Yuk Kenalan Sama Imam Muda Masjid Sultan Singapura Asal Indonesia

by

Awalnya, saya tidak pernah menyangka bahwa perjalanan saya ke Singapura pada tahun 2016 silam, akan mempertemukan saya dengan dua imam muda di Masjid Sultan.

Tepatnya pada tanggal 24 Agustus 2016, saya bersama beberapa teman lainnya mengikuti program ‘Jalan-jalan sambil nulis buku’ yang dipandu oleh penulis ternama mas Gol A Gong bersama beberapa tim relawan dari Gong Traveling. Program ini bertujuan untuk membuat sebuah karya berupa buku tentang traveling dari hasil perjalanan kami selama tiga hari berada disana.

Qadarullah, seusai mengikuti salat subuh berjamaah di masjid Sultan bersama seorang teman, Allah mempertemukan kami tanpa sengaja dengan seorang lelaki di depan masjid.

Meskipun baru pertama kali bertemu, namun ia dengan ramah meluangkan waktunya untuk menjawab beberapa pertanyaan yang kami ajukan mengenai aktivitasnya sebagai warga muslim di Singapura. Ia bahkan tidak menolak saat kami secara khusus memintai nomor HP-nya.

Ketika sudah kembali ke Indonesia, saya kerap menggangguinya dengan berbagai macam pertanyaan di sela-sela kesibukannya. Namun lelaki yang memiliki paras melayu itu, selalu merespon dan memberikan jawaban yang saya butuhkan.

Beliau lahir dan dibesarkan di Singapura. Mempunyai nama lengkap Muhammad Syarafuddeen bin Mazlan Abdullah. Ia part time sebagai seorang dakwah officer di Masjid Sultan, dan ternyata menjadi seorang imam saat saya salat subuh berjamaah disana.

Selain masih muda, beliau juga dikaruniakan suara yang merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Suaranya yang indah bisa menenangkan setiap hati yang mendengar. Sungguh.

Betul, Allah adalah sebaik-baik pemberi rencana bagi setiap hamba-Nya. Saya pun tidak pernah menyangka akan bertemu dengan orang hebat seperti Ustadz Muhammad Syarafuddeen, yang juga menjadi jalan pembuka untuk pertemuan saya dengan orang hebat lainnya di Singapura.

Karena beliau pulalah, saya mengetahui ada seorang imam muda asal Indonesia di Masjid Sultan. Siapakah sosok anak bangsa yang menjadi imam muda di salah satu masjid ternama di Singapura?

Hati tergerak untuk mengetahuinya lebih jauh. Akhirnya, saya meminta bantuan kepada Ustadz Muhammad Syarafuddeen agar dipertemukan dengan sosok inspiratif dari Indonesia yang menjadi imam muda di Masjid Sultan itu.

Alhamdulillah, Allah kabulkan do’a –do’a saya melalui kebaikan dan pertolongan darinya.

Siapa yang menyangka? Ketika saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi Singapura pada bulan September 2017 lalu, Allah perkenankan kami untuk bertemu.

Siang itu, tepat tanggal 10 September 2017. Bersama dua saudara saya, kami menuju sebuah rumah makan minang di Kandahar Street. Tempatnya berada persis di samping Masjid Sultan dan menghadap langsung ke gedung Malay Heritage Center.

Setibanya disana, kami berjalan menuju lantai dua di rumah makan itu. Di sebuah meja makan di dekat pojok ruangan, dua orang laki-laki dan seorang perempuan sudah menunggui kedatangan kami .

Diantara mereka, seorang pria berkaos hitam tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah kami. Saya pun mengenal betul wajah itu. Beliau adalah Ustadz Muhammad Syarafuddeen Bin Mazlan beserta istri yang berada tepat di sisi kirinya. Sedangkan di sebelah kanannya, ada seorang pria berkacamata dengan mengenakan gamis panjang dan juga peci berwarna putih.

