4 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab

by

Semua orang pasti ingin masuk surga. Apalagi masuk surga tanpa hitungan amal, karena salah-satu di antara suasana yang mencekam pada hari kiamat adalah pada saat timbangan amal.

Imam Ghazali dalam kitabnya, Mukasyafatul Qulub  (h-65), mengutip sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai berikut:

وقال صلى الله عليه وسلم إذا كان يوم القيامة يدخل أربعة الجنة بغير حساب: العالم الذي يعمل بعلمه ومن حج ولم يرفث ولم يفسق حتى مات والشهيد الذى قتل فى المعركة لإعلاء كلمة الاسلام والسخي الذي إكتسب مالا من الحلال وأنفقه فى سبيل الله بغير رياء فهؤلاء ينازع بعضاهم بعضا أيهم يدخل الجنة أولا.

“Dan Nabi SAW bersabda: ketika hari hari kiamat datang ada empat orang yang masuk surga tanpa hisab (yaitu) orang alim yang mengamalkan ilmunya, orang berhaji dan dia tidak berkata-kata keji dan dan berbuat fasik sampai dia meninggal, tentara yang gugur mati syahid dalam medan pertempuran dalam menegakkan kalimat Islam, dan orang yang dermawan yang membelanjakan hartanya kepada yang halal dan menafkahkannya di jalan Allah tanpa diikuti sikap riya’. Mereka saling berbantah-bantahan pertama yang memasuki surga.

Setidaknya ada empat orang yang masuk surga tanpa hisab.

Pertama, orang alim yang mengamalkan ilmu. Menuntut ilmu merupakan kewajiban manusia secara personal. Dengan ilmu manusia dapat membedakan yang Haq dan yang bathil.

Namun tidak berhenti di situ saja. Orang berilmu memiliki tanggung jawab atas ilmu yang dimiliki untuk mengamalkannya sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada.

Ilmu bila tanpa pengamalan maka hanya menjadi wacana belaka.

Tujuan orang menuntut ilmu agar dia mengetahui yang mana yang wajib atau yang sebaiknya dikerjakan, dan yang haram atau yang lebih baik ditinggalkan.

Bila mana tujuan ilmu tidak tercapai maka sia-sialah ilmu itu. Orang berilmu tanpa mengamalkan dia cendrung sebagai orang munafik.

Abdullah bin Mu’taz ra. Berkata:

علم المنافق فى قوله وعلم المؤمن فى عمله

“Ilmu orang munafik hanya diucapannya dan ilmu orang mukmin itu diamalkan.”

Orang berilmu tanpa adanya langkah nyata maka kecenderungannya hanya memelintir pengetahuannya demi egonya sendiri.

Jika ada kepentingan pribadi maka selalu ada dalih sebagai alasan, walaupun menyakiti orang lain.

Kedua, orang berhaji yang tidak lagi rafast dan fasik. Rafast artinya berkata kotor dan fasik artinya bermaksiat. Di antara hikmah haji adalah untuk memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat.

Nabi bersabda:

من حج لله فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته امه

“Orang yang berhaji karena Allah, tidak melakukan rafast dan fasik, niscaya ia kembali (ke tanah air) seperti hari ketika ibunya melahirkannya.” (HR. Bukhari).

Jika dosa diibaratkan noda maka orang yang dihapus dosa-dosanya seperti kapas. Maka janganlah terkena noda lagi.

Ketiga, orang syahid yang gugur di medan pertempuran demi membela Islam. Orang yang nyata mati syahid maka tidak ada keraguan lagi tempatnya di akhirat nanti adalah surga.

Orang yang mati syahid haram hukumnya dimandikan dan dishalati dan wajib dikubur dengan baju yang berlumuran darah.

Imam Nawawi mengatakan:

وتحرم صلاة على شهيد كغسله – وكفن شهيد فى ثيابه لا حرير.نهاية الزين

“Dan haram menyalati orang mati syahid seperti memandikan- dan orang mati syahid dikuburkan bersama pakaiannya bukan dengan sutera.”

Keempat, orang dermawan yang membelanjakan hartanya dengan cara-cara yang halal dan menafkahkannya fii sabillah tanpa riya.

Orang yang suka bersedekah dan berinfak tidak akan mengurangi hartanya. Bahkan ia selalu mendapatkan rahmat dan ridha Allah.

Pesan Nabi Muhammad kepada Ali bin Abi Thalib:

قال عليه الصلاة والسلام: يا على إن أولياء الله تعالى لم ينالوا سعة رحمة الله ورضوانه بكثرة العبادة لكن نالوا بسخاوة النفس والإستهانة بالدنيا.المنح السنية

“Nabi bersabda: wahai Ali, sesungguhnya para kekasih Allah tidak akan mendapatkan luasnya rahmat dan ridhaNya dengan banyaknya ibadah, tetapi mereka mendapatkannya dengan kedermawanan diri dan tidak cinta dunia.”

Kedermawanan harus dilandasi dengan keikhlasan. Sekecil apa pun pemberian dengan landasan keikhlasan maka akan sangat bermanfaat bagi si pemberi dan bagi si penerima.

Begitu pula sebaliknya, sebesar apapun pemberian jika tanpa diikuti rasa ikhlas maka akan menjadi hal yang tidak berguna.

Syekh Sayyid Abdil Wahhab As-Sya’rani berkata:

وٱحذر من دقائق الرياء خوفا من ضياع الاجور وظلمة القلب. شرح المنح السنية

“Takuklah kamu dari benih-benih riya’ karena khawatir akan hilangnya pahala dan gelapnya hati.”

Wallahualam

Sumber: bincangsyariah.com

Loading...
loading...
loading...