3 Tersangka Penganiayaan Audrey yang Kini Jadi Korban Hoaks

by -1,885 views

Maaf, kata yang terucap dari tiga remaja yang menjadi tersangka atas penganiayaan Audrey, seorang siswi sekolah menengah pertama di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Ketiganya pun mengaku menyesal melakukan penganiayaan ke Audrey. Mereka tak pernah menyangka konsekuensi atas perbuatannya adalah status “tersangka”. Dengan menggunakan masker dan wajah tertunduk, mereka mengaku salah.

“Saya meminta maaf atas perlakuan saya terhadap Audrey, saya menyesali kelakuan saya ini,” ungkap salah satu tersangka dengan terisak bersama enam temannya yang lain, di hadapan awak media, Kamis (11/4/2019).

Hanya saja, mereka menampik tuduhan bawah telah terjadi pengeroyokan. Mereka menilai, yang terjadi saat itu hanyalah perkelahian.

Mereka mengiyakan, penganiayaan dilakukan di dua tempat. Pada lokasi pertama, korban hanya dianiaya oleh satu siswi. Sementara di lokasi kedua, dianiaya oleh dua siswi. Ketiga siswi ini kemudian ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Pontianak Kota.

Ada dua motif pelajar ini melakukan penganiayaan. Pertama sakit hati. Menurut keterangan salah satu tersangka, dia mengaku sakit hati karena korban kerap mengungkit-ungkit persoalan piutang yang pernah dilakukan oleh almarhumah ibu tersangka.

“Dia suka bilang bahwa mama saya suka pinjam uang,” kata salah satu tersangka.

Dia mengaku tidak bisa mengontrol emosi ketika Audrey membuat pernyataan tersebut. “Kalau Audrey tidak membuat omongan seperti ini, saya juga tidak akan melakukan hal ini. Saya kesal sampai saya tidak bisa mengontrol emosi,” lanjut dia.

Kedua, terkait sindiran di media sosial Audrey dan sepupunya yang dialamatkan kepada salah satu tersangka.

Menurut tersangka, dia ingin menyelesaikan masalah tersebut dengan jalan melakukan pertemuan pada hari kejadian.

Semula mereka berjanji bertemu pada malam hari. Namun, atas permintaan Audrey dan sepupunya, mereka akan bertemu pada siang hari. Namun, mereka menampik tuduhan soal kekerasan seksual terhadap korban.

“Memang benar kami melakukan perkelahian, tapi tidak ada pengeroyokan, apalagi sampai 12 orang mengeroyok satu. Juga tidak mencolok ke organ vital,” kata salah satu pelajar lainnya.

Demikian pula dengan ada tudingan mereka yang berinisiatif menjemput Audrey. Justru, kata dia, Audrey lah yang minta dijemput.

“Tidak ada perencanaan kami untuk melakukan penganiayaan,” kata salah satu dari mereka.

Sebagian dari pelajar ini, mengaku ada upaya pencegahan untuk menyetop penganiayaan Audrey tersebut.

Jadi Korban
Pada konferensi pers Kamis 11 April 2019, 3 tersangka dan teman-temannya mengaku turut menjadi korban atas tuduhan penganiayaan yang keliru dari berbagai pihak.

“Saya dituduh sebagai pelaku, padahal saya tidak di lokasi. Bagaimana media mengatakan saya sebagai provokator,” kata siswi tersebut.

Ketujuh siswi ini mengaku mendapat intimidasi dan ancaman lewat di media sosial. Atas dasar ini pula, mereka mengaku juga sebagai korban.

“Kami juga menjadi korban,” kata salah satu pelajar.

Sebelum menggelar jumpa pers, sejumlah keluarga dan para pelaku penganiayaan mendatangi Kantor KPPAD Kalimantan Barat, Rabu 10 April 2019, guna meminta perlindungan terhadap anak-anak yang menjadi pelaku penganiayaan.

Ketua KPPAD Kalbar, Eka Nurhayati mengungkapkan para pelaku tersebut mengalami trauma berat akibat ancaman dari orang-orang tak bertanggung jawab.

“Kami didatangi pihak keluarga pelaku sejak tadi pagi, mereka datang karena ingin mengungkapkan si pelaku ini sekarang sedang dalam tekanan luar biasa,” ujarnya.

Tekanan yang dialami oleh para pelaku, lantaran mendapat ancaman pembunuhan dan lain-lain.

“Jadi, dalam hal ini mereka ingin meminta perlindungan yang sama,” ungkapnya.

Eka menegaskan, kedua belah pihak yakni pelaku dan korban sama-sama berhak mendapat perlindungan dari KPPAD sesuai UU yang berlaku.

“Untuk lanjutan, akan ada trauma healing yang akan diberikan kepada pelaku, dan nanti sore kami akan menemui korban untuk memastikan pendampingan lanjut,” pungkas dia.

Sumber: liputan6.com

loading...
loading...