Namun dengan mudah saya bisa mengenali laki-laki muda itu. Sebelumnya, saya sudah mencari tahu informasi tentang dirinya melalui riset kecil-kecilan di google, hingga menemukan instagram pribadinya dengan akun bernama @ululazmialpandani.in.

Beliaulah imam muda Masjid Sultan yang berasal dari Indonesia, Lombok. Ustadz Ulul Azmi panggilan akrabnya.

Waktu itu, saya sendiri masih tak percaya. Allah benar-benar menghadirkan orang-orang hebat dihadapan saya. Mereka telah meluangkan waktunya hanya untuk bertemu orang biasa seperti kami.

Kami pun berjalan mendekat ke arah mereka, berusaha tenang hingga akhirnya duduk berhadapan di satu meja.

Rasa gugup sesaat mampir ke dalam hati, namun hilang setelah melihat senyum ramah dari dua imam muda Masjid Sultan itu.

Tak ingin menyia-nyiakan waktu, saya pun mulai memberanikan diri untuk bertanya beberapa hal kepada Ustadz Ulul Azmi. Bagaimanakah kisah perjalanan hidup beliau hingga menjadi seorang imam muda di Masjid Sultan?

Beliau pun menanggapi pertanyaan dengan gaya santai saat menceritakan perjalanan hidupnya. Keramahan beliau menjadi bukti bahwa ia adalah seseorang yang berilmu. Pantas saja jika diusianya yang masih sangat muda itu, ia sudah terpilih menjadi seorang imam di negeri orang. Siapakah beliau sebenarnya?

Beliau lahir pada tanggal 18 Juli 1991 di Lombok, dan memiliki nama lengkap Ulul Azmi Muhammad Sidik Al Pandani.

Setelah menyelesaikan sekolah aliah di kota kelahirannya pada tahun 2009, beliau memutuskan untuk masuk ke pesantren Ma’had Tahfizhul Quran Bidayatul Hidayah di Lombok selama tiga tahun. Pendirinya adalah seorang Syekh yang sudah mendapat Sanad Al-Quran dan telah belajar di Mekah selama 20 tahun. Beliau bernama Syekh Abdul Aziz bin Aqil.

Inilah awal mula perjalanan Ustadz Ulul Azmi mulai mengenal negara Singapura. Sekitar tahun 2012 sebelum bulan Ramadan, beliau yang saat itu baru menghafal 20 juz dalam Al-Quran—dipilih oleh gurunya di pesantren untuk menghadiri undangan ke Singapura dengan ketiga kawannya yang sudah khatam.

Pertama kali ke Singapura, ia diamanahkan untuk mengimami salat tarawih di hari pertama di Masjid Al-Mawaddah bersama gurunya.

Selain masih muda, beliau juga dianugerahkan suara yang sangat merdu saat membaca ayat suci Al-Quran. Hingga wajar saja, banyak dari para jamaah yang mulai perhatian dan ingin mengenal sosok imam muda bersuara merdu asal Indonesia itu.

“Saya hanya bisa terdiam menjawab setiap permintaan dari jamaah. Waktu itu saya bahkan tidak memiliki akun di facebook,” ujarnya sambil tersipu, “Saya sudah berkomitmen kepada kedua orangtua untuk tidak memegang HP sebelum khatam.”

Ah, saya benar-benar bangga pada sosok imam muda yang kini berada persis di hadapan saya itu!

Banyaknya permintaan jamaah yang datang kepadanya, membuat ia memberanikan diri untuk meminta izin kepada guru beserta kedua orangtuanya.

“Saya pun akhirnya diizinkan untuk menggunakan HP selama berada di Singapura. Namun setelah saya kembali ke pondok, semua harus kembali sesuai komitmen awal,” tegas Ustad Ulul Azmi.

Ia pun mulai dikenal ketika menggunakan HP dan mulai aktif di akun facebook-nya. Tidak hanya oleh masyarakat disana, tetapi juga dikenal oleh calon bidadari surga yang kini menemani perjuangan beliau di Singapura.

