5 Alasan Mengapa Islam Turun di Makkah, Arab Saudi

by -15,466 views

Makkah atau Makkah al-Mukarrahmah berjarak 200 km dari Madinah yang terletak di gurun pasir tandus di Jazirah Arab.

Jazirah Arab merupakan daerah gurun pasir yang tiga sisinya berbatasan langsung dengan perairan, yaitu teluk Oman dan teluk Persi di sebelah timur, samudra Hindia di sebelah selatan, dan laut Merah di sebelah barat. Kota Makkah terletak di lembah sempit yang dikelilingi banyak gunung yang tandus dengan ka’bah sebagai pusatnya.

Mata pencaharian penduduk kota Makkah cukup beragam walaupun terletak didaerah tandus, yaitu berternak yang tinggal berpindah-pindah untuk mencari lembah yang subur, berdagang yang dilakukan oleh penduduk di pusat kota Makkah, dan bertani dilakukan oleh penduduk yang tinggal di daerah subur seperti Thaif.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Makkah adalah yang tandus, jauh dari pusat-pusat peradaban agama samawi yang turun sebelum Islam seperti  Yahudi dan Nasrani dan kebanyakan penduduknya tidak tinggal menetap disuatu tempat.

Jadi mengapa Islam turun dikota Makkah? Menurut Graham Fuller, dalam bukunya yang berjudul Apa Jadinya Dunia dalam Islam? ada beberapa alasan yang mendasari kota Makkah terpilih menjadi kota tempat turunnya Islam, yaitu:

1. Makkah Merupakan Pusat Perniagaan di Timur Tengah Zaman Dahulu. Kota Makkah Terletak di Rute Dagang Laut Merah – Suriah
Makkah menjadi kota penghubung rute perdagangan antara benua Afrika dan Asia. Para kafilah Arab membawa minyak wangi, kemenyan, kain sutra, barang logam dan sebagainya dari Yaman ke Syam, dan kembali ke Makkah dengan membawa gandum, minyak, zaitun, beras, jagung, dan tekstik dari Mesir.

Jadi sebelum bangsa Eropa menjelajah Afrika, bangsa Arab telah lebih dahulu  memiliki hubungan dagang dengan bangsa Afrika.

2. Makkah Merupakan Pusat Peradaban Tertua di Timur Tengah
Kota Makkah diperkirakan merupakan kota bangsa Semit berasal. Kata “Semit” adalah sebuah kata sifat yang berasal dari nama Sem (Shem), salah satu dari tiga putra Nuh dalam Alkitab  (Kejadian 5:32; 6:10; 10:21).

Bangsa-bangsa Semit tersebar diseluruh Jazirah Arab seperti Akkadia (Babilonia/Asyur), Kasdom, Aram (Arab/Suryani), Ugarit, Ibrani (Israel), Sheba (Saba), Thamud, Lihyan, Nabath, dan lain-lain.

3. Sebagian Besar Peribadatan Terpusat di Ka’bah
Ka’bah adalah tempat ibadah (Bait Suci yang sekarang disebut Baitullah) yang pertama kali berdiri di muka bumi, didirikan oleh Nabi Ibrahim AS pada tahun 2000 SM yang kemudian menjadi tempat beribadah beberapa bangsa disekitarnya.

Sebelum Islam datang, Ka’bah penuh dengan berhala-berhala, ratusan patung dewa-dewi dan bahkan patung-patung bunda Maria dan Yesus. Orang-orang melakukan ritual peribadatan dengan cara membawa berhala yang mereka anggap suci dan meninggalkannya disekitar Ka’bah.

Mereka juga mengelilingi Ka’bah dalam keadaan telanjang. Karena banyaknya orang yang beribadah di Ka’bah, maka kota Makkah menjadi kota yang sering dijadikan tempat ziarah.

4. Suku-suku di Arab Sangat Menjunjung Tinggi Kepentingan Keluarganya
Suku-suku Arab  di kota Makkah sangat menjunjung tinggi martabat dan kepentingan keluarga atau sukunya, mereka rela berperang untuk membela martabat keluarganya.

Sehingga ketika Nabi Muhammad SAS pertama kali menyebarkan Islam, kaum kafir Quraisy yang sangat membenci Beliau tidak berani menyakiti karena takut membuat Bani Hasyim marah.

Bahkan ketika para kaum kafir Quraisy berencana membunuh Nabi Muhammad, mereka mengumpulkan pemuda-pemuda terkuat dari berbagai suku di Makkah agar Bani Hasyim tidak bisa balas dendam hanya ke satu suku saja.

5. Karena Do’a Dari Nabi Ibrahim AS
Nabi Ibrahim AS adalah orang pertama yang membangun Ka’bah secara fisik. Beliau juga menempatkan istrinya, Hajar dan anaknya Nabi Ismail AS pertama kali di Makkah sehingga kota tersebut menjadi pusat peribadatan.

Sebelum Nabi Ibrahim AS meninggal, Beliau melantunkan doa yang termaktub dalam Al-Baqarah ayat 126 – 129:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah : 126)

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 127)

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah : 128)

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah : 129)

Dalam sejarah kuno, Nabi Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke bumi dan dipertemukan di Jabal Nur, salah satu bukit di kota Makkah.

Pasti ada alasan spiritual lain yang membuat Allah SWT menempatkan Baitullah di kota Makkah, wallahu a’lam.

Sumber: makingfootprint.wordpress.com

loading...
loading...