8 Tahuh Bocah Asal Madura Ini Dikurung di Bekas Kandang Ayam, Ini Kata Orangtua dan Tetangga

by

Seorang bocah berusia 12 tahun asal Madura, terpaksa dikurung di bekas kandang ayam oleh orangtuanya.

Hal memprihatinkan itu dialami Mohammad Efendi warga Dusun Bringin, Desa Angsanah, Kecamatan Palengan, Kabupaten Pamekasan, Madura.

Efendi terpaksa tinggal di bekas kandang ayam berukuran kurang lebih empat kali tiga meter, dan dindingnya terbuat dari anyaman bambu.

Bukan tanpa alasan mengapa orangtua Efendi mengurung anaknya di tempat tersebut.

Hal ini dikarenakan Efendi diduga mengalami gangguan jiwa sejak kecil.

Dikutip TribunJakarta dari TribunMadura, rasa sedih bercampur miris begitu terasa saat berkunjung ke rumah Efendi, Jumat (4/9/2019).

Letak bekas kandang ayam yang ditempati Efendi itu ada di belakang rumah orangtuanya dan bersebelahan dengan kamar mandi.

Rumah orantua Efendi sendiri bisa dibilang jauh dari kata layak.

Sebab terlihat dinding dan penyangga atap rumahnya hanya memakai anyaman bambu.

Melihat kondisi Efendi yang memprihatinkan, sesekali para tentangga datang untuk memberikan makanan kepada bocah tersebut.

Setiap mengetahui ada yang datang, ia pun girang dan mengambil makanan yang diberikan dari balik kandang yang menyerupai penjara.

Tak hanya para tetangga, Efendi juga kerap terlihat gembira bila ada tamu yang datang.

Terlebih saat ada tamu datang untuk melihat kondisinya. Ia pun langsung menyapanya dengan berteriak kegirangan.

Seperti yang diceritakan Maryam, salah seorang tetangganya.

Ia menuturkan, Efendi senang ketika ada tamu yang menyambanginya, dengan sendirinya ia akan berteriak kegirangan.

Maryam juga mengaku selalu datang setiap hari ke tempat Efendi di kurung.

Maryam datang untuk memberikan makan Efendi, dan itu ia lakukan saat orangtua Efendi belum pulang dari sawah.

Diceritakan Maryam, saat siang hari ketika Latifah (33), ibunda Efendi datang dari sawah selalu memberi Efendi makan dan minum.

Tak hanya itu, sesekali orangtuanya juga kerap mengajak Efendi bercanda.

Latifah mengatakan, sejak kecil anaknya sudah menderita sakit jiwa.

Latifah mengaku kesulitan untuk menjaga Efendi, apalagi saat dirinya sedang mencari nafkah.

Maka dari itu, dengan berat hati ia harus memasukan anaknya ke dalam kandang.

Diakui Latifah, tempat tersebut bukanlah tempat permanen untuk Efendi, melainkan hanya di waktu tertentu saja.

“Saya taruh di situ hanya di waktu tertentu saja, ya ketika saya sedang bekerja pergi ke sawah. Karena di rumah tidak ada siapa-siapa untuk menjaga Efendi. Kalau saya pulang kerja, baru saya keluarkan,” kata Latifah.

Latifah menuturkan, jika anaknya tidak dimasukan ke dalam kandang saat dirinya bekerja, kemungkinan anaknya akan bertindak di luar batas.

Seperti halnya melakukan perbuatan yang bisa membahayakan dirinya sendiri.

Pernah suatu waktu ungkap Latifah, ua mencoba tidak mengurung Efendi, dan ternyata anak bungsunya itu keluyuran, bahkan sering menghilang dari rumahnya.

Tak hanya itu, jika Efendi dilepas, ia kerap memakan apa saja yang ada di sekitarnya dan bisa membahayakan.

“Pernah sekali Efendi luput dari perhatian kami, dia justru hilang dan baru ditemukan di kuburan belakang rumah,” ujar Latifah sembari matanya berkaca-kaca.

Latifah juga mengutarakan, Efendi sudah ditelakkan di tempat tersebut sejak berusia empat tahun.

Saat itu Efendi baru mulai belajar merangkak.

Kini usia Efendi sudah 12 tahun, artinya sudah 8 tahun Efendi merasakan dikurung di kandang tersebut.

Efendi dikurung di kandang tersebut ketika Latifah hendak pergi ke sawah.

Hamzah (40), ayah Efendi awalnya mengaku tak tega mengurung anaknya.

Namun, orangtua Efendi berpikir dengan cara mengurung lebih banyak dampak positifnya dibanding mudaratnya.

Hamzah dan Latifah mengaku bisa tenang mencari nafkah untuk membiayai hidup ketiga anaknya yang lain.

“Kalau bicara perasaan, perasaan kami iba dan kasihan. Tapi bagaimana lagi, ini sudah nasib keluarga kami. Kami harus hidup, harus bekerja. Kalau tidak bekerja, keluarga kami mau dapat dari mana biayanya,” ungkap Hamzah.

Sempat Ditempatkan di Salam Surau
Sebelum dikurung di dalam bekas kandang ayam, Efendi ditempatkan di dalam surau.

Namun, masih bisa keluar dan merangkak ke luar halaman rumah.

Ketika lepas dari pengawasan orangtuanya, banyak makanan yang tidak layak dimakan.

Yang membulatkan tekad kedua orangtua mengurun Efendi, karena Efendi pernah hilang dari rumahnya saat kedua orangtuanya pergi bekerja di sawah sampai sore.

Efendi dicari sampai malam tiba. Bocah berkulit kuning langsat ini ditemukan di pinggir sungai. Beruntung di sungai itu tidak sedang banjir.

Berharap Perhatian Pemerintah
Latifah mengaku, hingga saat ini masih belum ada perhatian dari pemerintah setempat.

Ia berharap ada bantuan yang peduli terhadap kondisi anaknya tersebut. Ia mengaku tak mampu membawa anaknya berobat secara terus menerus.

“Karena kami keterbatasan ekonomi, kami tidak mampu untuk membawa anak kami berobat secara terus menerus,” ucapnya.

“Kami berharap ada relawan yang peduli terhadap anak saya untuk berobat. Biar anak saya bisa sembuh total. Semoga ada keajaiban,” tutupnya sembari mengusap air mata.

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...