7 Peristiwa Berdarah di Papua Selama 5 Tahun Terakhir

by -487 views

Demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Papua sejak pertengahan Agustus lalu, berujung ricuh. Akibatnya banyak fasilitas umum rusak, bahkan memakan puluhan korban jiwa.

Aksi yang berlangsung di beberapa kota ini berlanjut hingga akhir September, yang dilakukan sebagai bentuk protes atas dugaan tindak rasialisme yang diduga dilakukan aparat keamanan kepada mahasiswa Papua di Jawa Timur.

Sebelum peristiwa tersebut, banyak deretan kasus berdarah yang terjadi di Bumi Cendrawasih, di antaranya kasus penembakan 31 karyawan PT Istaka Karya (Persero) pada Desember 2018.

Kepolisian menyebut kasus ini diduga dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB). Berikut deretan peristiwa berdarah selama lima tahun terakhir ini:

1. Kerusuhan di Papua Pasca-dugaan Tindak Rasial di Jawa Timur
Kerusuhan di Papua pecah pasca-dugaan tindak rasial pada mahasiswa di Jawa Timur pertengahan Agustus lalu. Berbagai wilayah di Papua menggelar demonstrasi besar-besaran sejak Agustus hingga September. Sejumlah fasilitas umum dan korban jiwa berjatuhan.

Kasus kerusuhan terbaru terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, yang diduga berawal dari unjuk rasa siswa pada Senin (23/9), yang memprotes dugaan perkataan bernada rasial oleh seorang guru.

Aksi tersebut berakhir rusuh. Sejumlah rumah warga, kantor pemerintah, dan fasilitas umum lainnya dibakar. Korban jiwa mencapai 33 orang dan ribuan orang disebut-sebut mengungsi ke daerah lainnya di sekitar Wamena.

Sementara, dua terduga pelaku perusakan dan pembakaran kios-kios di Jalan Balusi, Distrik Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, pada Kamis (26/9), ditangkap aparat gabungan Polri dan TNI.

Bentrok antara massa dengan aparat TNI dan Polri di Expo Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, Senin (23/9) lalu juga menyebabkan seorang prajurit TNI tewas, yakni Praka Zulkifli Al Karim, anggota Raider Batalyon 751. Selain prajurit TNI meninggal, empat orang disebut-sebut mengalami luka-luka.

Bentrokan tersebut diduga terjadi saat massa yang sebelumnya berada di halaman Auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen), diantar pulang oleh aparat menggunakan truk dan bus.

Mereka adalah pelajar dan mahasiswa yang pulang dari berbagai daerah untuk menimba ilmu. Penyebab bentrokan ini masih dalam penyelidikan.

Demonstrasi hingga berujung kerusuhan pasca-dugaan tindak rasial di asrama mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 Agustus 2019 itu juga mengakibatkan kematian tiga orang, yaitu dua warga sipil dan satu prajurit TNI anggota Satuan Yonif Kaveleri/Serbu, Kodam II Sriwijaya Serda Ricson Edi Candra.

Serda Ricson meninggal dunia dengan luka bagian kepala, akibat terkena senjata tajam sejenis parang dan luka panah di bagian kepala.

Dia meninggal saat mengamankan demonstrasi pada 19 Agustus 2019. Akibat kerusuhan ini, sejumlah bangunan dibakar seperti toko, kendaraan, dan gedung DPRD di Fakfak, Sorong, dan Manokwari.

Hingga kini, penyelidikan kasus kerusuhan pasca-dugaan tindak rasial pada mahasiswa Papua masih berlanjut hingga kini.

Polisi juga sudah menetapkan puluhan tersangka dalam kasus kerusuhan di sejumlah wilayah di Papua.

Sementara, data Koalisi Masyarakat Sipil Papua (Ko Masi Papua) menyebutkan akibat kerusuhan selama Agustus-September, koalisi menemukan korban di antaranya dua orang tertembak dan 18 lainnya mengalami kekerasan fisik pada 21 Agustus di Timika.

Pada hari yang sama di Fakfak, satu orang menderita luka tikam, satu orang terkena lemparan batu, dan satu lainnya terkena peluru nyasar.

Terkait kerusuhan di Deiyai pada 28 Agustus, Ko Masi Papua juga mendapati delapan warga sipil dan satu prajurit TNI meninggal dunia.

Ada juga 17 orang menderita luka karena mendapatkan serangan fisik dan dua lainnya luka, yang diduga akibat ditembak aparat.

