Anak SD Dipukuli Kakak Kelas Berakhir Damai, Pelaku Ingin Viral dan Kondisi Korban

by -882 views

Video penganiayaan kepada bocah SD oleh kakak kelas viral di Twitter. Dalam video tersebut, bocah SD dipukuli dan ditendang oleh dua orang kakak kelasnya.

Viralnya video itu bermula dari unggahan sebuah akun Twitter bernama @yuzanst. Video diunggah pada Selasa, (27/8/2019).

Dalam video berdurasi 45 detik itu, tampak seorang bocah yang menangis tersedu-sedu karena dipukuli oleh dua orang kakak kelas.

Kedua pelaku terlihat memukuli korban bertubi-tubi. Tidak hanya dipukul, korban juga ditendang kepala dan punggungnya oleh dua pelaku.

Tampak pula seorang pelaku yang bergerak seolah ingin memelintir kepala korban.

Seorang anak yang menjadi pelaku itu menahan kepala korban. Lantas, pelaku satunya lagi menjitak dan memukuli korban hingga beberapa kali.

Setelah itu, punggung korban kembali diinjak dan dipukul oleh kedua pelaku.

Tak berhenti sampai situ, seorang pelaku kembali menendang kepala korban dari samping.

Merasakan sakit, korban memegang telinganya dan tak berhenti menangis.

Video tersebut telah mendapatkan 15.000 retweets dan 13.900 likes dari warganet Twitter.

Sebanyak 7.400 komentar juga membanjiri akun @yuzanst, per Jumat (30/8/2019).

Dihubungi Tribunnews, pemilik akun @yuzanst mengaku mendapatkan video tersebut dari grup Whatsapp ibunya.

Saat ditanyai siapa sumber pemberi video di grup, pemilik akun bernama asli Yuza Farhan Nasution mengaku tak tahu.

“Yang ngirim kurang jelas sih siapa, soalnya pas ditanya bukan dari dia (pengirim video di grup) juga. Si pengirim nerima dari grup (lain) juga,” kata Yuza ketika dihubungi Tribunnews via Direct Message Twitter, Kamis (30/8/2019).

Kronologi
Menurut penelusuran Tribunnews dalam kolom komentar unggahan @yuzanst, peristiwa terjadi di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara.

Diketahui, bocah SD yang menjadi korban berinisial AR, siswa kelas 4 SD Negeri 117852 Ambacang, Desa Siamporik, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labura.

Sedangkan, pelaku berinisial A (6 SD) dan R (5 SD).

Sementara itu, dilansir Tribun Medan, perekam video aksi kekerasan adalah siswa kelas 5 SD berinisial U.

Dalam beberapa komentar warganet, diketahui Ramadhany Sitorus menjadi sumber atas beberapa perkembangan kasus kekerasan ini.

Namun, ketika dihubungi Tribunnews via Direct Message Instagram, belum ada jawaban dari Ramadhany.

Kemudian, Halaman Facebook Potret Labura turut membeberkan kronologi kejadian yang menimpa bocah SD di Labuhanbatu Utara atau Labura tersebut.

Dikonfirmasi Tribunnews via Facebook Messenger, Irsyad Kamil, Founder Potret Labura, membenarkan kejadian yang menimpa AR.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Irsyad, peristiwa terjadi pada Rabu (21/8/2019), sekitar pukul 06.00 WIB.

Irsyad menjelaskan, pengeroyokan yang dialami AR terjadi sebelum bel masuk berbunyi dan guru belum datang.

Menurut Irsyad, A dan R disuruh oleh remaja luar sekolah yang saat itu sedang berada di lokasi.

“Pertama kali kronologinya A dan R berantem dengan W (teman sekolah lainnya).”

“Setelah itu, remaja setempat tidak kami sebutkan namanya menyuruh A dan R memukul dan menendang AR,” ujar Irsyad.

Irsyad juga mengatakan, tidak diketahui motif remaja tersebut untuk menyuruh A dan R memukul AR.

Namun, remaja itu mengiming-imingi pelaku dengan uang agar mereka mau memukul dan menendang AR.

“Di situlah korban dipukulin juga ditendang A dan R,” lanjut Irsyad.

Founder Potret Labura itu juga mengungkapkan, awalnya kasus ini belum mendapat penindakan intensif dari sekolah hingga hampir seminggu berselang.

Beberapa waktu kemudian, sebuah halaman Facebook setempat lain mengunggah video kekerasan tersebut.

Berdasarkan keterangan Irsyad, video yang diunggah halaman Facebook setempat itu didapatkan dari saudara korban, meskipun belum diketahui dari mana akar video bermula.

Namun, selang beberapa menit, unggahan video itu dihapus.

Potret Labura yang juga mengunggah kasus itu, memutuskan untuk mempertahankan unggahannya.

“Kami Potret Labura, tidak menghapus postingan itu di FB, IG, dan Fanpages, guna agar kasus itu segera ditindakanjuti,” tegas Irsyad.

DPD KNPI Labura hingga Camat Temui Korban

Berdasarkan penelusuran Tribunnews pada unggahan Potret Labura, perwakilan DPD KNPI hingga Camat Kualuh Selatan mengunjungi AR atas kasusnya yang menggegerkan jagad maya maupun warga setempat.

