sekarang coba bandingkan dengan Zohri. Zohri itu sepatu larinya aja nggak punya, tinggal di rumah gubuk, makannya kurang, gizinya tak terawat, suplemennya nggak ada, tidak diperhatikan sama sekali.

Sekarang aja diperhatikan, kalau nggak viral ya nggak jadi apa-apa juga,” pungkasnya.

Sebelum menyebut kalau kemenangan Zohri adalah faktor kebetulan belaka, Deddy membandingkan dengan kehidupan seorang atlet Indonesia yang menjadi juar adnia.

Dia adalah Fauzan alias Ozan (20). Seorang pemuda asal Kampung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini tercatat sebagai juara dunia pada WASO World Championship pada Januari 2018 di Ceko.

Nasib Ozan tak seindah Zohri. Ketika Zohri dihujani hadiah dari berbagai kalangan, tapi tidak dengan Ozan.

Dikutip dari Kompas.com, Perjalanan Ozan dan pelatihnya, Mustafa, berangka ke Ceko tak mudah.

Pulang dari sana, ia menikmati kemenangan dalam senyap dan kembali ke kehidupan nyata, mencari penghidupan.

Sebenarnya, Ozan punya cita-cita menjadi tentara. Kemudian, dia mencoba peruntungan menjadi polisi tetapi gagal karena tak lolos seleksi.

Terakhir, Ozan mencoba melamar sebagai anggota Satpol PP di Provinsi Kalimantan Selatan. Hingga saat ini, belum ada kelanjutan dari lamaran yang diajukannya.

Kini, Ozan menjalani pekerjaaannya sebagai karyawan di sebuah toko retail, membantu perekonomian keluarga.

Ibu Ozan, Jamariah (56), bekerja sebagai tukang pijat.

Saat dihubungi Kompas.com, Selasa (17/7/2018), Ozan berharap, ke depannya, ada perhatian pemerintah terhadap para atlet yang telah mengharumkan nama negara.

“Kenapa atlet-atlet dibeda-bedakan antara atlet lain, enggak ada perhatiannya pemerintah sama atlet-atlet. Apakah pemerintahnya lagi kesibukan mengurus rakyat atau gimana,” kata Ozan sebagaimana dikatakan kepada Kompas.com.

Perjuangan Menuju Ceko
Perjuangan mengikuti kejuaraan dunia karate Perjalanan Ozan dan pelatihnya untuk berangkat mengikuti kejuaraan karate tradisional tingkat dunia, WASO World Championship, tak mudah. Ia sempat mengalami kesulitan biaya untuk mendanai perjalanannya ke Ceko.

Bantuan dari sejumlah pihak, termasuk Korda Federasi Karate Tradisional Indonesia Kalimantan Selatan akhirnya mewujudkan keinginan Fauzan bertarung di kancah dunia.

“Sempat bingung karena kesulitan biaya, padahal harus ngurus visa dan tiket pesawat. Tapi, kemudian kami dibantu oleh beberapa pihak asing dan dapat bantuan dari Ketua Korda Federasi Karate Tradisional Indonesia,” ujar Ozan.

Pihak WASO World Championship juga memberikan bantuan dan kemudahan seperti menyediakan fasilitas tempat istirahat, dan keperluan sehari-hari selama mereka tinggal di Ceko.

Namun, segala fasilitas yang didapatkan ini harus dibayar setelah kejuaraan selesai.

“Setelah pengumuman kejuaraan, kami mengganti uang yang kami pinjam ke pihak WASO,” ujar Ozan.

Menurut dia, pemerintah kurang memberikan perhatian terhadap para atlet olahraga karate.

“Kurang diperhatikan aja sih. Yang penting saya berangkat, saya datang ke kota orang. Saya enggak mikir pulang lah, yang penting berusaha yang terbaik, yang serius mainnya, jangan mengecewakan,” kata Ozan.

Di tingkat nasional, prestasi Fauzan tercatat pernah meraih medali emas saat kejuaraan nasional karate yang berlangsung di Sumedang pada Agustus 2017.

Prestasi inilah yang mengantarkannya bisa bertanding di kejuaraan dunia di Ceko.

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...