Sementara, kerusuhan yang terjadi pada 29 Agustus di Expo Waena menyebabkan dua warga sipil tertembak peluru nyasar, dan satu warga lainnya tertembak di Abepura usai demonstrasi.

“Keesokan harinya, 30 Agustus, setidaknya sembilan orang mengalami luka berat dan ringan karena senjata tajam. Sedangkan, seorang pemuda diketahui meninggal dunia,” kata Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Papua Sem Awom, dalam keterangan tertulis, Selasa (17/9).

Pada 1 September 2019, terjadi penyerangan yang diduga dilakukan sekelompok masyarakat terhadap penghuni Asrama Mahasiswa Nayak I Kamkey, Abepura.

Akibatnya, 17 orang mengalami luka-luka karena lemparan batu dan senjata tajam, serta dua orang meninggal dunia karena tertembak.

2. Baku Tembak di Puncak Papua
Kodam XVII/Cendrawasih menyatakan tiga warga meninggal dunia saat kontak tembak antara Satgas Gakkum Gabungan TNI-Polri, dengan Kelompok Separatis Bersenjata (KSB) di Kampung Olenki, Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Senin (17/9).

Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol CPL Eko Daryanto mengatakan ketiganya meninggal dunia akibat mengalami luka tembak. “Tiga orang masyarakat dinyatakan meninggal dunia,” ujar Eko dalam keterangan tertulis, Kamis (19/8).

Ketiga orang yang meninggal yakni Tekiman Wonda (33), Edison Mom, dan seorang balita bernama Rudi Mom. Adapun korban luka tembak, yakni Topina Mom (36), Tabuni (37), Herina Kinal (32), dan Yefrina Mom (16).

3. Penembakan 31 Orang di Proyek Jalan Trans Papua
Sebanyak 31 pekerja PT Istaka Karya diduga menjadi korban pembantaian kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kali Yigi dan Kali Aurak, Kabupaten Nduga, Papua, Minggu 2 Desember 2018.

“Senin (3 Desember 2018) sekitar pukul 15.30 WIT telah didapat informasi dari masyarakat bahwa telah terjadi pembunuhan terhadap para pekerja proyek PT Istaka Karya,” ujar Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal dalam keterangan tertulisnya, Senin malam 3 Desember 2018.

Musthofa mengatakan penembakan ini diduga dilakukan saat puluhan korban tengah membangun jembatan di dua lokasi dalam proyek Trans Papua.

Dari informasi masyarakat, pembunuhan terhadap pekerja proyek Istaka Karya terjadi pada Minggu 2 Desember 2018 di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga.

Hingga kini, penyelidikan kasus pembantaian ini belum tuntas. Dilansir media setempat, jubi.co.id, Kamis (15/8), Kepolisian Resor Jayawijaya bersama Kejaksaan Negeri Jayawijaya menggelar rekonstruksi kasus penembakan yang menewaskan 16 pekerja PT Istaka Karya ini.

Rekonstruksi itu digelar di halaman Markas Kepolisian Resor Jayawijaya di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Dalam rekonstruksi tersebut, polisi dan jaksa menghadirkan seorang tersangka berinisial MG. Kaur Reserse Kriminal Kepolisian Resor (Polres) Jayawijaya, Ipda Alexander mengatakan, keterlibatan MG dalam kasus penembakan di Puncak Kabo, Distrik Yigi, Nduga itu adalah sebagai simpatisan kelompok bersenjata yang dipimpin Egianus Kogoya. Tetapi, MG bukan anggota kelompok bersenjata itu.

MG melakukan sekitar 30 adegan yang merekonstruksi penembakan tersebut. Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Jayawijaya, Febiana Wilma Sorbu menyatakan rekonstruksi ini digelar agar pihaknya bisa melihat fakta yang terjadi, dan mengetahui proses terjadinya penembakan terhadap para pekerja PT Istaka Karya.

4. Penembakan di Desa Oneibo
Pada 1 Agustus 2017 juga terjadi kerusuhan di kantor perusahaan konstruksi di Desa Oneibo, Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua.

Kerusuhan ini bermula dari karyawan perusahaan konstruksi tersebut, menolak meminjamkan mobil untuk membawa seorang warga setempat yang tenggelam kemudian ia mati.

Hal ini menimbulkan protes dari warga setempat. Puluhan warga menyerang kantor tersebut dan merusak satu tenda.

Laporan Amnesty International menyebutkan, di saat warga sedang melempar batu ke kantor tersebut, anggota Brimob dan polisi pun datang.

