6 Fakta Prostitusi Modus Perawan Dibanderol 20 Juta Sekali Kencan di Bogor, Libatkan Gadis Desa

by -3,369 views

Satreskrim Polres Bogor berhasil mengungkap kasus prostitusi online modus anak perawan di Sentul, Kabupaten Bogor.

Dua pelaku yang berperan sebagai mucikari yakni Y (28) dan GG (29) ditangkap di sebuah kamar hotel di kawasan Sentul pada Selasa (15/19/2019).

Saat itu, kedua mucikari ini ditangkap saat tengah membawa seorang anak perawan umur 20 tahun yang dipertemukan dengan seorang hidung belang.

Kini Y dan GG harus rela mengenakan baju tahanan Polres Bogor atas tindak pidana perdagangan orang yang telah mereka lakukan.

Dalam kasus ini, polisi mengamankan barang bukti berupa pakaian, alat kontrasepsi, mobil satu unit untuk mengantar korban ke pelanggan, uang Rp 3 juta, tiga unit ponsel, flashdisk dan kartu hotel.

Terhadap kedua pelaku, kata Joni, dijerat Pasal 2 UU nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Berikut beberapa fakta terkait kasus prostitusi online modus anak perawan yang dilakukan pelaku Y dan GG.

1. Dibanderol Rp 20 Juta Sekali Kencan
Kapolres Bogor AKBP Muhammad Joni menjelaskan bahwa tarif sekali kencan dalam prostitusi online modus anak perawan ini dipatok dengan tarif fantastis.

“Modusnya menjual seseorang yang dianggap masih perawan dengan harga Rp 20 juta kepada orang yang dianggap hidung belang,” kata Muhammad Joni dalam jumpa pers di Mapolres Bogor, Rabu (23/10/2019).

Dalam transaksinya, kata Joni, pelanggan harus membayar uang muka Rp 3 juta terlebih dahulu setelah berkomunikasi via media sosial.

Setelah itu, mereka melakukan pertemuan di sebuah kamar hotel dengan hidung belang sesuai perjanjian.

“Setelah diterima uang Rp 3 juta tersebut maka dibawa lah korban ke kamar hotel yang sudah ada pelanggan tersebut. Nanti sisanya setelah pelanggan sepakat karena perawan jadi total Rp 20 juta dalam tersaksi tersebut. Jadi Rp 3 juta sudah diberikan, Rp 17 jutanya nanti setelah selesai,” kata Joni.

2. Sang Mucikari Juga Pernah Jual Keperawanannya Sendiri
Salah satu mucikari berinisial Y disebut sebagai ‘Mami’ dalam bisnis haram tersebut.

AKBP Muhammad Joni mengatakan bahwa Y sebelumnya juga pernah menjual keperawanannya sendiri kepada hidung belang.

Diduga tergiur dengan penghasilan yang didapat, Y kemudian terjun menjadi mucikari dan mencari gadis-gadis untuk dijual keperawanannya seperti yang pernah dia alami sendiri.

“Ya informasinya yang bersangkutan ini sebelum naik grade (tingkat) jadi ‘mami,’ yang bersangkutan pernah jadi korban juga terhadap terjadinya perdagangan orang tersebut, sehingga yang bersangkutan terjun sekalian dan sekarang menjadi mami,” kata Joni.

3. Gadis-gadis Desa Jadi Korban
Kedua pelaku mucikari ini, kata Kapolres Bogor, memanfaatkan gadis-gadis desa yang membutuhkan uang.

“Mereka (pelaku) memanfaatkan gadis-gadis desa yang membutuhkan uang,” kata Kapolres Bogor AKBP Muhammad Joni.

Selain memanfaatkan gadis desa, perempuan-perempuan dari kalangan lainnya juga disediakan pelaku.

Bahkan, termasuk anak-anak perempuan di bawah umur.

Perempuan-perempuan yang menjadi korban perdagangan orang ini, kata Joni, berasal dari berbagai daerah termasuk berasal dari Kabupaten Bogor.

4. Mucikari Berkomunikasi Dengan Pelanggan via Media Sosial
Komunikasi yang dilakukan antara mucikari dengan para hidung belang, kata Joni, dilakukan tidak hanya di satu media sosial.

Bahkan media komunikasi yang dipakai bisa disesuaikan dengan keinginan pelanggannya sendiri.

“Macem-macem, ada mungkin melalui Facebook, Instagram, WhatsApp, wechat juga bisa digunakan tergantung nanti pelanggannya mau menggunakan jalur yang mana.

Modusnya dari hasil chat dan juga medsos tersebut, mereka sudah tahu transasksi apa yang akan dilakukan. Jadi tidak ada modus yang ditutupin sehingga mudah terlacak oleh kepolisian,” kata AKBP Muhammad Joni.

5. Pelanggan Bisa Pesan Kategori Anak Perawan Sesuai Keinginkan Sampai Bisa Diantar Lintas Provinsi
Joni mengatakan bahwa si pelanggan biasanya memesan anak perawan dengan kategori tertentu dengan menghubungi kedua mucikari Y dan GG ini.

Kemudian Y dan GG akan mencarikan anak perawan sesuai kategori yang dimaksud.

“Jadi dia (pelaku) memanfaatkan tergantung pelanggan membutuhkan kategori yang mana, apakah yang di bawah umur, apakah yang sudah profesional, atau yang masih kuliah termasuk yang kira-kira anak-anak gadis desa yang mereka butuhkan,” kata Joni.

Kedua mucikari ini kata Joni juga mampu melayani hidung belang sampai lintas provinsi.

“Bisa lintas provinsi karena mereka sampai kirimkan (korban) ke wilayah Samrinda Kalimantan,” kata Joni.

6. Tidak Semua Perempuan yang Dikirim Mucikari Y dan GG Masih Perawan
Dalam modus jual keperawanan ini, dari tangan pelaku mucikari Y dan GG, polisi mengamankan obat yang diduga digunakan untuk memalsukan keperawanan.

“Ternyata modusnya ini tidak semuanya perawan, karena mereka menggunakan obat tertentu supaya terlihat perawan saat terjadi hubungan suami istri (antara korban dan pelanggan),” kata AKBP Muhammad Joni.

Joni mengatakan bahwa pihaknya masih harus mendalami obat tersebut.

Termasuk meminta bantuan kepada ahli terkait untuk memeriksa lebih dalam.

“(Obat perawan) Sudah kita amankan. Nanti kita dalami, minta keterangan dari ahli kalau memang kategorinya seperti itu,” kata Muhammad Joni.

Sumber: tribunnews.com

loading...
loading...