Bagaimana Rasanya Meninggal Dunia Tanpa Kehadiran Anak-anak? Ini Kisah Menyedihkan Mbah Kadiyem

by

Setelah sepuluh tahun ditelantarkan anak-anaknya, Mbah Kadiyem akhirnya meninggal dunia, Jumat (10/3).

Nenek 85 tahun asal Dusun Ngulubang, Desa Mlilir, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, itu meninggal dalam keadaan hanya ditunggui keponakannya, Masinah (60).

Ia meninggal di rumah mungilnya yang berada di pingging sawah. Sebelum meninggal ia sempat bilang kepada Masinah ingin pulang tapi menyuruhnya untuk diam saja. Ia juga bilang supaya Masinah mau menungguinya.

Saat mengatakan itu, badan Mbah Kadiyem tiba-tiba panas. Tak berapa lama kemudian Mbah Kadiyem terdiam lalu diketahui sudah meninggal dunia.

Ia tak menyangka, setelah memandikan dan menyuap bubur Nenek Kadiyem bakal pergi selamanya. Ia baru menyadari kata-kata Kadiyem itu merupakan sepenggal kalimat terakhir yang disampaikan sebelum meninggal dunia.

Meski hidup sendirian, ia yakin nenek Kadiyem meninggal dalam kondisi tenang. Begitu meninggal dunia, banyak warga yang datang takziah ke rumahnya. “Pak Danramil juga datang melayat kesini,” ujar Masinah.

Sulami, tetangga yang merawat Kadiyem setiap hari, sempat menghubungi anak kandungnya yang tinggal di Lampung tak lama setelah Mbah Kadiyem meninggal.

Namun hingga saat ini, anak kandung Kadiyem tak kunjung datang. Sulami menjelaskan beberapa jam setelah meninggal, warga sepakat memakamkan di tempat pemakaman umum desa itu.

Rumah mungilnya kini dikosongkan. Keponakannya, Masinah, yang tinggal di Babadan, Kabupaten Ponorogo, seminggu sekali menengok rumah milik almarhumah Kadiyem.

Sebelum meninggal dunia, kehidupan Mbah Kadiyem sempat menjadi perhatian banyak orang.

Semenjak hidup sebatang kara, Kadiyem hanya mengandalkan belas kasihan dari tetangga dan orang lain untuk hidup. Pasalnya, semenjak tiga tahun terakhir, Kadiyem tak sanggup berdiri.

Sehari-hari, Kadiyem hanya tergeletak tak berdaya di sebuah kasur lusuh di ruang tamu rumahnya yang pengap. Rumah berukuran sekitar 6 x 6 meter milik Kadiyem tersekat menjadi tiga bagian.

Tak ada satu pun perabotan rumah tangga. Dua ruangan masing-masing berukuran satu setengah meter. Lantai dan temboknya berlubang. Hanya terdapat dipan kayu yang sudah lapuk dan beberapa peralatan dapur yang sudah usang.

Di samping kiri dan belakang rumah Kadiyem terhampar sawah. Di samping kanannya, terdapat rumah kecil yang sudah kosong ditinggal pemiliknya.

Untuk penerangan ruang tamu yang menjadi kamar tidur, tetangganya berbaik hati mengulurkan listrik untuk sekedar menerangi ruangan.

Satu lampu listrik 10 watt ditaruh di atas ruang tamu dan satu lampu berdaya 5 watt dipasang di teras rumahnya.

Lantaran tidak ada keluarga yang merawat, seorang tetangga bernama Sulami terketuk hati merawat Kadiyem.

Sulami yang berstatus janda beranak satu ini dan tinggal persis di depan rumah Kadiyem. Dia mengaku tak tega melihat Kadiyem, hidup sebatang kara.

Meski penghasilannya serba pas-pasan karena hidup sebagai buruh tani, Sulami tak pernah menyerah merawat Kadiyem. Keikhlasannya merawat nenek Kadiyem, membuat banyak orang berempati.

“Dulu sebelum kondisi Mbah Kadiyem tak berdaya, dia masih bisa menghidupi dirinya sendiri. Tapi setelah badannya lemas empat tahun terakhir, saya yang memberi makan, minum, memandikan hingga membersihkan kotoran hajatnya karena mbah Kadiyem tidak bisa berdiri dan berjalan lagi,” kata Sulami di rumah Kadiyem, Senin (6/3) siang.

Sumber: intisari-online.com

Loading...
loading...
loading...