Alasan Wanita di Pasuruan Tolak Ibunya yang Diabetes Dilabeli COVID-19

by -1,527 views

Tirani Ika Pratiwi (35) merupakan pemilik akun Facebook Tea Ranich yang curhat soal nasib ibunya.

Menurutnya, sang ibu yang menderita diabetes dilabeli COVID-19 saat meninggal di RSUD dr R Soedarsono, Kota Pasuruan.

Tirani tinggal di Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan.

Melalui tulisan panjang berjudul ‘Bukan COVID-19’ itu, ia mengaku hanya ingin membagikan pengalamannya.

“Asalnya kan cuman curhat kecil-kecilan, mungkin ada yang mengalami kayak saya. Itu juga saya privasi di album keluarga sendiri. Tapi mungkin karena banyak yang ingin berbagi atau nge-share, mungkin ada yang mengalami hal yang sama. Ternyata kan banyak yang ngalami kayak saya,” kata Tirani di rumahnya, Selasa (4/8/2020).

Tirani membenarkan semua yang dia tulis dalam unggahan.

Termasuk kegigihannya menolak tanda tangan terkait penanganan, pemulasaraan hingga pemakaman ibunya sesuai protap COVID-19.

“Saya nggak mau tanda tangan karena nonreaktif. Tapi kenapa pada saat pengambilan jenazah dinyatakan kalau ibu saya COVID-19, dan harus bersedia dimakamkan secara COVID-19, walaupun dari awal saya menolak kalau ibu saya COVID-19 dan hasilnya nonreaktif. Itu yang membuat saya nyesek,” imbuhnya.

Tirani menegaskan, ibunya menderita diabetes sejak lama.

Ia juga sudah memberikan rekam medis kepada rumah sakit.

“Ya memang mau nazak (sakarotul maut) kan memang sesak sih. Tapi bukan berarti panas dan sesak itu semua dikaitkan dengan COVID-19. Ya memang COVID-19 itu ada sih. Masak saya harus mengiyakan kalau COVID-19 wong test rapid-nya nonreaktif. Dan pada saat pengambilan jenazah juga harus menjalani protokol COVID-19,” keluhnya.

Tirani membenarkan tidak menandatangani semua surat yang diajukan rumah sakit terkait COVID-19.

Ia mengaku sedikit lega karena ibunya bisa dikuburkan di pemakaman umum desa asalnya di Kecamatan Lumbang.

“Kalau dari Lumbang saya nggak dapat surat penempatan jenazah mungkin saya harus nerima ibu saya dimakamkan di pemakaman area COVID-19 di Sutojayan (Kota Pasuruan).

Untungnya dari pihak Lumbang menerima jenazah. Saya bisa bawa pulang ke Lumbang,” terangnya.

Penguburan jenazah dilakukan oleh keluarga dengan memakai alat pelindung diri.

“Saudara saya yang menguburkan tapi dengan APD. Itu saudara saya semua yang menguburkan. Kalau emang COVID-19 beneran kan harusnya petugas semua yang menguburkan,” pungkasnya.

Sumber: detik.com

loading...
loading...