Wanita yang Baik Untuk Dinikahi Menurut Islam




”Seluruh dunia ini adalah perhiasan dan perhiasan terbaik di dunia ini adalah wanita yang sholehah.” (HR. an-Nasa’I dan Ahmad)

Dalam hadist di atas dijelaskan bahwa wanita yang shalehah adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Perhiasan dunia tentunya mengandung keindahan yang dapat membahagiakan seseorang.

Untuk itu wanita yang sebaik-baiknya adalah wanita shalehah yang memiliki keimanan terhadap Allah SWT, menjalankan ibadah dengan baik, dan menjalankan perintah-perintah Allah lainnya sebagaimana tugas dan fungsi yang harus dijalankan.

”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.” (QS. An Nisaa : 32)

Ayat di atas menjelaskan bahwa wanita pun memiliki kesempatan mendapatkan pahala dan karunia Allah sebagaimana laki-laki. Tidak ada hal yang membedakan kecuali dari apa yang diusahakan oleh wanita itu sendiri.

Namun, yang menjadi perbedaan adalah fungsi dan peran yang dipikul masing-masing. Untuk itu, wanita harus mengetahui apa saja aspek-aspek yang membuat wanita dikatakan baik menurut pandangan islam.

Berikut adalah Wanita yang Baik Dinikahi Menurut Islam:

Memiliki Keimanan terhadap Allah dan Agama

Ketika seorang wanita menunaikan sholat 5 waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan mematuhi suaminya, maka dia akan masuk surga dengan beberapa pintu yang dia inginkan. (HR. Al Bukhari, Al Muwatta’ dan Musnad Imam Ahmad)

Wanita yang baik menurut pandangan Islam hakikatnya adalah mereka yang memiliki keimanan kuat terhadap Allah dan agama. Mereka tidak menawar atau malas dalam menjalankan perintah Allah dan Islam.

Untuk itu, wanita yang baik senantiasa menjalankan perintah agama dengan sebaik-baiknya, baik ibadah yang bersifat sosial atau bersifat individual – ritual hubungan dengan Allah (Habluminaullah)

Wanita yang baik menurut islam tentu akan mensandarkan dirinya hanya kepada Allah bukan pada selain Allah apalagi manusia. Untuk itu wanita tersebut akan mengusahakan dirinya untuk senantiasa taat kepada Allah dengan senantiasa menggali ilmu agama dan ilmu pengetahuan.

Hal ini sebagaimana disampaikan Allah dalam Al-Quran bahwa keimanan terhadap Allah adalah hal yang utama,

“Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu(QS Ath Thalaq : 10)

Memiliki Akhlak atau Kepribadian yang Baik
Wanita yang baik adalah yang mampu mengelola akhlak atau kepribadiannya dengan baik. Wanita yang baik akan senantiasa menjaga emosinya, hawa nafsunya sehingga tidak mudah diperbudak atau digoda oleh setan. Hal ini karena wanita tersebut mampu mengelola dirinya dengan akhlak dan kepribadian yang disukai oleh Allah SWT.

Sejatinya, Akhlak dan Kepribadian yang baik muncul dari keimanan terhadap Allah dan Agama. Akhlak dan kepribadian akan seiring dengan tingkat keimanan seseorang.

Orang-orang yang beriman akan berusaha untuk menjalankan perintah agama termasuk terhadap akhlaknya. Untuk itu, penting keimanan seseorang ditingkatkan untuk meningkatkan akhlaknya pula.

Akhlak yang baik bagi seorang wanita dapat mencontoh dari para sahabat-sahabat wanita nabi, istri nabi, istri para sahabat, dan sebagainya. Mereka dapat dijadikan contoh akhlak karena telah benar-benar tercatat dalam sejarah tentang kisah akhlaknya seperti Aisyah, Khadijah, Zainab, dsb.

Hal ini sebagaimana Allah sampaikan dalam Al-Quran bahwa kisah-kisah terdahulu terdapat pelajaran bagi kaum yang berfikir dan beriman.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman(QS Yusuf : 111)

Memaksimalkan Potensi Akal dan Pengetahuan

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS Az Zumar : 21)

Di dalam Al-Quran terdapat berbagai macam pengetahuan dan informasi, diantaranya sebagaimana ayat di atas :

  • Sains – Ilmu Pengetahuan Alam
  • Kisah Sejarah
  • Kisah Para Nabi dan Sahabat
  • Ilmu Dasar Kehidupan
  • Informasi Masa Depan
  • Informasi Akhirat
  • Dsb

Untuk itu, wanita yang baik harus dapat mempelajari dan mengoptimalkan potensi akalnya untuk mendapatkan pengetahuan tersebut dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Memikul Tanggung Jawab sebagai Khalifah Fil Ard
Aisyah Ra. suatu kali meriwayatkan tentang kebaikan kualitas Zainab Ra., istri ketujuh dari Rosulullah SAW,

Zainab adalah seseorang yang kedudukannya hampir sama kedudukannya denganku dalam pandangan Rasulullah, dan aku belum pernah melihat seorang wanita yang lebih terdepan kesholehannya daripada Zainab Ra., lebih dalam kebaikannya, lebih dalam kebenarannya, lebih dalam pertalian darahnya, lebih dalam kedermawanannya dan pengorbanannya dalam hidup serta mempunyai hati yang lebih lembut, itulah yang menyebabkan ia lebih dekat kepada Allah”.

Dari hadist di atas diketahui bahwa wanita istri rasul dapat dijadikan contoh atau teladan dalam kebaikannya. Untuk itu mereka dapat menjadi wanita bersejarah karena memberikan manfaat dan memberikan perubahan bagi peradaban dunia.

Sejatinya wanita yang baik menurut islam adalah mereka yang mampu memiliki keimanan dan ketaqwaan yang kuat terhadap Allah SWT, berakhlakul karimah, dan menjalankan misi pembangunan masyarakat lewat sektor terkecil minimal yaitu di keluarga.

Sumber: dalamislam.com