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Labura, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Labura, dan Kepala Desa Siamporik.

Pertemuan itu dilakukan dalam rangka perdamaian.

Perdamaian dimediasi dan difasilitasi oleh sekolah, dan didukung oleh KPAID, kepala desa, dan camat.

Dalam unggahan lainnya, terdapat sebuah video yang menunjukkan AR sedang dipeluk oleh pihak sekolah.

Video tersebut memperdengarkan suara seorang wanita yang mengatakan, Camat memberikan uang kepada AR.

Iya karena sudah damai tadi, apa dikasih Pak Camat tadi uang tadi,” ujar wanita tersebut.

Mengonfirmasi hal itu, Irsyad membenarkan apa yang dikatakan wanita yang terdengar suaranya dalam video tersebut.

“Dalam video itu benar, katanya camat memberikan sejumlah uang ke AR, namun tak tahu nominalnya, kabarnya Rp 500 ribu,” kata Irsyad.

Irsyad menambahkan, pemberian uang kepada korban merupakan partisipasi camat agar AR dapat tersenyum kembali.

“Itu partisipasi camat dan untuk melihat anak tersebut tersenyum kembali,” imbuhnya.

Kondisi Kesehatan Korban
Berdasarkan unggahan Potret Labura pada Rabu (28/8/2019) lalu, AR telah menjalani pemeriksaan kesehatan di RSUD Rantau Prapat, Labura.

Selain itu, Dinas Pemeberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga sudah memanggil psikolog untuk konseling pada AR.

Hasil pemeriksaan terhadap AR pun telah keluar.

Laporan perkembangan hasil pemeriksaan tersebut disiarkan oleh Potret Labura melalui unggahannya sebagai berikut.

Laporan perkembangan hasil pemeriksaan di RSUD rantau prapat Dokter RSUD telah memeriksa korban dan menyimpulkan beberapa hal :

  1. Kondisi korban baik-baik saja.
  2. Tidak dilakukan Scanning sebab dikhawatirkan akan menimbulkan kelenjar.
  3. Surat perdamaian sedang dikerjakan dan akan ditandatangani nanti malam sekembalinya dari RSUD rantau prapat.
  4. Surat perdamaian akan dicopy sesuai kebutuhan tembusan surat.”

Dalam unggahan tersebut, ada beberapa video yang menunjukkan ekspresi AR kembali ceria.

AR juga tampak tersenyum kembali.

Berakhir Damai

Kasus kekerasan yang terjadi pada AR akhirnya berakhir damai. Keluarga korban dan pelaku sepakat berdamai pada Kamis (29/8/2019) malam.

Dalam beberapa foto yang diunggah Potret Labura, tampak pelaku, korban, dan kedua keluarga duduk bersama.

Anggota keluarga kedua belah pihak juga terlihat menandatangani surat perdamaian yang disaksikan anggota keluarga lain yang hadir di lokasi.

Kasus ini pun dinyatakan selesai.

Dalam sebuah foto, tampak kedua keluarga serta korban dan pelaku berfoto bersama.

[SELESAI]

Keluarga korban dan keluarga pelaku sudah berdamai malam ini.

Dengan perdamaian ini semoga kejadian seperti itu tak akan pernah terulang kembali, dan mudah”an adik AR sehat jasmani dan rohani.

Acara manyonggot atau adat untuk berdamai malam ini dihadiri oleh kepala desa, kepala dusun, kepala sekolah, tokoh masyarakat setempat, org tua dari kedua pelaku, anak anak si pelaku dan masyarakat setempat,” tulis Potret Labura pada Kamis (29/8/2019) dini hari.

Sengaja Ingin Viral
Dilansir Tribun Medan, Wakil Ketua KPAD Labura, Khairuddin Marpaung, menerangkan, para pelaku sengaja ingin divideo agar viral.

“Para pelaku sengaja ingin memvideokan itu untuk memviralkan kejadian itu.”

“Kalau bahasa mereka di video, yuk kita pukul biar viral biar viral, uda gitu biar ku vidiokan biar viral.”

“Mereka awalnya (tampak) main main,” beber Khairuddin.

Mengenai siapa yang memviralkan video itu, Khairuddin tidak mengetahui secara pasti.

Namun, dirinya meminta semua pihak untuk menghapus video yang beredar.

“Lebih baik dihapus jangan diviralkan kasian anak-anak,” pinta Khairuddin.

Beredarnya video berisi konten kekerasan ini, tentu membuat resah.

Khairuddin berharap semua pihak bersifat dewasa dan tidak menyebarkan lagi ke media sosial lantaran sudah tercapai kata damai.

“Orang tua salah seorang pelaku dengan korban ini satu keluarga. Mereka saling kait mengkait jadi sudah di mediasi sudah damai,” katanya.

Kepada setiap guru di sekolah, Khairuddin mengimbau agar lebih memperhatikan murid dan mengutamakan pendidikan moral dalam memaknai kehidupan.

“Saya harap para guru tetap memberikan pendidikan yang terbaik. Jangan fokus pada satu pendidikan saja. Pendidikan moral juga sangat penting,” pungkas Khairuddin.

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...