Zakat, Tabungan yang Kekal




Zakat menempati kedudukan istimewa dalam Alquran. Kata zakat terdapat pada 26 ayat yang tersebar dalam 15 surat Alquran. Ini menunjukkan perhatian Islam yang begitu besar terhadap zakat.

Dewan Syariah PPPA Daarul Quran, KH Ahmad Kosasih mengatakan kewajiban zakat merupakan media bagi umat Islam untuk menyucikan harta, diri, serta jiwa mereka. Dalam menjalani kehidupan atau pekerjaan, seseorang bisa mendapati adanya harta tidak halal yang terselip di antara pendapatannya.

”Zakat mengeluarkan sebagian harta tersebut, sehingga dapat membersihkan bagian yang tidak halal atau syubhat,” ungkap Kiai Kosasih.

Harta juga membersihkan diri dan jiwa Muslim dari sifat bakhil dan tidak peduli. Zakat mengandung mekanisme agar umat Islam mempunyai kelebihan harta mau berbagi dengan orang yang kekurangan.

Seorang Muslim tidak disyariatkan menumpuk-numpuk harta. Penyaluran zakat ditujukan bagi delapan asnaf yang membutuhkan. Dengan ini, seorang Muslim juga diajarkan mempertajam kepekaan sosial dan mengasah kepedulian. “Dengan ada zakat (sifat bakhil dan tidak peduli) jadi hilang,” kata Kiai Kosasih ketika dihubungi Republika, Rabu (29/6).

Umat Islam seyogianya tak perlu ragu dalam berzakat, sebab zakat pada dasarnya tidak mengurangi harta. Zakat merupakan investasi manusia di masa yang akan datang. Harta yang dimiliki akan menjadi sia-sia jika tidak dizakatkan.

Harta itu akan hilang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau berpindah tangan karena diwariskan. ”Dengan melaksanakan kewajiban zakat, harta tersebut akan tersimpan kekal dan menjadi tabungan kebaikan di akhirat,” ungkap Kiai Kosasih.

Zakat mempunyai potensi luar biasa. Nabi Muhammad SAW menyatakan zakat sebagai salah satu dari lima rukun islam. Jika Islam diibaratkan sebuah bangunan, rukun Islam merupakan lima tiang yang menyangga bangunan tersebut dengan kokoh.

”Ketika ada satu tiang yang hilang, bangunan tersebut akan miring atau roboh. Begitu juga zakat menjadi penyangga peradaban Islam. Tidak dilaksanakannya kewajiban zakat menyebabkan ketidaksempurnaan dalam bangunan peradaban tersebut,” jelasnya.

Sumber: republika.co.id