Begitulah skenario Allah untuk setiap hamba-Nya. Urusan jodoh pun, Allah yang atur dengan cara-Nya—tanpa diduga, namun indah pada akhirnya.

Berawal dari permintaan pertemanan dari seorang wanita di Facebook-nya, siapa bisa menebak apa yang terjadi kemudian?

“Saya merasa pernah melihat wanita itu saat iftar di Masjid Al-Mawaddah. Akhirnya saya pun menerima permintaan pertemanan darinya. Tetapi setelah itu, kami tak pernah bertemu langsung ataupun berkomunikasi.”

Ustadz Ulul Azmi menjeda kalimatnya sesaat.

“Setelah bulan Ramadan berakhir, saya harus kembali ke pondok pesantren dan tidak boleh menggunakan HP sama sekali selama disana,” lanjutnya.

Namun, hanya Allah yang mengetahui rahasia setiap makhluk ciptaan-Nya.

Ramadan tahun 2013, saat beliau sudah menjadi seorang hafiz—ia mulai berkhidmat sebagai pengajar di pesantren Ma’had Tahfizul Quran Bidayatul Hidayah—Ustadz Ulul Azmi kembali diundang oleh masjid yang sama di Singapura.

Beliau mengatakan bahwa selalu ada kemudahan yang Allah berikan melalui tangan hamba-Nya yang baik disana. Sampai-sampai, selama beliau beri’tikaf, selalu ada seorang anak yang mengantar makanan untuknya sebelum waktu iftar itu tiba. Namun Anak kecil itu tak pernah mengatakan apapun mengenai identitas pengirimnya.

Bahkan, suatu hari selepas melaksanakan salat tarawih, ada seorang Bapak yang berbaik hati mengundang Ustadz Ulul Azmi untuk makan di rumahnya.

Ia tidak pernah menyangka, bahwa masih ada rahasia lain yang Allah siapkan setalah pertemuan dengan Bapak itu.

Dua bulan setelah kembali ke Indonesia dan mengajar di pondok. Ia kedatangan tamu istimewa dari Singapura.

“Sebelum ke rumah, bapak menyuruh saya datang ke sebuah restoran khas timur tengah ‘Al Hamra Arabian Resto’ di Kota Mataram. Ketika masuk… , saya terkejut!” tegasnya nampak serius.

“…ada seorang bapak serta seorang wanita yang wajahnya sudah tak asing tengah menunggu saya.”

Kini senyum bahagia tergambar jelas di raut wajahnya, saat ia menceritakan bagaimana indahnya takdir Allah sedang memberikan kejutan padanya.

Ternyata, bapak yang dilihatnya adalah seorang bapak yang sudah berbaik hati untuk mengundangnya makan saat ia berada di Singapura. Ia sengaja datang beserta keluarganya ke Lombok dengan tujuan ingin meminang Ustad Ulul Azmi sebagai menantunya.

Bersama bapak itu, seorang wanita tengah duduk di sebelahnya. Dialah Siti Fatimah bte Azman, seorang wanita yang tahun lalu meminta pertemanan kepadanya di facebook. Wanita kelahiran Singapura yang menjadi bidadari dunia pilihan Allah, yang akan mendampingi Ustadz Ulul Azmi mengarungi bahtera kehidupan di bumi-Nya.

Tak peduli seberapa besar ketakutan atau keterbatasan menaungi kehidupan hamba-hamba-Nya, hanya Allah yang berkuasa menyatukan setiap hamba pada akhirnya.

“Waktu itu, saya baru berusia 23 tahun. Saya belum ada persiapan dari segi materi dan tak ada persiapan apapun. Keraguan mulai hadir di dalam hati. Namun ia ‘istri saya sekarang’ menguatkan saya dengan kalimatnya yang indah, ‘Jangan fikirkan itu, nikah saja dahulu!’ katanya.”

