8 Penyebab Bayi Anda Sering Rewel

by

Menangis merupakan salah satu cara bayi untuk berkomunikasi dengan orang tuanya. Apabila keinginannya tak tercapai, maka bayi cenderung menjadi rewel.

Meski dalam keseharian ini sering terjadi, sering kali orang tua tak mengerti apa penyebab rewelnya bayi.

Ada beberapa faktor yang bisa membuat bayi menjadi rewel. Orang tua perlu memahami beragam penyebabnya sehingga dapat segera menenangkan bayi yang sdang menangis. Beberapa penyebab bayi rewel antara lain:

Lapar
Kondisi lapar adalah faktor penyebab tersering bayi yang rewel. Reaksinya adalah ia akan rewel dan menangis.

Selain itu, tangan bayi pun akan mengepal, mengisap tangan atau jarinya, menggerakkan bibir, atau memalingkan wajah ke arah Anda menyentuh pipinya untuk memberikan ASI.

Biasanya, tangisannya akan berirama dan berulang, kemudian semakin keras dan tak kunjung berhenti.

Mengantuk
Bayi yang sudah mengantuk akan memberikan tanda kepada orang tuanya dengan tangisan dan cenderung lebih rewel.

Sekadar mengingatkan, pada minggu-minggu awal setelah kelahirannya, rata-rata bayi membutuhkan 16-18 jam tidur setiap harinya.

Tidak nyaman
Dalam kondisi yang tidak nyaman – misalnya bayi kurang istirahat atau gelisah –bayi akan mudah rewel.

Saat Anda menghampirinya, belum tentu bayi akan langsung tenang, karena mungkin saja Anda tidak mengetahui apa yang membuatnya tak merasa nyaman.

Awalnya suara bayi akan terdengar seperti merengek dan butuh waktu cukup lama sampai akhirnya ia menangis jika tak ada yang memberikan respons.

Gangguan pencernaan
Gangguan pencernaan seperti perut kembung dan banyaknya gas di dalam lambung akan membuat bayi menjadi rewel terus-menerus.

Kondisi ini disebut sebagai kolik. Jika gangguan ini terjadi, yang bisa Anda lakukan adalah membuat bayi berserdawa agar gas di dalam perutnya bisa keluar.

Kolik juga bisa dihilangkan dengan memberikan pijatan di area perut bayi. Gunakan minyak telon agar bayi merasa hangat. Lakukan pijatan searah jarum jam.

Popok basah
Bayi cukup sensitif dengan kondisi popok yang basah dan kotor. Jika ini terjadi, segera ganti popok.

Jika Anda mendapati adanya ruam popok saat mengganti popoknya, berikan ia losion khusus ruam popok yang aman bagi kulitnya.

Ingin digendong
Salah satu penyebab lain bayi yang rewel dan menangis bisa jadi karena ia ingin selalu dekat dengan orang tuanya.

Dengan menggendongnya, bayi akan menjadi lebih nyaman dan secara tidak langsung seakan memberitahukan kepada bayi bahwa Anda akan selalu ada untuk menjaga dan melindunginya.

Selain itu, menggendong bayi juga diyakini dapat mempererat ikatan antara orang tua dan anak.

Bayi pun akan merasa selalu diperhatikan, berharga, dan tahu bahwa dirinya dibesarkan dengan penuh kasih sayang.

Takut
Bayi yang baru lahir mudah merasa takut. Penyebabnya adalah kondisi lingkungan yang jauh berbeda dengan saat ia masih berada di dalam rahim ibu.

Bayi yang merasa takut ini akan menjadi rewel dan “meminta” untuk cepat diperhatikan oleh orang tuanya.

Saat ia takut, biasanya ia akan menangis dengan mata terbuka, tatapannya pun terlihat menerawang.

Jika ini terjadi, yang bisa Anda lakukan adalah segera memeluk, mendekap, atau menggendong bayi dengan erat. Katakanlah bahwa saat ini ia aman berada di dekapan Anda.

Sakit
Bayi yang rewel juga bisa menjadi pertanda bahwa ia sedang sakit. Tanda umumnya adalah suaranya akan keras dengan nada dan intensitas tinggi dari awal.

Matanya akan tertutup, dengan wajah tampak mengernyit, mulutnya pun terbuka.

Jika bayi Anda demam, muntah, atau diare, yang membuatnya rewel dan sulit untuk ditenangkan, sebaiknya ia segera dibawa ke dokter anak agar ia mendapatkan perawatan yang tepat.

Itulah beberapa penyebab bayi sering rewel. Satu hal yang penting, Anda sebagai orang tua harus tenang dalam menghadapinya.

Jika Anda merasa stres, bayi akan bisa merasakannya dan ada kecenderungan ia akan bereaksi negatif, sehingga menyebabkan tangisannya makin kencang.

Jika bayi yang rewel sulit sekali untuk ditenangkan, sebaiknya segera berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis anak agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Sumber: klikdokter.com

Loading...
loading...
loading...