Polisi menembaki kerumunan massa tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu. Yulianus Pigai menjadi salah satu korban yang tewas akibat tembakan polisi di bagian paha dan perut.

Tak hanya Yulianus, 10 orang lainnya juga menderita luka tembak. Para korban dibawa ke rumah sakit terdekat di Waghete.

Pihak Kepolisian Daerah Papua merilis pernyataan bahwa pihaknya telah melakukan sesuai dengan prosedur.

5. Pembunuhan Polisi di Pasar Youtefa
Kerusuhan juga terjadi setelah polisi mencoba menghentikan judi dadu di Pasar Youtefa, Jayapura, pada 2 Juli 2014.

Bermula dari sebuah pertikaian terjadi antara pejudi dan dua personel polisi di pasar, hingga satu polisi terbunuh. Senjata api polisi yang terbunuh, dicuri orang tak dikenal.

Laporan Amnesty Internasional Indonesia menyebutkan setelah kejadian tersebut, pihak kepolisian menyisir di sekitar wilayah Pasar Youtefa untuk melakukan proses keamanan.

Saat proses penggerebekan, polisi mengizinkan warga sipil turut melaksanakan operasi keamanan dan membantu memeriksa kendaraan umum yang ada di pasar.

Satu lembaga swadaya masyarakat melaporkan bahwa warga tersebut diduga melakukan tindakan kekerasan, seperti memukul, menendang, dan menusuk warga Papua yang lari dari pemeriksaan. Dalam aksi ini, tiga orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Setelah aksi ini selesai, belasan polisi berseragam menggerebek satu rumah di Kilometer 9, suatu area di Abepura yang ditinggali orang-orang Wamena dari daerah dataran tinggi Papua tengah.

Polisi diduga menodongkan senjata pada beberapa warga. Dua warga juga disebut-sebut diseret, saat keluar dari mobil dan mendapat penganiayaan lainnya.

6. Penangkapan dan Penganiayaan di Puncak Illaga Mimika
Masih di 2014, terjadi penangkapan dan penganiayaan sedikitnya 26 orang Papua di Puncak Illaga, Kabupaten Mimika, Papua.

Dikutip dari papuansbehindbars.org, situs online tentang para tahanan politik di Papua Barat, penangkapan dipicu peristiwa penembakan oleh gerakan pro-kemerdekaan bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang mengakibatkan dua anggota Brimob tewas.

Dua anggota Brimob itu ditembak di depan kantor DPRD di Distrik Kago, Kabupaten Mimika pada 3 Desember 2014. Dalam kejadian itu, anggota TPNPB itu juga mengambil senapan serbu anggota Brimob tersebut.

Menanggapi kejadian ini, aparat gabungan TNI dan Polri melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian. Dilaporkan 15 rumah warga dibakar dalam peristiwa itu.

Peristiwa ini juga menyebabkan 24 orang ditangkap. Diduga mereka mengalami penganiayaan dan penyiksaan. Salah satu tahanan, Pai Murib, dibebaskan dalam kondisi kritis akibat dipukul di bagian perut.

7. Aksi Tiga Remaja dan Penembakan Kerumunan Massa di Paniai
Pada 8 Desember 2014, sebuah mobil warna hitam melaju dari Enaro menuju kota Madi di Kabupaten Paniai, Papua.

Menurut data Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), mobil ini dikendarai dua oknum anggota TNI dan dihentikan tiga remaja sipil.

Remaja tersebut meminta lampu mobil dinyalakan karena warga sedang mengetatkan keamanan menjelang Natal. Mereka pun menahan mobil tersebut.

Tak terima diperlakukan seperti itu, terduga anggota TNI tersebut kembali ke markas dan mengajak sejumlah anggota lainnya ke tempat peristiwa, untuk mengejar tiga remaja tersebut.

Dikutip dari papuansbehindbars.org, dalam peristiwa itu, aparat keamanan mengeluarkan tembakan ke arah kerumunan massa yang tengah menggelar demonstrasi damai, untuk memprotes penyiksaan seorang remaja 13 tahun.

Remaja itu dilaporkan disiksa anggota Tim Militer Khusus Satuan Batalyon 753 sehari sebelum warga menggelar aksi damai.

Dalam peristiwa ini dilaporkan enam warga Papua tewas dan sedikitnya 22 orang lainnya menderita luka-luka, akibat penembakan yang diduga dilakukan aparat militer dan polisi.

Sumber: idntimes.com

Loading...
loading...
loading...