Ustad Ulul Azmi kembali tersenyum. Saya pun ikut tersenyum mendengar cerita cintanya yang berakhir indah dalam suratan takdir dari-Nya.

“Saya pun mengingat sebuah judul film, dan keraguan pun lenyap seketika,” ujarnya, “kupinang kau dengan bismillah,” lanjutnya kini penuh keyakinan.

12 April 2014, ijab dan kabul pun terucap. Dua insan yang saling mencintai kini telah bersatu dalam ikatan yang halal nan suci.

Sungguh benar janji Allah di dalam surah Annur ayat 32, “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”

Setelah menikah, Allah mudahkan pintu rejeki untuk Ustadz Ulul Azmi dari arah yang tak terduga. Beliau diamanahkan untuk menjadi seorang imam muda & guru Al-Quran di masjid Al-Mawaddah Singapura hingga tahun 2016.

Beliau beserta istri juga dianugerahkan seorang anak laki-laki yang telah diberi nama Umayr Farouq bin Ulul Azmi Muhammad Siddiq Alpandani.

Beliau pun terus belajar untuk mendalami dan memahami Al-Qur’an dan juga hadis. Ia mendapat sanad hadis dari seorang gurunya di Mekah yang bernama Syekh Mohammad Razi Khan Laiman. Ia juga mendapat Sanad Hadist Musalsal dan Sanad HadisArbain Nawawi dari Dr Ahmad Alim (Pensyarah Universitas Ibn Khaldun Bogor).

Ketika awal tahun 2017, beliau telah dipercaya untuk mengemban tugas lain—menjadi seorang imam di salah satu masjid yang cukup dikenal di Singapura, Masjid Sultan.

Tidak hanya menjadi imam muda, tetapi juga menjadi guru Al-Quran yang mengajar program Al-Quran untuk umum.

Seperti sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Karena keutamaan itulah, ia tak pernah merasa cukup dengan ilmu yang yang dimilikinya. Bahkan sekarang, Ustadz Ulul Azmi sedang menuntut ilmu di Institut Pengajian Tinggi Al-Zuhri pada program Sarjana Muda Pengajian Islam.

Luar biasa!

Semoga setiap pertemuan yang dibingkai dalam cerita-Nya, selalu terselip hikmah yang bisa dijadikan pelajaran hidup bagi kita semua.

Seperti pada kisah hidup Ustadz Ulul Alpandani contohnya. Usia muda bukanlah alasan untuk ‘menolak’ sebuah pernikahan. Sebab janji Allah begitu jelas, Ia yang akan mencukupi setiap hamba yang berusaha menjaga dirinya dalam ikatan yang halal.

Dalam surah Al-Mujadilah ayat 11 dijelaskan, “Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Allah jugalah yang akan mengangkat derajat setiap hamba-Nya yang terpilih karena ilmu yang dimilikinya serta kedekatannya dengan Al-Quran, seperti yang juga terjadi pada imam muda asal Indonesia ini.

“… , dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati, ” papar Ustadz Ulul Azmi sebelum mengakhiri perbincangan, “sungguh benar firman Allah dalam Al-Quran-Nya. Saya tidak pernah menyangka bahwa nasib saya akan seperti ini, juga tidak pernah berfikir akan datang ke negeri mana, termasuk ke Singapura.”

Salah satu penggalan ayat ke-34 dari Surah Luqman yang ia katakan, sesungguhnya juga mewakili perasaan tak percaya atas pertemuan saya dengan beliau. Alhamdulillah.

Semoga sosok beliau yang inspiratif ini tidak hanya dapat menginspirasi saya saja, tetapi juga pemuda muslim lainnya di Indonesia.

Oleh: Erna Nurhasanah
Penulis buku My Travel Diary From Singapore To Malaysia. Tinggal di Jakarta.

Sumber: ummi-online.com

Loading...
loading...
loading...