3 Fakta Nuzulul Qur’an, Teori Turunnya Al-Qur’an Hingga Cara Komunikasi Nabi Muhammad Dengan Malaikat Jibril

by

Satu di antara keutamaan bulan Ramadan adalah bulan di mana Alquran diturunkan. Hal ini kemudian dikenal dengan sebutan ‘Nuzulul Quran’. Hal ini didukung dengan QS. al-Baqarah ayat 185,

شهر رمضان الذى انزل فيه القرأن هدى للناس وبينت من الهدى والفرقان

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”

Nuzulul Quran diperingati setiap tanggal 17 Ramadan, yang sesuai hitungan akan jatuh pada hari Jumat 1 Juni 2018.

Namun tahukah kamu ada fakta-fakta tentang Nuzulul Quran yang jarang diketahui. Simak di bawah ini.

3 Teori Turunnya al-Qur’an
Teori pertama, pada malam Lailatul Qadar, Alquran dalam jumlah dan bentuk yang utuh dan komplit diturunkan ke langit dunia (sama’ al-dunnya).

Setelah itu, dari langit dunia, Alquran diturunkan ke bumi secara bertahap sesuai kebutuhan selama 20/23/25 tahun.

Teori kedua, Alquran diturunkan ke langit dunia selama 20 malam Lailatul Qadar dalam 20 tahun (Lailatul Qadar hanya turun sekali dalam setahun). Setelah itu dibacakan kepada Nabi Muhammad SAW sesuai kebutuhan.

Teori ketiga, Alquran turun pertama kali pada malam Lailatul Qadar. Selanjutnya, Alquran diturunkan ke bumi secara bertahap dalam waktu berbeda-beda.

Teori pertama paling masyhur (populer) dan didukung banyak ulama. Teori ini diperkuat banyak hadist sahih.

Teori kedua dipelopori oleh al-Muqatil dan Abu Abdillah al-Halimi dalam kitab Minhaj. Juga al-Mawardi dalam tafsirnya. Teori ketiga dikemukakan oleh al-Sya’bi.

Diturunkan Sekaligus Atau Bertahap?
Semua teori sepakat Alquran “diturunkan” (munazzal) pada malam lailatul qadar. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat, apakah ia diturunkan sekali dalam lailatul qadar atau lebih.

Masing-masing ulama juga berbeda pendapat soal apa makna “al-inzal” dan bagaimana proses “al-inzal” berlangsung.

Yang pertama mengatakan, “al-inzal” adalah “al-idzhar”, yaitu ”melahirkan”, “menjelaskan”, menghadirkan” atau “memperlihatkan”.

Jadi, posisinya tidak harus dari ketinggian (langit) menuju tempat rendah (bumi) seperti terkandung pada kata “nazala”.

Pendapat kedua, Allah SWT memberikan pemahaman kepada Malaikat Jibril yang ketika itu berada di langit. Kemudian Jibril turun ke bumi menyampaikan kepada Nabi Muhammad. Karena itu, pilihan katanya adalah “nazala”.

Komunikasi Nabi Muhammad dengan Malaikat Jibril
Bagaimana proses komunikasi antara Jibril dan Nabi Muhammad berlangsung? Mengingat keduanya bukan dari jenis makhluk yang sama.

Para ulama memberikan dua kemungkinan: Jibril beralih rupa menjadi manusia, atau sebaliknya.

Al-Qur’an Seperti Apa yang Diwahyukan Kepada Nabi Muhammad?
Pertanyaan selanjutnya, “Alquran” seperti apakah yang diturunkan kepada Jibril dan dibacakan kepada Nabi Muhammad? Ada tiga teori.

Pertama, Al-Qur’an diturunkan kepada Jibril lafdzan wa ma’nan (kata dan maknanya secara sekaligus).

Penjelasannya begini, Jibril menghapal Al-Qur’an yang tertulis dalam lauhul mahfudz (tablet yang terjaga), kemudian dibacakan ulang kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurut teori ini, ukuran setiap huruf di lauhul mahfudz sebesar Gunung Qaf. Di bawah huruf-huruf itu ada maknanya masing-masing yang hanya diketahui Allah SWT.

Kedua, Jibril membacakan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad menggunakan makna khusus. Selanjutnya Nabi Muhammad menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.

Ketiga, Jibril hanya menyampaikan “makna” Al-Qur’an. Selanjutnya, agar Al-Qur’an dipahami audiensnya, dan Nabi Muhammad “membungkusnya” dengan bahasa Arab.

Sumber: tribunnews.com

Loading...
loading...
loading...