3 Faedah Membaca Ayat Kursi Saat Subuh Hari Jum’at

by

Imam Muhammad Bin Abu Bakar  menuliskan satu hadis dan hikayat yang berkaitan dengan faidah Ayat Kursi pada Hadis yang keduapuluh tiga.

Hadits ini diriwayatkan dari Sayyidina Anas Bin Malik ra. Rasullah Saw. bersabda:

ما من عبد من امتي اذا اصبح فقرأ اثنتي عشر مرة اية الكرسي ثم توضأ وصلى الفجر حفظه الله من شر الشيطان وكان بمنزلة من قرأ جميع القران ثلاث مرات وتوج يوم القيامة بتاج من نور يضيئ لاهل الدنيا كلها فقلت يا رسول الله في كل يوم قال لا بل في كل يوم الجمعة فانها تجزئك من دهرك في جمعة مرة

“Barangsiapa dari umatku membaca ayat kursi sebanyak 12 kali pada subuh hari jumat. Lalu ia berwudu untuk sholat subuh, maka Allah Swt. akan menjaganya dari tipu daya setan. Hal tersebut juga setara dengan hatam quran 3 kali. Juga nanti pada hari kiamat akan diberi mahkota yang terbuat dari cahaya, yang menyinari seluruh dunia. Aku bertanya: Wahai Rasulallah, membacanya harus setiap hari? Rasulullah Saw. menjawab: Tidak, akan tetapi cukup sekali pada hari jumat. Itu sudah cukup untukmu selama sepekan.”

Dalam artian, ada tiga manfaat yang akan kita dapatkan jika mengamalkan Ayat Kursi 12 kali pada subuh hari jumat.

Pertama, dapat perlindungan khusus (protektif) dari tipu daya setan. Artinya, Allah Swt. akan memberikan perlindungan lebih pada mereka yang mengamalkan amalan tersebut.

Kedua, dengan membaca Ayat Kursi 12 kali, seakan-akan menghatamkan quran sebanyak tiga kali. Namun, bukan berarti kita mencukupkan pada amalan ini, tetap lebih utama membaca Al-Quran secara keseluruhan.

Ketiga, dengan fadhilah amalan ini, Allah Swt. akan menyediakan mahkota raja di surga. Mahkota ini terbuat dari cahaya. Sebagaimana sifat cahaya yang bersinar, mahkota sebab amalan ini akan bersinar seluas dunia.

Ayat kursi sendiri merupakan ayat yang ke-255 dari surat al-Baqoroh,

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.” (QS. al-Baqoroh[2]: 255)

Dalam Tafsir Jalalain Juz 1/hal. 40 dijelaskan bahwa kursi memiliki 3 makna. Pertama, dimaknai sebagai ilmu Allah Swt.

Kedua, diartikan sebagai kerajaan (kekuasaan) Allah Swt. Ketiga, diartikan sebagai makna asalnya, yaitu kursi. Kursi ini termasuk makhluk Allah Swt. yang meliputi langit dan bumi dari saking besarnya.

Bahkan dalam sebuah hadits, langit yang tujuh dibandingkan kursi diibaratkan seperti 7 keping uang (dirham) dibandingkan dengan perisai/taming.

Imam Muhammad Bin Abu Bakar mencantumkan sebuah kisah umat terdahulu yang berkaitan dengan hadits di atas.

Kisah ini terjadi pada masa Nabi Musa as. Sebagaimana yang telah diwahyukan Allah Swt. dalam al-quran, watak umat terdahulu tidak akan percaya pada kenabian kecuali sudah dibuktikan dengan mukjizat atau bisa menyaksikan langsung Dzat Allah Swt.

Misal umatnya Nabi Musa as., mereka mengaku akan beriman pada beliau jika sudah bisa melihat Allah Swt. dengan mata kepala mereka sendiri. Dalam hal ini, Allah Swt. berfirman:

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَخَذَتْكُمُ الصّٰعِقَةُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ

“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, ‘Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,’ maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikan.” (QS. Al-Baqoroh[2]: 55)

Dalam Tafsir Jalalain Juz 1/hal. 9 dijelaskan bahwa umat Nabi Musa as. akan beriman pada beliau ketika bisa melihat Allah secara langsung.

Seketika itu mereka langsung mati disebabkan suara keras (teriakan) yang diturunkan oleh Allah. Namun atas permintaan Nabi Musa as., mereka dihidupkan kembali oleh Allah SWT.

Setelah itu, mereka bertanya tentang sifat Allah Swt. pada Nabi Musa. “Wahai nabi, Apakah Tuhanmu tidak pernah ngantuk atau tidur (sinatun wala naum), sebagaimana yang termaktub dalam Taurat?”

Nabi Musa as. menjawab, “Iya, benar. Allah Swt. tidak tidur atau ngantuk.”

Mereka bertanya lagi, “Bagaimana mungkin Tuhanmu tidak tidur?”

Allah SWT. langsung menyuruh Nabi Musa as. untuk mengambil dua botol yang diisi air. Beliau memegang kedua botol tersebut. Tak lama kemudian Allah Swt. menidurkan Nabi Musa as. Tentunya kedua botol tersebut jatuh dan pecah.

Setelah itu, Allah Swt. berfirman pada Nabi Musa as, “Musa, katakanlah pada kaummu! Andaikan Allah Swt. tidur, maka pasti jagad raya ini hancur.”

Artinya, dalam ayat kursi terdapat inti ajaran islam, yaitu tauhid. Jangankan tidur, mengntuk pun mustahil pada Allah Swt. Kita amalkan amalan ini tanpa harus memiliki perasaan ingin melihat buktinya secara langsung.

Karena kita sudah menjadi umat terbaik, yang tidak perlu melihat langsung nabi dan mukjizatnya untuk beriman pada beliau. Wallahua’lam.

Sumber: bincangsyariah.com

Loading...
loading...
loading...